Gempa, tsunami, ‘lumpur hisap’: Rangkaian kejadian di Palu yang harus Anda tahu

Sejak gempa dan tsunami melanda Palu dan daerah sekitarnya di Sulawesi Tengah pada 28 September lalu, lebih dari 2.000 jenazah telah ditemukan. Namun, jumlah pasti korban meninggal dunia amat mungkin tidak akan diketahui mengingat sejumlah daerah permukiman tersapu tsunami dan likuifaksi sehingga mengubur banyak orang. Inilah rangkaian kejadiannya.

Artikel ini memuat elemen-elemen interaktif. Jika Anda kesulitan melihatnya, mohon klik tautan ini.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Para penyintas di Kelurahan Petobo mengais-ngais puing untuk mencari kerabat dan harta benda mereka.

28 September, malam

Sebagian penduduk sedang sibuk mempersiapkan festival di pantai untuk merayakan hari ulang tahun Kota Palu. Lapak-lapak pedagang sudah berjajar di sepanjang pantai, siap menjual beragam penganan, mulai dari camilan gorengan hingga mi. Di antara mereka adalah putri Irma yang menitipkan anak-anaknya ke sang nenek sehingga dia bisa menikmati perayaan malam itu.

Matahari mulai tenggelam sehingga teriknya perlahan pudar, berganti dengan sejuknya malam.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Jembatan Ponulele, yang dipotret pada Juni lalu, merupakan salah satu tempat wisata warga setempat maupun turis di Kota Palu.

Sekitar 16 kilometer sebelah selatan dari pesisir Kota Palu, para remaja dari sekolah menengah atas asal Kecamatan Sigi Biromaru sedang berada di Gereja Jono Oge untuk mengikuti kajian Alkitab.

Rencananya malam itu mereka akan bersantap bersama, mengadakan permaianan kelompok, dan menonton film sebelum pergi tidur.

Di Kelurahan Petobo, Ersa Fiona yang berusia 21 bulan sedang bermain dengan kakaknya, Chandra Irawan, 11, sementara sang ibu sedang sibuk mengurus adik mereka yang paling kecil.

Hak atas foto Getty Images

Gempa mengguncang

Pada pukul 18.02 WITA, bencana terjadi. Tanah yang mereka injak tiba-tiba berguncang kuat, jalan-jalan terbelah seperti ombak, dan bangunan-bangunan ambruk.

Gempa berkekuatan 7,4 pada skala Richter telah melanda Palu di Sulawesi Tengah. Gempa ini bukanlah yang pertama, tapi inilah yang terkuat.

Di Kelurahan Petobo, tempat Ersa Fiona sedang bermain, tanah seketika berubah seperti lumpur hisap. Kakaknya, Chandra Irawan, menarik tangannya dan mereka langsung berlari.

Citra satelit ©2018 DigitalGlobe, a Maxar company.

Di kawasan lain, sejumlah penyintas mengatakan mereka dikejar gelombang lumpur yang melahap bangunan dan menyeret manusia ke dalamnya.

Gereja tempat lebih dari 80 pelajar sedang mengikuti kajian Alkitab, bergerak sejauh 2 kilometer dari tempat asalnya.

18.05 WITA

Lima menit kemudian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan tsunami. Lembaga itu mewanti-wanti gelombang laut akan mencapai 0,5 sampai tiga meter. Antara tiga hingga enam menit berikutnya Kota Palu diterjang ombak setinggi enam meter.

Masyarakat setempat hanya punya waktu 10 menit, dari saat gempa mengguncang sampai tsunami menerpa, untuk melarikan diri ke tempat tinggi.

Tatkala Nur menyaksikan gelombang tinggi menunju rumahnya di pesisir, dia menarik dua anaknya dan berlari.

“Kami lari menyelamatkan diri, gelombangnya mengejar kami. Kami dan gelombang seperti balapan. Saya tidak pakai sepatu dan kaki saya berdarah-darah.”

Gempa tersebut ternyata juga merusak jaringan listrik dan komunikasi. Itu artinya banyak orang, termasuk Nur, tidak menerima peringatan tsunami.

Hak atas foto Getty Images

Indonesia sebenarnya punya sistem deteksini dini tsunami, namun “sangat terbatas”.

Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, mengatakan kepada BBC News Indonesia bahwa dari 170 sensor gempa yang dimiliki BMKG, anggaran pemeliharaan hanya ada untuk 70 sensor.

Bahkan, perangkat pemantau ombak terdekat dengan Palu, yang mendeteksi tsunami ini, berada sejauh 200 kilometer. Dan perangkat itu hanya bisa mendeteksi kenaikan ombak setinggi 6cm, yang saat itu dinilai “tidak signifikan”.

Apa yang menyebabkan gempa?

Gempa disebabkan oleh lempengan bumi yang saling bertumbukan satu sama lain. Ini terjadi secara konstan, namun kadang tumbukannya cukup besar dan relatif dekat dengan area padat penduduk sehingga menimbulkan konsekuensi parah.

Gempa yang melanda Indonesia dari tahun 1990-2018

Klik untuk melihat

Peta menampilkan gempa berkekuatan lebih dari enam magnitudo di Indonesia dari tahun 1990 sampai 2018.
Catatan: Menggunakan skala magnitudo.
Sumber: USGS (Data 1 Okt 2018; hanya menampilkan gempa lebih dari 6 magnitudo).

Pada 28 September di Palu, getaran-getaran kecil terjadi sepanjang hari, namun gempa 7,4 pada skala Richter berlangsung saat Patahan Palu Koro yang melintasi Kota Palu, bergeser sekitar 10 kilometer di bawah permukaan tanah.

Sejak saat itu, ada sedikitnya 500 gempa susulan di Palu, yang sebagian besar di antaranya tidak dirasakan warga. Wilayah Indonesia sangat berpotensi terjadi gempa bumi karena posisinya yang berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia, yaitu Eurasia, Indoaustralia dan Pasifik.

Selain berada di antara lempeng-lempeng utama dunia, posisi Indonesia terletak di Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) yaitu daerah ‘tapal kuda’ sepanjang 40.000 km yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik.

Sekitar 90% dari gempa bumi yang terjadi dan 81% dari gempa bumi terbesar terjadi di sepanjang Cincin Api ini.

Apa yang menyebabkan tsunami?

Bagaimana bisa kenaikan permukaan laut setinggi 6cm, yang dideteksi BMKG setelah gempa, bisa membentuk gelombang setinggi 6 meter? Itu karena bentuk Teluk Palu.

Wujudnya yang panjang dan menyempit menyebabkan kecepatan dan tinggi gelombang semakin bertambah saat menuju Kota Palu.

Saat pertama menerjang, tsunami merontokkan Jembatan Ponulele yang menghubungkan Palu Timur dan Palu Barat. Mengambil nama mantan Gubernur Sulawesi Tengah, Aminuddin Ponulele, jembatan kuning itu merupakan ikon Kota Palu. Kini, sebagian jembatan tersebut roboh dan tenggelam.

Hak atas foto Getty Images

Gelombang tsunami menerjang bagian ujung Teluk Palu, kawasan yang paling banyak dihuni penduduk di Kota Palu dan seluruh Sulawesi Tengah.

Berdasarkan data statistik Pemkot Palu, ada 374.000 yang tercatat bermukim di kota tersebut pada 2016.

Hak atas foto Satellite image ©2018 DigitalGlobe, a Maxar compan
Image caption Peta satelit Kota Palu setelah gempa mengguncang

Tayangan video yang diambil dari Palu Grand Mall menggunakan sebuah telepon seluler, memperlihatkan air di tepi pantai surut beberapa meter menuju lautan lepas. Beberapa menit kemudian, air keruh mengelilingi kawasan tersebut seraya menyeret mobil dan pohon. Video di bawah didapat dari juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho.

Gelombang tsunami juga melahap seluruh desa-desa nelayan serta sebagian besar infrastruktur.

Saat artikel ini ditulis, jumlah korban meninggal dunia mencapai 2.073 orang. Kebanyakan meninggal akibat tsunami, menurut BNPB.

Selain itu, sebanyak 10.679 orang cedera, 680 orang hilang, dan 82.775 menjadi pengungsi.

Tidak ada korban yang ditemukan dalam keadaan hidup sejak pencarian memasuki hari ketiga.

Apa yang menyebabkan tanah menjadi cair?

Setelah gempa dan tsunami melanda, ada fenomena lain yang terjadi, yaitu likuifaksi.

Likuifaksi berlangsung pada tanah berpasir yang mudah terendam air, seperti tanah di Kota Palu yang dekat dengan laut.

Guncangan yang ditimbulkan gempa menyebabkan tanah kehilangan ikatan sehingga melarut seperti air dan mengalir, membawa bangunan dan kendaraan di atasnya ikut serta.

Animation showing liquefaction process.

Di perumahan Balaroa, Kota Palu, sekitar 1.700 rumah tertelan bumi setelah gempa menyebabkan tanah menjadi cair, sebut Badan SAR Nasional. Ratusan hingga ribuan oran diyakini terkubur.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, mengatakan likuifaksi menyebabkan banyak orang meninggal dunia. Fenomena ini, menurutnya, terjadi di sebuah perumahan yang menampung 1.333 rumah.

Muzair, 34, mengaku rumahnya hanyut dan bergeser beberapa meter ke jalan. “Rumah-rumah tetangga saya menumpuk satu sama lain,” katanya.

Hak atas foto Antara Foto/Irwansyah Putra/Reuters
Image caption Likuifaksi menyebabkan kerusakan parah setelah gempa mengguncang Palu.

Siapa yang membantu Indonesia?

Ketika bencana terjadi, pemerintah Indonesia tidak serta-merta menerima bantuan asing. Namun, Presiden Joko Widodo akhirnya memutuskan menerima bantuan internasional beberapa hari kemudian, setelah skala kerusakan di Sulawesi Tengah lebih jelas.

Ada sejumlah negara yang menawarkan bantuan dalam bentuk uang tunai maupun barang. Secara kolektif, Inggris, Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru, berikrar memberikan US$20,8 juta, menurut Departemen Luar Negeri Australia pada 10 Oktober

Hak atas foto Getty Images
Image caption Berbagai bangunan di Palu menderita kerusakan, termasuk sebuah masjid.

Menyalurkan bantuan pokok ke daerah terdampak bencana terbukti menjadi tantangan lantaran penerbangan ke Kota Palu amat terbatas, mengingat sebagian landasan Bandara Mutiara Sis Al-Jufri rusak.

Hal ini membuat para relawan dan pekerja kemanusiaan harus mencapai Kota Palu melalui jalur darat yang melelahkan. Bahkan, akses ke Donggala terputus sehingga bantuan baru bisa disalurkan beberapa hari setelah bencana menggunakan helikopter.

Selang beberapa hari kemudian, di tengah aksi kemanusiaan sedang berlangsung, pemerintah Indonesia merilis aturan yang menyebutkan bahwa “bagi NGO asing yang sudah telanjur menerjunkan relawannya tetapi tidak memiliki izin, diimbau untuk menarik relawan dari wilayah terdampak bencana”.

Pengumuman itu memicu keprihatinan bahwa kemampuan NGO dalam menyalurkan bantuan kini terhambat.

Bagaimanapun, juru bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, berkeras LSM internasional harus tetap mengikuti prosedur yaitu melapor terlebih dahulu melalui Kementerian Luar Negeri.

“Tidak ada ruginya (relawan berdatangan), asal sesuai dengan persyaratan. Apa sih susahnya lapor? Izin?” kata Juru Bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dengan suara meninggi dalam jumpa pers di Graha BNPB Jakarta, Kamis (11/10).

Hak atas foto Getty Images
Image caption Seorang serdadu Indonesia dan pekerja kemanusiaan dari Selandia Baru menurunkan bantuan untuk warga Palu dan sekitarnya.

Secara terpisah, Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan keputusan melarang lembaga asing terjun langsung ke kawasan bencana di Palu dan Donggala tidak dimaksudkan untuk mencegah masuknya bantuan dan relawan.

“Akan tetapi untuk memastikan bahwa mereka terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan lembaga terkait di Indonesia yang memimpin upaya penyelamatan dan pemulihan,” kata juru bicara Kemenlu Indonesia, Arrmanatha Nasir kepada BBC News Indonesia.

Menurutnya, koordinasi seperti itu sangatlah penting, sehingga nantinya dapat dipastikan kehadiran ormas dan relawan asing itu tidak justru menghambat upaya penyelamatan dan pemulihan.

Masih menjadi tanda tanya

Di seantero Kota Palu, sejumlah warga masih mencari kerabat mereka. Kebanyakan mungkin tidak akan tahu apa yang terjadi pada mereka. Tak ada pula pusara yang bisa dikunjungi.

“Kami telah mencari siang-malam,” kata Irma, yang putrinya mendatangi acara perayaan di pantai ketika tsunami menerjang.

“Dia belum pulang, kapan dia akan pulang?” lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.

Image caption Priska Dwi Cecilia Santoso, 15, belum diketahui keberadaannya. Dia menghadiri kajian Alkitab di Gereja Jono Oge saat gempa berlangsung.

Setelah mengais-ngais lumpur selama berhari-hari, jasad ibunda Ersa Fiona ditemukan dalam keadaan sedang memeluk bayinya—adik Ersa Fiona.

“Setelah menyuruh anak-anak yang lebih tua untuk berlari, dia mungkin kembali ke rumah untuk mengambil sesuatu. Kami bersyukur bisa menemukannya dan menguburkannya di pemakaman keluarga, sementara banyak orang ditempatkan di kuburan massal,” kata Sudarmin, salah seorang kerabat.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

“Mana mama godeku?”: Kisah Fiona, balita penyintas gempa Palu
Image caption Ersa Fiona kini dirawat oleh bibinya.

Gereja Jono Oge yang menggelar kajian Alkitab saat gempa mengguncang kini sudah berubah menjadi puing-puing dan tidak ada korban selamat yang berhasil ditemukan di sana.

Di antara reruntuhan, ada sebuah foto yang menampilkan 40 pelajar berbalut seragam putih-abu-abu sedang tersenyum.

Sebuah buku harian juga ditemukan atas nama Julitha. Di dalamnya ada sederet tulisan tangan tertanggal 8 Agustus 2018 berbunyi: “Segala sesuatu ada masanya, apakah itu di laut, darat, maupun di udara.”

Belum diketahui apakah Julitha ada di antara korban hilang atau meninggal dunia.

Pemerintah berencana mendirikan monumen nasional di tempat itu untuk mengenang para korban.

Perlu waktu bertahun-tahun bagi masyarakat untuk membangun kembali, walau mungkin mereka tidak pernah bisa melupakan apa yang diambil dari mereka.

Sumber: Peta Cincin Api, patahan, dan lempeng tektonik didapat dari USGS, sedangkan angka kepadatan penduduk didapat dari data PBB 2016 ( 625-700km²).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *