‘Colette’ dan Keira Knightley: seradikal apa film biopik ini?

ColetteHak atas foto Number 9 Films

Keira Knightley berperan sebagai Colette, seorang penulis pendobrak tabu. Apakah film ini bisa menyamai kecemerlangan subyeknya?

Dia memang lahir pada akhir abad 19, tapi Sidonie-Gabrielle Colette adalah seorang pahlawan bagi masa ini: seorang perempuan kreatif yang tidak takut untuk menentang patriarki di masyarakat Paris, di tengah kelompok artistik yang seharusnya liberal, dan juga melakukan penentangan di kamar tidurnya sendiri.

Mungkin bisa dibilang bahwa dia juga ikut berjuang untuk prinsip-prinsip #MeToo dan #TimesUp. Dan jika ada yang mencari seseorang untuk menciptakan tagar-tagar itu ratusan tahun sebelum waktunya, mungkin dialah orang itu.

Biopik terbaru Colette yang mewah dan relevan dengan masa sekarang sayangnya tak seberani sosoknya, namun film ini bisa meraih beberapa pengagum baru, dan mungkin satu atau dua pemainnya akan memenangkan penghargaan.

Sutradara dan salah satu penulisnya, Wash Westmoreland, membuat Still Alice, drama alzheimer yang membuat Julianne Moore memenangkan penghargaan aktris terbaik Oscar pada 2015.

Mungkin berharap untuk mendapat pengakuan yang sama, Keira Knightley tampil penuh semangat dan energi sebagai Gabrielle, seorang gadis desa yang dibawa dari pedesaan Burgundy menuju teater dan salon-salon Paris yang mewah dan penuh lampu gantung oleh seorang pria yang lebih tua dan mempunyai wawasan kebudayaan, Henry Gauthier-Villars (Dominic West, dengan jenggot dan kumis yang membuatnya tampak jahat).

Hak atas foto Number 9 Films

Teman-temannya yang merupakan bagian dari kelas atas tak percaya bahwa seseorang yang keras kepala dan sering bergaul di tempat-tempat populer di Paris akhirnya siap menikah, dan dengan gadis desa pula, tapi pernikahan tak menghentikan perselingkuhan sang suami.

Dan saat Gabrielle menemukan Henry dengan perempuan simpanannya, Henry menyatakan bahwa dia melakukan apa yang dilakukan semua pria; meski semua karakternya berbicara bahasa Inggris dengan aksen Inggris, tak ada yang meragukan bahwa mereka orang Prancis.

Kehidupan profesional Gauthier-Villars sama tak biasanya dengan kehidupan pribadinya. Dia adalah seorang penulis yang dikenal dengan nama panggilan “Willy” tapi dia tak banyak menulis.

Dia seperti James Patterson, punya gaya penulisan tersendiri, dan kini membayar orang lain (atau setidaknya berjanji untuk membayar mereka) yang bisa menulis artikel dan resensi untuknya.

Saat dia memutuskan untuk menulis novel, dia memaksa Gabrielle untuk menulis novel semi-autobiografis tentang hari-harinya di sekolah, lalu menyunting dan menempelkan namanya sendiri di sampul buku.

Setelah novel Claudine At School laku terjual, Willy kemudian mengeksploitasi Gabrielle dengan dua cara yang berlawanan. Dia menyebut Gabrielle sebagai “Claudine yang sebenarnya” sehingga orang-orang di Paris yakin bahwa tak ada perbedaan antara dia dan karakter fiksinya; tapi dia juga mengaku bahwa dialah yang menulis buku itu.

Dalam situasi itu, dia bisa saja digambarkan sebagai seorang penjahat, tapi Willy begitu berani dalam perilakunya sampai-sampai para penonton tak bisa tak memaafkannya.

Penampilan West yang penuh antusiasme dan nyaris seperti badut adalah faktor besar di sini: dia tampaknya mengikuti penampilan Oliver Reed yang paling ceria. Selain itu, Willy tak benar-benar jahat.

Dengan mengunci istrinya di kamar dan memaksanya menulis, dia membuka bakat menulisnya. Dan dengan tidur dengan perempuan lain, dia juga mengajari bahwa Gabrielle bisa juga tidur dengan perempuan lain.

Film ini menggambarkan sebuah potret pernikahan tak biasa dengan penuh nuansa, di mana cinta dan rasa hormat bisa tetap terjaga betapapun terlukanya akan kecemburuan dan pengkhianatan.

Meski begitu, tiba waktunya saat Gabrielle harus menempuh jalannya sendiri, bukan hanya dengan melepaskan diri dari suaminya yang suka mengendalikan, tapi dengan memberi tahu dunia bahwa dialah pencipta Claudine yang sebenarnya. Atau, dia harus membuktikan bahwa seorang perempuan tak membutuhkan Willy untuk jadi sukses.

Beberapa dekade kemudian, Gabrielle dengan niatnya yang kuat terasa sebagai sosok modern, dan fokus film ini pada modernitaslah yang membuatnya menjadi unik: abad yang baru penuh dengan ide-ide baru, dan kita terus mendengar soal selebritas di media massa, pengaburan identitas gender, kegilaan pada kebugaran fisik dan tarian yang terinspirasi dari timur, serta datangnya lampu listrik dan Paris di akhir abad. Meski banyak bercerita, film ini tak punya modernitas yang mengagumkan itu.

Hak atas foto Number 9 Films

Kadang modernitas itu muncul dalam satu adegan komedi saat Willy dan Colette sama-sama menjalin kisah percintaan dengan pewaris kaya Amerika yang sama (Eleanor Tomlinson), dan saat Claudine-mania menjalar di Paris yang memunculkan tren mode dan mendorong penjualan merchandise seperti saat kemunculan Harry Potter.

Meski begitu, Colette tak sehidup dan semenarik Moulin Rouge karya Baz Luhrmann yang bisa membawa lingkungan Belle Epoque yang sama, dan seperti The Favourite, drama kostum tentang percintaan sesama jenis yang mendobrak aturan, karya sutradara Yorgos Lanthimos dan akan dirilis juga tahun ini.

Film Westmoreland adalah sebuah gambar yang indah dari satu episode ke episode lain, dengan penampilan yang hidup, gaun yang cantik, pemandangan yang menenangkan, dan skor orkestra, tapi tak pernah menemukan bentuk atau gayanya sendiri. Film ini terlihat seperti seri televisi yang mahal dan terasa seperti sebuah halaman Wikipedia.

Sayang, film Colette ini tak seradikal subyek yang diceritakannya. Namun mungkin gayanya yang datar dan tak menantang ini akan menarik penonton yang lebih luas akan gaya Colette dalam mendobrak tabu — dan ada sesuatu yang radikal di situ.

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini di Colette film review: How radical is the new biopic? di laman BBC Culture

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *