Imagine: Di balik terciptanya lagu ikonik Lennon/Ono


Hak atas foto
Keystone/Getty Images

Bersama sejumlah foto dan arsip wawancara yang belum terpublikasi, sebuah buku yang dirilis pada hari ulang tahun John Lennon menceritakan kisah di balik lagu ikonik The Beatles, Imagine.

Lagu itu adalah lagu perdamaian; sebuah syair pujian bagi idealisme. Namun, Imagine juga adalah lagu tentang cinta.

Saat diciptakan tahun 1971 lalu, John Lennon dan Yoko Ono telah menjalin kebersamaan selama tiga tahun. Oleh sebagian orang, Ono dicerca sebagai ‘wanita naga’ yang menghancurkan rumah tangga Lennon dengan Cynthia – dan, pada akhirnya, The Beatles.

Namun demikian, seperti dikisahkan buku baru dari Thames & Hudson, Ono disalah-pahami – bahkan ketika dianggap sebagai inspirasi penciptaan lagu tersebut.

Dalam sebuah wawancara pada tahun 1980 yang tercantum dalam buku Imagine John Yoko, Lennon mengakui bahwa peran Ono sama besarnya dalam penciptaan Imagine. Pada tahun 2017, Ono akhirnya diakui secara resmi sebagai salah satu penulis lagu ikonik tersebut.

Seperti tertuang dalam buku, melalui sekumpulan koleksi foto dan arsip wawancara langka serta catatan orang dalam yang merinci proses pembuatan album itu, Lennon dan Ono menginspirasi satu sama lain semenjak perjumpaan pertama mereka.

Di tahun 1966, Lennon menghadiri pratinjau pameran Yoko Ono di galeri Indica, London, di mana ia ingin membeli karya Ono bernama Hammer a Nail in. Namun, Ono enggan membiarkannya, seperti yang ia ingat dalam arsip wawancara dalam buku.

“Saya bilang, ‘Baiklah, jika ia membayar lima shilling, tidak apa-apa,’ karena saya tahu lukisan saya tak akan pernah laku juga.”

Hak atas foto
Iain MacMillan/Copyright Yoko Ono Lennon

Image caption

John dan Yoko duduk di sebelah karya seni George Adamy bernama ‘Month of June, 1970’ di New York, 4 September 1971.

Lennon lantas punya ide lain, seperti dalam wawancaranya: “Saya bilang, ‘Begini saja, saya akan memberimu uang khayalan sebesar lima shilling dan juga memasang paku khayalan, bagaimana?’ Dan tanggapannya adalah: ‘bayangkan ini, bayangkan itu.'”

Ono menjawab: “Bayangkan, bayangkan. Saya pun berpikir, ‘Oh, ini dia pria yang punya pemikiran yang sama dengan saya.’ Saya sangat terkejut, saya pikir ‘Siapa dia?'”

John dan YokoHak atas foto
Peter Fordham/Copyright Yoko Ono Lennon

Image caption

Lennon membeli grand piano Steinway berwarna putih sebagai kado ulang tahun Ono pada tahun 1971; piano ini muncul dalam video Imagine.

Ono tidak kenal Lennon saat itu. “Saya tahu The Beatles dan saya pernah mendengar nama Ringo, dan tidak ada satu pun yang percaya tapi memang begitu yang terjadi. Nama ‘Ringo’ saya ingat, karena artinya ‘apel’ dalam bahasa Jepang. Ya, saya tahu bahwa The Beatles menjadi fenomena sosial, tapi saya tidak mengikuti musik rock ‘n’ roll.”

Kanvas kosong

Ono menjadi jalan bagi Lennon untuk kembali ke dunia seni.

“Saya selalu bermimpi bertemu seorang seniman perempuan di mana saya jatuh cinta padanya. Bahkan sejak saya masih di sekolah seni… rasanya seperti menemukan emas.”

Melihat pameran Ono menggugah sesuatu dalam dirinya.

“Ada selera humor dalam karyanya. Sungguh lucu,” ujarnya dalam wawancara itu. “Karya-karyanya membuat saya tertawa, beberapa di antaranya. Itulah momen saya kembali tertarik ke dalam dunia seni, melalui karya seninya.”

John dan YokoHak atas foto
Kieron Murphy/Copyright Yoko Ono

Image caption

John dan Yoko di kamar mereka di Tittinghurst Park, 17 Juli 1971.

Karya Ono tahun 1964, pada khususnya, yang menginspirasi penciptaan lagu Imagine. Buku Ono, Grapefruit, menyantumkan sejumlah momen yang memengaruhi Lennon.

Beberapa bertuliskan “Bayangkan (imagine) awan bertetesan, gali sebuah lubang di kebunmu untuk menaruhnya.” (Puisi Awan); “Bayangkan membiarkan seekor ikan mas berenang melintasi angkasa” (Puisi Minum untuk Orkestra); “Bayangkan seribu matahari di atas langit bersamaan.” (Bagian Roti Lapis Tuna).

John dan YokoHak atas foto
Yoko Ono Lennon

Image caption

Beberapa gambar dari video Imagine tahun 1971, direkam di Tittenhurst, 21 Juli 1971.

Lennon mengakui ‘utang’ itu. “Banyak puisi di dalamnya yang mengatakan ‘bayangkan (imagine) ini’ atau ‘bayangkan itu’,” tuturnya tentang buku Grapefruit.

“Imagine tak akan pernah tertulis tanpanya. Saya tahu ia membantu menuliskan banyak lirik, tapi saya tidak cukup jantan untuk mengakui perannya dalam lagu itu. Jadi, sebenarnya lagu itu ditulis oleh John dan Yoko, tapi saya tetap terlalu egois dan tak cukup sadar diri untuk mengakui kontribusinya.

“Lagu itu sendiri mengekspresikan apa-apa yang saya pelajari selama saya bersama Yoko dan perasaan saya terhadap hubungan kami. Seharusnya tertulis ‘Lennon/Ono’ pada lagu itu, karena ia banyak berkontribusi pada lagu itu.”

John dan YokoHak atas foto
Yoko Ono Lennon

Image caption

John dan Yoko berpose di sebuah kotak telepon umum di New York, Juni 1971.

Dalam buku itu, Ono mengungkapkan bagaimana mereka harus menghadapi reaksi negatif sebagai pasangan, di tengah budaya radikal dan berpikiran bebas yang diklaim dianut masyarakat London.

“Mereka memancarkan energi baru dengan suatu keanggunan akan sosok yang mereka ciptakan sendiri yang mampu mengubah strata sosial di Inggris, dan bisa mengubah dunia secara signifikan,” ujar Ono.

“John dan saya bersama-sama menciptakan atmosfer itu. Makanya kami sangat kaget ketika kelompok yang disebut hippie kala itu, di mana kami merasa sebagai bagian dari mereka, justru segera menentang kami saat kami mengungkapkan kebersamaan kami… ke-hippie-an mereka berakhir saat John, pemimpin mereka, memilih seorang perempuan Oriental sebagai pasangan hidupnya.”

“Kami tidak sadar begitu banyak rasisme… saya tidak menganggapnya mudah, tapi kami mendapat pelajaran dari hal itu. Sebuah pengalaman berharga. Kami selalu mencoba untuk menghadapi banyak situasi sulit, John dan saya, dengan sedikit rasa humor dan dengan santai.”

John dan YokoHak atas foto
Yoko Ono Lennon

Image caption

Foto polaroid Yoko dengan Andy Warhol, yang ditandatangani John, Yoko dan Andy.

Yoko menyadari bahwa ini juga bagian dari Imagine.

“John dan saya bertemu – ia berasal dari barat, dan saya dari timur – dan kami tetap bersama,” ujarnya pada tahun 1980. “Kami punya rasa kesatuan dan pernyataan ‘seluruh dunia pada akhirnya akan bersatu’ adalah sebuah rasa di mana pada akhirnya kita semua akan bercampur seperti warna kopi susu dan bahwa kita semua akan bahagia bersama.”

Lagu itu seakan-akan membayangkan dunia lain dari sudut pandang dua insan manusia – tetapi juga dalam perspektif yang lebih luas.

“George Orwell dan banyak orang lainnya memprediksi masa depan yang sangat negatif. Dan membayangkan suatu masa depan adalah sebuah kekuatan magis yang sangat kuat,” ujar Ono.

“Saya serius. Itulah bagaimana masyarakat terbentuk. Dengan demikian, karena mereka membayangkan semua hal buruk akan terjadi, itulah yang akan terbentuk di masyarakat. Maka kami mencoba untuk menciptakan gambaran yang lebih positif, yang tentu saja akan membentuk masyarakat yang berbeda.”

Lennon merujuk pada keinginan manusia untuk terbang – “yang mungkin akan memakan waktu lama untuk mewujudkannya, tapi harus ada seseorang yang membayangkannya terlebih dahulu.”

Ia menjelaskan alasannya. “Orang bilang, ‘kamu naif, kamu bodoh, kamu konyol.’ Ejekan-ejekan itu bisa saja menyinggung perasaan kami, tapi apa yang kami lakukan – kamu bisa menyebutnya sulap, meditasi, atau merancang cita-cita – seperti yang dilakukan orang-orang, mereka punya tujuan dalam melakukan hal itu.

“Para pesepakbola melakukannya. Mereka berdoa, mereka bermeditasi sebelum bermain di lapangan… orang-orang merancang masa depan mereka sendiri. Jadi, apa yang ingin kami lakukan adalah mengatakan, ‘mari kita bayangkan masa depan yang indah.'”

ImagineHak atas foto
Lenono Music

Image caption

Lagu terlaku milik Lennon dalam karir menyanyi solonya, Imagine, telah berulangkali menyabet gelar lagu terbaik sepanjang masa.

Ono menggambarkan perasaan mereka tentang lagu Imagine pada saat itu: “Kami berdua sangat menyukai lagu itu, tapi sejujurnya kami tidak menyangka lagu itu akan berubah menjadi sebuah lagu yang sangat kuat di seluruh dunia… Kami menulisnya karena kami memercayai setiap lirik yang tertulis dan lagu itu mencerminkan perasaan kami.”

YokoHak atas foto
Yoko Ono Lennon

Image caption

Yoko berpose bersama grand piano putih Steinway ‘O’ miliknya pada ulang tahunnya yang ke-85, di gedung Dakota, New York, 18 Februari 2018.

Menurut Lennon, “Kebahagiaan bagi saya adalah menulis lagu – kata dan lirik – yang akan bertahan lebih dari beberapa tahun. Lagu yang dapat dinyanyikan semua orang. Lagu yang bisa hidup lebih lama dari saya, mungkin. Itulah yang membuat saya sangat bahagia. Itulah yang membuat jiwa saya bergetar.”


Anda bisa membaca versi asli tulisan ini di BBC Culture dengan judul Imagine : TImagine : The making of an iconic song

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *