Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald, pencapaian atau membuang waktu?


Hak atas foto
Warner Bros

Sekuel dari Fantastic Beasts and Where to Find Them ini adalah sebuah pencapaian, menurut Nicholas Barber, tapi juga merupakan ‘sebuah film besar yang tanpa rasa dan seolah tanpa akhir’.

Buku-buku JK Rowling telah menghasilkan miliaran poundsterling, dan film-filmnya menghasilkan lebih banyak uang lagi. Mengingat hal itu, tentu butuh keberanian untuk membaca naskah filmnya dan mengatakan, ‘bisakah Anda mengurangi 50 halaman?’.

Film terbaru dari seri Wizarding World-nya, Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald, akan jadi lebih baik jika seseorang berani mengatakan itu padanya.

Sekuel dari film keluaran 2016, Fantastic Beasts and Where to Find Them —atau, tergantung dari mana Anda melihatnya, bisa juga disebut prekuel dari seri Harry Potter — penuh dengan imajinasi dan teknik sihir.

Efek digital yang modern memungkinkan setiap prop untuk bergerak dan bermetamorfosis dengan keanggunan pebalet. Desain produksi Stuart Craig adalah sebuah survei yang mengagumkan dari berbagai gaya arsitektur, dan gaun-gaunnya begitu indah sampai-sampai mereka terlihat lebih bagus daripada naga dan elf. Buku pendamping berisi foto dan sketsa pasti akan kita nikmati.

Dan filmnya sendiri, yang disutradarai oleh David Yates, juga sutradara film-film Potter lain, adalah sebuah pencapaian besar. Tapi film ini juga tidak fokus, berlebihan, dan pada akhirnya menjadi sebuah film besar yang seolah tanpa akhir.

Yang lebih parah lagi, Fantastic Beasts punya suasana yang sama gelapnya seperti waralaba film laga blockbuster, film-film superhero DC. Katalog gelap akan kematian, kehancuran, dan keputusasaan, dengan palet warna dari abu-abu sampai hitam.

Warna-warna yang kelam ini langsung muncul di adegan pembuka, saat kita bertemu dengan Grindelwald (Johnny Depp) yang jahat, sosok proto-Voldemort yang ingin agar para penyihir berkuasa dan memerintah manusia.

Grindelwald dipenjara di Kementerian Sihir Amerika di New York pada 1927, setelah kejadian pada film sebelumnya. Tapi dia akan dipindahkan dari satu sel berpenjagaan ketat ke sel lainnya di kota yang berbeda. Dan siapapun yang sudah pernah menonton film horor atau gangster akan tahu, bahwa 100 persen pasti akan ada adegan tahanan kabur dalam perjalanan. Tentu saja dia melakukannya.

Dalam adegan menegangkan dan memicu vertigo yang diambil dari udara dan dilatari gelegar petir dan musik orkestra yang menderu, Grindelwald membunuh penjaganya — dan di sini terasa lebih seperti film horor daripada film anak-anak — dan dia kabur ke gelapnya malam.

Anehnya, untuk film dengan subjudul The Crimes of Grindelwald, hanya itulah kejahatan Grindelwald yang muncul di layar.

Johnny Depp memerankan Grindelwald sebagai sosok yang pucat seperti mayat dengan rambut ala Johnny Rotten, dia terlihat mengerikan dan seperti vampir, tapi tak banyak yang dilakukannya, selain hanya menggumam tentang perang yang mungkin pecah antara penyihir dan manusia. Dan karena perang ini tak pernah disebut di salah satu novel Harry Potter, kita tahu bahwa perang ini tidak akan terjadi.

Meski begitu, tetap saja, kaburnya Grindelwald dari New York ke Paris sudah cukup untuk mendorong karakter-karakter lain datang ke Prancis. Utamanya, ada Newt Scamander (Eddie Redmayne), seorang pria yang sangat pemalu sampai-sampai dia menggumamkan dialognya ke kerah jaket Sherlock Holmes-nya.

Newt kembali ke Kementerian Sihir di London setelah petualangannya di New York pada film sebelumnya. Di Kementerian itu, saudara laki-lakinya, Theseus (Callum Turner) bekerja sebagai Auror (seorang detektif penyihir). Di situ, Newt diminta untuk pergi ke Paris dan menemukan Credence Barebone (Ezra Miller) yang sangat kuat dan berbahaya, karakter yang mirip seperti Kylo Ren di film Star Wars terbaru, bimbang antara dua kekuatan baik dan jahat pada Force.

Newt memilih untuk tidak menerima misi ini. Menurutnya, dia lebih memilih untuk merawat flora dan fauna ajaibnya — termasuk, tauge peliharaannya yang mirip Baby Groot. Tapi kemudian ada orang lain yang memintanya ke Paris — secara spesifik, guru favoritnya di Hogwarts, Albus Dumbledore (Jude Law).

Di sebuah film yang sama gelapnya seperti dokumenter tentang deforestasi di Amazon, Dumbledore yang diperankan Law menjadi sebuah angin segar: senyumnya yang ramah dan seperti seorang paman menghidupkan film ini. Saat dia diperlihatkan tengah mengajar di Hogwarts, warna rumput hijau yang mengelilingi sekolah menjadi sebuah kontras pada skema warna keseluruhan film yang seperti isi keranjang cucian seorang goth.

Dumbledore juga memberikan misteri paling besar di film ini: kapan dia berubah dari seorang pria perlente dengan setelan tiga potong, seperti yang dilakukannya pada 1920an, menjadi seorang hippie dengan jubah melambai di lantai, seperti yang dikenakan oleh aktor Richard Harris dan Michael Gambon, pada hari-hari saat Harry Potter bersekolah?

Hak atas foto
Warner Brothers

Image caption

Dumbledore sebagai pria parlente dengan setelan tiga potong, yang diperankan Jude Law

Berapa usianya saat dia melihat dirinya sendiri di cermin pada suatu pagi dan mengatakan, “Sudahlah, saya kepala sekolah, jika saya ingin bekerja dengan gaun dan topi tidur, siapa yang akan menghentikan saya?”

Tapi…kembali ke Newt. Sebagai salah satu contoh bagaimana Rowling berkeras untuk menjadikan setiap elemen naratif menjadi semakin kacau, Newt menolak permintaan Dumbledore untuk pergi ke Paris, sama seperti saat dia menolak permintaan Kementerian untuk pergi ke Paris.

Sampai kemudian dia bertemu dengan sobatnya dari film sebelumnya, Jacob (Dan Fogler yang tampil menyenangkan) dan Queenie (Alison Sudol, menirukan Marilyn Monroe), Newt tiba-tiba punya ide cemerlang: dia akan pergi ke Paris.

Dia bukan satu-satunya. Tina (Katherine Waterston), Auror dan mantan kekasih Newt, juga datang dan berteleportasi menyeberangi Selat Inggris; selain juga teman sekolahnya Leta Lestrange (Zoe Kravitz); seorang perempuan yang bisa berubah menjadi ular (Claudia Kim); dan banyak lagi.

Saat Anda merasa sudah bisa mengetahui semua pemeran di film ini, Fantastic Beasts akan mengenalkan karakter-karakter baru ke penonton, dan kemudian kilas balik ke kehidupan para karakter itu.

Ini adalah film dengan 15 subplot, tapi tak ada plot yang jelas. Seiring dengan perpindahan film dari Paris ke Hogwarts, dari masa kini ke masa lalu, film ini mengabaikan karakter utamanya selama 10 menit, dan saat film kembali ke para tokoh utama — biasanya mereka sedang berdiri di atap — sulit untuk mengingat di mana mereka saat Anda terakhir kali melihatnya. Momentum film itu tak pernah terangkat.

Kemudian, tikus tanah dengan paruh bebek peliharaan Newt (atau entah makhluk apa itu) melakukan sesuatu yang unik, tapi selain itu tak ada lagi strategi yang tajam atau aksi yang heroik.

Semua orang hanya membuang-buang waktu. Dan tak ada resolusi apa-apa: karena masih ada tiga film lagi dalam seri ini — dan mengetahui betapa tanpa batasnya kreativitas Rowling, mungkin ada lima film seri lagi yang mengikutinya.

Sementara itu, Potterhead garis keras akan menikmati cara-cara Rowling menghubungkan Fantastic Beasts dan seri Harry Potter.

Ada banyak referensi ke karakter atau dinasti yang familiar, jika itu yang Anda cari. Tapi jika Anda bukan penggemar obsesif dan Anda tidak tertarik dengan berbagai catatan kaki ini, Anda pasti ingin tahu kenapa film keluarga tentang penyihir ini tak mampu menghasilkan banyak senyuman.


Anda bisa membaca versi asli tulisan ini dalam Bahasa Inggris di Film review: Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald di laman BBC Culture

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *