Hidup dengan HIV, perempuan Bandung menepis stigma dengan bertinju


Hak atas foto
Julia Alazka

Samsak seberat 15 kilogram itu bergoyang-goyang terkena hantaman kepalan Eva Dewi Rahmadiani, perempuan berusia 37 tahun yang di dalam tubuh mungilnya terdapat Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang pernah menjadi penyebab kematian yang mengerikan.

“HIV itu bukan akhir dari segalanya,” kata Eva saat ditemui usai latihan Tinju di Rumah Cemara Boxing Camp, di utara Bandung.

Bagi sebagian orang, ODHA (orang dengan HIV/AIDS), identik dengan sosok lemah tak berdaya dan sakit-sakitan, citra yang didasarkan pada gambaran pada awal 1980an, ketika HIV/ADIS baru dikenal dan obat-obatanan untuk menanganinya masih berada di tingkat sangat dini.

Eva menunjukkan kelirunya anggapan awam itu. Kondisi fisiknya justru jauh dari kata lemah. Ia rutin berlatih tinju, olahraga berat yang terbilang ekstrim dan membutuhkan fisik yang prima.

“Mungkin masih banyak orang yang berpikiran HIV ini lemah lah dan gak bisa ngelakuin apa-apa. Mudah-mudahan untuk ke depannya, apa yang saya lakukan ini bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman ODHA lainnya.”

Eva juga menekuni olahraga lari, bukan semata sebagai bagian dari latihan kebugaran untuk tinju. Di ajang Jakarta Marathon 2018, ia berhasil masuk garus akhir.

Dan Eva tak berhenti di situ: ia juga menjadi satu-satunya perempuan di Timnas Indonesia dalam kompetisi sepakbola dunia bagi kaum tunawisma, Homeless World Cup (HWC) 2018 di Meksiko.

Hak atas foto
Julia Alazka

Namun tinju memang olah raga yang lebih ditekuninya sehari-hari. Menurutnya, tinju membantunya bangkit dan bersemangat menghadapi persoalan hidup yang kerap tidak mudah, apalagi bagi dirimya yang berstatus HIV positif. Lewat tinju, ia bisa menyalurkan emosinya.

“Yang saya dapatkan dari tinju ini energinya positif. Untuk meluapkan kekesalan, kesedihan, ya lewat tinju. Kalau harus nangis, saya juga sama harus nangis. Tapi kalau di sini ada boxing, saya mending boxing aja daripada nangis,” tutur Eva yang mengetahui dirinya terinfeksi virus HIV pada 2010.

Hak atas foto
Julia Alazka

Eva bergabung di kelas tinju Rumah Cemara pada 2015.

Ia berlatih bersama peserta lain yang kebanyakan HIV negatif, di tengah masih kentalnya stigma dan diskriminasi pada ODHA, serta minimnya kelirunya sebagian masyarakat dalam pengetahuan tentang penularan virus yang menyerang kekebalan tubuh ini.

Tentu saja Eva tak mudah mendapatkan jalannya itu. Sebagian besar anggota Rumah Tinju itu awalnya tak menyambutnya hangat -khususnya karena ketakutan akan penularan.

Seperti Erke Jonathan yang mengaku sempat takut tertular virus HIV saat mengetahui ada ODHA yang ikut berlatih tinju.

“Memang sempat terpikir ini ada yang ODHA atau HIV, bakal tertular gak yah. Tapi, setelah dipikir-pikir gak apa-apa. Lihat mereka latihan bareng juga gak apa-apa. Kenapa sih harus dihindari,” kata Erke.

Begitu pula Yuli Resti, seorang perempuan yang berlatih tinju di kamp itu, yang mulanya tak nyaman. Namun, kata Yuli, kini ia tak lagi khawatir.

“Karena di sini kan gak cuman latihan doang, tapi ada sharing, ada ngobrol-ngobrol, jadi saya lebih tahu lagi tentang ODHA,” kata Yuli.

“Jadi kita tuh nggak akan ketularan kalau minum pake gelas yang sama, atau kesenggol-senggol doang. Jadi saya nggak takut kalau sekarang mah,’ ungkap perempuan 35 tahun ini.

Hak atas foto
Julia Alazka

Eva pun bersyukur bahwa ia makin lama makin diterima dan dari waktu ke waktu stigma terhadap ODHA menipis pula, kendati tak sepenuhnya hilang.

“Kalau di sini, teman-teman sedikit demi sedikit mengetahui informasi yang benar (tentang HIV),” ujar peraih penghargaan UNAIDS dalam kegiatan bertagar #sayaberani ini.

Sebetulnya memang tidak perlu ada yang dikuatirkan, kata dr. Ronald Jonathan, Konselor HIV/AIDS.

Sepanjang tidak terjadi luka terbuka dan mengeluarkan darah, Ronald menjelaskan, tidak akan terjadi penularan.

“Kita perlu tahu, HIV itu menular lewat darah. Sedangkan kalau untuk keringat, ludah, atau udara, dari nafas, tidak menularkan HIV. Jadi sebetulnya aman,” katanya.

Betapa pun, kata Ronald, “kalau untuk sparing (latih tanding) perlu langkah-langkah untuk proteksi,” kata Ronald.

Proteksi yang bisa dilakukan antara lain; menggunakan pelindung kepala khusus saat latih tanding. Dan jika terjadi luka, segera hentikan latihan tanding itu.

“Mengobati lukanya harus menggunakan sarung tangan. Tapi perlakuan bagaimana mengobati lukanya sih sama dengan (mengobati luka) orang lain. Artinya sama saja seperti pada orang dengan HIV negatif,” ujarnya.

Hak atas foto
Julia Alazka

Eva bukan satu-satunya orang dengan HIV poitiv yang berlatih di Rumah Cemara Boxing Camp. Ada pula Tri Eklas Tesa Sampurno. Ia selalu sangat berhati-hati, katanya. Setiap kali merasa terluka, ia berhenti latihan saat terluka.

“Meskipun adrenalin lagi naik, berhenti, itu sudah jadi keharusan bagi saya. Saya juga tidak mau menularkan, karena darah itu sangat berisiko untuk menularkan,” kata Tri Eklas Tesa Sampurno, yang dipanggil Tesa.

Dan saat memutuskan berhenti latih tanding itu juga ia anggap kesempatan untuk menyuluh orang lain soal HIV.

“Setelah beres sparing, saya kasih informasi kenapa saya memutuskan untuk berhenti sparing. Saya ceritakan informasi dasar mengenai HIV. Di situlah proses edukasi masuk,” ujarnya.

Tinju Melawan Stigma

Kelas tinju Rumah Cemara, yang berslogan “Boxing Againts Stigma” ini, dibuka untuk umum sejak 2013, atas prakarsa Ginan Koesmayadi, pendiri Rumah Cemara. Bukan kebetulan, Ginan yang telah meninggal di pertengahan tahun ini, juga seorang ODHA.

Hak atas foto
Julia Alazka

Tak disangka, kelas tinju Rumah Cemara mendapat respon positif dari masyarakat sekitar. Hingga kini, tercatat sebanyak 280 orang yang ikut berlatih. Dari jumlah itu, sekitar 7 orang di antaranya adalah ODHA.

Dalam perkembangannya, Rumah Cemara memanfaatkan kelas tinju sebagai media untuk menyampaikan informasi soal HIV, sekaligus mengkampanyekan gerakan “Indonesia Tanpa Stigma”, yang menjadi misi komunitas yang peduli terhadap ODHA dan mantan pencandu narkoba ini

“Tadi saja bisa dilihat, saya memakai baju HIV positif, mereka tetap mau latihan bareng sama saya, masih tetap mau salaman, pelukan, pegangan tangan, minum dari gelas dan botol yang sama,” kata Tesa, yang ikut mengelola kelas tinju Rumah Cemara.

“Kalau yang tidak tahu informasi, pasti sudah takut yah,” kata Tesa pula.

Hak atas foto
Julia Alazka

Tesa menyebut, banyak orang memang masih memandang HIV dan ADIS dengan stigma, juga berbagai tuduhan yang tak relevan.

Menurutnya, stigma lahir dari rasa takut, yang kadang karena mendapat informasi yang salah. Atau berawal berawal dari ketidaktahuan.

“Jadi cara mengikis stigma, memberi informasi yang akhirnya mereka tahu dan jadi tidak takut,” jelas Tesa pula.

Dan Tesa pun memasang lagi sarung tinjunya.

(Laporan Julia Alazka, Bandung).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *