Jalan raya Gubeng ambles, kontraktor abaikan aspek struktur tanah?


Hak atas foto
ANTARA FOTO/Didik Suhartono

Image caption

Petugas Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya memeriksa lokasi tanah ambles di Jalan Raya Gubeng, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (19/12).

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna, mencurigai penyebab amblesnya tanah di Jalan Raya Gubeng, Surabaya, karena terabaikannya aspek geologi atau struktur tanah.

Dalam pengamatannya, para kontraktor hanya mementingkan konstruksi bangunan tanpa memperhatikan kondisi tanah di sekitarnya.

Belum lagi, tak adanya peta mikrozonasi di tiap-tiap kota di Indonesia. Padahal adanya peta itu bisa menjadi acuan potensi kerentanan atau kerawanan tanah, katanya.

Karenanya, Yayat menyarankan Pemkot Surabaya segera mengaudit Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) proyek pembangunan ruang bawah tanah Rumah Sakit Siloam dan dalam jangka panjang membuat peta mikrozonasi.

“Minimal Amdal benarlah. Jangan Amdal-amdalan lagi. Kan sudah tahu kondisi geologinya. Kalau tak dicermati (unsur geologinya), berarti ada unsur kelalaian,” ujar Yayat Supriyatna kepada BBC News Indonesia.

“Lalu jika potensi amblasnya tanah di Jalan Gubeng karena kondisi tanah, harus dipetakan pada seluruh kawasan di Surabaya yang memang kondisi kawasannya sedang banyak pekerjaan konstruksi skala masif,” sambungnya.

Dengan adanya peta mikrozonasi, menurutnya, akan ada perubahan tata ruang maupun tata bangunan. Hal itu demi menyesuaikan kondisi tanah sekitar dengan konstruksi suatu pembangunan.

Yayat pun mencontohkan kasus amblesnya badan Jalan RE Martadinata sedalam tujuh meter pada tahun 2010 lalu. Dimana belakangan diketahui, penyebabnya karena perubahan karakter tanah penyangga menjadi mud flow (aliran atau rayapan lumpur).

Kasus lain, yakni amblasnya Jalan Sudirman, Jakarta, sedalam 10 meter pada tahun 2014 karena adanya gorong-gorong tua sisa peninggalan Belanda yang tidak diketahui keberadaannya.

Hak atas foto
ANTARA FOTO/Didik Suhartono

Image caption

Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan (kedua kanan) meninjau lokasi tanah ambles di Jalan Raya Gubeng, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (19/12).

“Jadi gorong-gorong sisa masa Belanda itu tidak terpetakan. Sehingga peta mikrozonasi, utilitas, kerentanan, sama sekali tidak terinformasikan di kota-kota di Indonesia,” tukasnya.

“Peta tata ruang bawa tanah kita masih jeblok.”

Kerawanan tanah juga mengancam wilayah Jakarta Utara. Dari pengamannya, potensi peningkatan tanah lunak semakin tinggi. Ini lantaran kondisi tanah yang makin labil dan turunnya permukaan tanah.

Tanah bergetar, bunyi ledakan, lampu padam

Jalan raya Gubeng, Surabaya, amblas sedalam 10 meter dengan panjang dan lebar sekitar 100 meter, pada Selasa (18/12) malam. Dugaan sementara, pembangunan proyek basement Rumah Sakit Siloam menjadi penyebabnya.

Menurut kesaksian Haris, warga yang tinggal di sekitar lokasi proyek, sekitar pukul 21.45 WIB tanah terasa bergetar dan terdengar suara mirip ledakan sebanyak dua kali. Semula, ia mengira terjadi gempa. Sebab lampu rumahnya tiba-tiba padam.

“Tanah bergetar keras, tapi tidak beruntun. Saya agak panik, saya kira gempa. Saat saya lari ke sana (pusat suara), ternyata ada jalan ambles,” ujar Haris kepada BBC News Indonesia.

Kini, arus lalu lintas di Jalan raya Gubeng ditutup total. Kendati begitu, tak sedikit warga yang penasaran ingin melihat langsung jurang amblesan tersebut. Haris pun was-was jika hujan datang akan menggerus tanah dan terjadi amblesan susulan.

“Biarpun nggak dekat (amblesan), tapi khawatir juga. Kalau hujan kan menggerus tanah. Khawatirnya rumah kita juga kena,” imbuhnya.

“Jadi perlu antisipasi biar nggak merem,bet kalau ada lubang susulan. Terus arus lalu lintas segera dialihkan, biar nggak macet.”

Kapolda Jawa Timur, Luki Hermawan, memastikan tidak ada korban jiwa akibat insiden kemarin. Namun beberapa saluran air yang mengarah ke area amblas, ditutup untuk mencegah melebarnya lubang.

“Untuk menindaklanjuti dampak amblasnya jalan ini, karena akan berdampak fatal dengan datangnya musim hujan. Sehingga saluran air yang menuju tempat amblas ini akan ditutup. Sehingga lubang ini tidak ada air,” jelas Luki Hermawan.

Hak atas foto
ANTARA FOTO/Didik Suhartono

Image caption

Foto aerial kondisi tanah ambles di Jalan Raya Gubeng, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (19/12/2018).

Polisi, kata Luki, telah memeriksa 11 orang yang terdiri dari kepala proyek, enginering, dan pelaksana proyek. Selain itu, bersama ahli dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Bina Marga, polisi akan memastikan penyebabnya apakah karena kesalahan konstruksi atau erosi tanah.

“Sebab pada Februari lalu, ada rekomendasi dari tim terkait munculnya air di bawah tanah. Nah ini masih harus didalami dari saksi ahli,” kata Luki.

Menurut Luki, penggalian untuk basement RS Siloam akan mencapai 19 meter. Sementara saat ini pengerjaannya masih sekitar 11%.

KemenPU-Pera minta cek ulang jalan

Meski belum bisa dipastikan apa penyebab amblesnya jalan itu, namun Dirjen Bina Marga dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Sugiyartanto, meyakini Jalan Raya Gubeng yang statusnya di bawah kewenangan Pemkot Surabaya, tidak bermasalah.

“Ya selama ini sekian tahun dilewati nggak ada masalah kan? Nggak ada amblas kan? Kan gitu, jadi ini di luar perkiraan. Kalaupun bagian bawah dari badan jalan ada rongga, rongganya kemana? Wong sekian tahun tidak apa-apa,” jelasnya.

Namun demikian, kementerian bakal meminta seluruh kepala daerah di kota-kota besar agar mengecek kembali kondisi jalan-jalan di sana. Sebab ada kemungkinan, daya dukungnya tak mampu lagi menahan beban bangunan-bangunan di sekitarnya.

Jika dugaannya benar, kementerian menyarankan para kepala daerah menambah jaringan jalan baru. Ini karena, bisa saja kejadian serupa terjadi di daerah lain.

“Kalau memang daya dukungnya tak memenuhi lagi, sehingga kita harus melakukan penambahan jalan-jalan baru. Tapi itu tergantung apakah wewenang pemerintah kota, provinsi, atau pusat,” ungkapnya.

Sementara terkait penyebab dan perbaikan Jalan Raya Gubeng, ia menyebut, akan diputuskan dalam 2-3 hari kedepan. Timnya di lapangan bersama polisi dan ahi dari ITS akan memaparkan temuannya sesegera mungkin.

“Kalau dari visual, apakah ini dampak pembangunan basement yang terlalu ke bawah sehingga penahan dindingnya kurang kuat, ini masih ditindaklanjuti. Saya tak ingin berandai-andai.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *