Bisnis penginapan dari kunjungan singkat para pejalan hemat

Image caption Gaya penginapan asrama di Kamar-kamar untuk para turis backpacker.

Dengan kemacetannya, Jakarta mungkin bukan tujuan menarik bagi para turis asing yang datang ke Indonesia, namun tren kemunculan penginapan murah bagi backpacker atau backpacker hostel dengan desain modern dan menarik khas anak muda dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa ada peluang bisnis dari kebutuhan menginap bagi turis backpacker di ibu kota.

Salah satu hostel bagi backpacker di Jakarta adalah Kamar-kamar di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan.

Sekitar 40-an kasur yang mereka tawarkan dijual mulai harga Rp150 ribu.

Memang yang ditawarkan kasur, karena seperti halnya hostel backpacker di kota-kota tujuan wisata dunia, hostel backpacker menawarkan model penginapan individu di tempat tidur tingkat.

Hostel Kamar-kamar mulai berdiri pada 2010 karena pemiliknya, menurut manajer hostel Ferdinand, sering bepergian ke Singapura dan London, dan melihat belum ada hostel yang serupa di Jakarta seperti di kota-kota itu.

Budget hostel itu kan segmentasinya beda. Di Jakarta ini kan ibu kota, tempat wisatanya juga masih ada, tapi itu dia, satu dua hari, selesai. Dari pagi sampai malam mereka di luar, kembali ke sini, tinggal mandi, dan tidur. Buat apa fasilitas? Karena mereka tidak akan menikmati,” kata Ferdinand.

Selain itu, menurut Ferdinand lagi, harga bukan satu-satunya pertimbangan para tamu mereka memilih tinggal di hostel.

Susunan tempat tidur tingkat yang terbuka dan seperti di asrama itu memungkinkan tamu untuk bertukar informasi tentang berbagai tempat tujuan yang ada di Indonesia. Faktor inilah yang membuat mereka sengaja memilih tingal di penginapan model hostel daripada hotel yang tertutup dan privat.

Karena Kamar-kamar termasuk cukup awal berdiri dibanding hostel lain, maka mereka sering mendapat tamu-tamu asing meski lokasi mereka di Fatmawati, Jakarta Selatan, cukup jauh dari pusat keramaian atau tujuan wisata di Jakarta, seperti berbagai museum, kawasan Monas, dan Kota Tua.

Pada masa musim liburan antara Juni-Agustus, Kamar-kamar bisa mendapat Rp1 juta-Rp1,5 juta per hari dari 36 kasur di ‘asrama’ yang menjadi tempat tamu menginap.

Image caption Tempat tidur model pod atau kapsul menjadi tren desain hostel backpacker modern.

Namun, menurut Ferdinand, pemasukan atau tingkat hunian seperti itu kini sulit dicapai lagi oleh Kamar-kamar.

Selain karena proyek pembangunan MRT yang membuat jalanan di depan penginapan menjadi macet, Ferdinand menilai kemunculan hostel-hostel backpacker baru dalam beberapa tahun terakhir di lokasi di tengah kota atau yang lebih dekat dengan bandara menjadi saingan bagi hostel mereka mereka.

Salah satu hostel backpacker modern yang baru berdiri dan berada di lokasi dekat dengan tujuan wisata adalah Teduh Hostel, yang berada di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.

Hostelnya terletak di deretan ruko, di antara gudang dan kantor-kantor tua. Tapi begitu memasuki hostel, riuh rendah bongkar muat di luar tak terdengar lagi, berganti dengan musik electro pop dan indie pop khas anak-anak muda.

Bambu menjadi salah satu pilihan elemen interiornya. Di dapurnya, tamu bebas mengambil sereal atau membuat teh dan kopi mereka sendiri. Sesudahnya, mereka harus mencuci sendiri alat makan yang mereka pakai.

Meski tetap menggunakan prinsip tempat tidur tingkat, namun sesuai tren hostel backpacker modern, Teduh memilih kasur model pod atau kapsul, sehingga tamu tetap bisa menjaga privasi karena berada dalam ‘kepompong’.

Setiap kapsul atau ‘kepompong’ dilengkapi dengan colokan listrik dan lampu.

Steven Haurissa, salah satu pemilik Teduh Hostel, mengatakan bahwa keluarganya memang menjalani bisnis hotel dan membangun resort, baik di dalam maupun luar negeri.

Image caption Di area dapur, tamu bisa mengambil makanan dan membuat teh atau kopi sendiri, tapi harus mencuci sendiri semua alat makan yang dipakainya.

Namun, dia merasa bosan dengan hotel yang sifatnya formal dan sangat melayani tamu.

“Interaksi antara satu sama lainnya kurang akrab. Di sini semua orang hampir sama, satu level, kita ngomong mata ke mata dan formalitasnya tidak terlalu banyak. Pada dasarnya di sini lebih informal,” kata Steven.

Memang, Steven mengakui, bahwa turis asing yang datang ke Jakarta akan selalu kalah jika dibandingkan dengan mereka yang berkunjung ke tujuan-tujuan lain di Indonesia, seperti Bali atau Yogyakarta, meski begitu dari sisi jumlah penerbangan yang masuk ke Indonesia setiap harinya yang sebagian besar melalui Jakarta, Steven melihat ada peluang bisnis.

“Sebenarnya pasarnya hanya akan segitu-segitu saja, tapi kita sadar bahwa masih ada demand untuk hostel backpacker,” kata Steven.

Tingkat hunian Teduh Hostel sejak berdiri pada 2014 kini berada di kisaran 70-90 persen dari 22 kasur yang dimilikinya.

Dengan harga per kasur yang naik turun antara Rp100 ribu-Rp140 ribu per orang, maka omzet Teduh Hsotel per bulan, menurut Steven antara Rp50 juta-Rp100 juta per bulan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *