Aktivitas Anak Krakatau ‘terus meningkat’, status jadi ‘Siaga,’ hujan abu di beberapa tempat


Hak atas foto
Reuters

Image caption

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau ‘terus meningkat’, status dinaikkan menjadi ‘Siaga’, kata salah seorang pejabat BNPB

Status Gunung Anak Krakatau telah dinaikkan dari Waspada menjadi Siaga mulai Kamis (27/12) pagi, setelah aktivitas vulkaniknya ‘terus meningkat’, kata salah-seorang pejabat BNPB.

Untuk itulah, masyarakat dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari puncak kawah gunung tersebut, demikian rekomendasi PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM.

“Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung, tremor menerus dengan amplitude 8-32 milimeter (dominan 25 milimeter),” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam keterangan tertulis, Kamis (27/12) pagi.

“Dan terdengar dentuman suara letusan,” tambahnya.

Menurut Sutopo, dalam radius lima kilometer tidak ada permukiman warga. Namun demikian, BMKG merekomendasikan, agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di pantai pada radius 500 meter hingga satu kilometer dari pantai.

“Untuk mengantisipasi adanya tsunami susulan,” kata Sutopo, mengutip keterangan BMKG.

‘Letusan disertai awan panas’

Lebih lanjut Sutopo mengungkapkan, saat ini aktivitas letusan ‘masih berlangsung secara menerus’, yaitu berupa ‘letusan Strombolian disertai lontaran lava pijar dan awan panas’.

“Awan panas ini yang mengakibatkan adanya hujan abu. Dominan angin mengarah ke barat daya sehingga abu vulkanik menyebar ke barat daya ke laut,” jelasnya.

Hak atas foto
Reuters

Image caption

Foto Anak Krakatau pada 23 Desember 2018.

Menurutnya, adanya beberapa lapisan angin pada ketinggiaan tertentu mengarah ke timur menyebabkan hujan abu vulkanik tipis jatuh di Kota Cilegon dan sebagian Serang pada 26/12/2018 sekitar pukul 17.15 WIB.

“Ini tidak berbahaya. Abu vulkanik justru menyuburkan tanah. Masyarakat agar mengantisipasi menggunakan masker dan kacamata saat beraktivitas di luar saat hujan abu,” tegas Sutopo.

Sejak kapan meletus?

Sutopo mengatakan, berdasarkan data PVMBG, Gunung Anak Krakatau ‘aktif kembali’ dan memasuki ‘fase erupsi’ mulai Juli 2018.

“Erupsi selanjutnya berupa letusan-letusan Strombolian yaitu letusan yang disertai lontaran lava pijar dan aliran lava pijar yang dominan mengarah ke tenggara,” ujarnya. “Erupsi yang berlangsung fluktuatif,” tambahnya.

Menurutnya, pada Sabtu (22/12) terjadi erupsi, namun tercatat skala kecil, jika dibandingkan dengan erupsi periode September-Oktober 2018.

Tetapi, “Hasil analisis citra satelit diketahui lereng barat-barat daya, longsor (flank collapse). Dan longsoran masuk ke laut. Inilah kemungkinan yang memicu terjadinya tsunami,” jelasnya.

Lubang kawah membesar

Dan sejak Sabtu (22/12), menurutnya, adaa letusan tipe Surtseyan yaitu “alira lava atau magma yang keluar kontak langsung dengan air laut”.

“Hal ini berarti debit volume magma yang dikeluarkan meningkat dan lubang kawah membesar,” paparnya.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Foto dari udara Gunung Anak Krakatau terlihat seperti pulau kecil.

“Kemungkinan terdapat lubang kawah baru yang dekat dengan ketinggian air laut. Sejak itulah letusan berlangsung tanpa jeda. Gelegar suara letusan terdengar beberapa kali per menit”.

Dia melanjutkan, saat ini aktivitas letusan masih berlangsung secara menerus, yaitu berupa letusan Strombolian disertai lontaran lava pijar dan awan panas.

Masyarakat diminta tenang

Dalam keterangannya, Sutopo meminta masyarakat tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaannya.

“Gunakan selalu informasi dari PVMBG untuk peringatan dini gunungapi dan BMKG terkait peringatan dini tsunami selaku institusi yang resmi,” ujarnya.

“Jangan percaya dari informasi yang menyesatkan yang sumbernya tidak dapat dipertanggungjawabkan,” katanya lagi.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Gunung Anak Krakatau dalam foto yang diambil Juli 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *