Korban tewas menjadi 2.010 orang, ‘relawan asing diusir’

DonggalaHak atas foto BBC News Indonesia

Jumlah korban tewas seperti dicemaskan terus bertambah, kini tercatat 2.010 orang, dan dalam pencarian terakhir ditemukan 46 jenazah; sementara sebuah desa terkucil di Donggala, mendapat bantuan untuk pertama kalinya, melalui helikopter.

Juru Bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, dari angka itu korban paling banyak ada di Palu yang mencapai 1.601 orang. Sementara di Donggala 171 orang dan Sigi 222 orang. Sedangkan korban hilang hingga kini mencapai 671 orang

Sutopo juga mengatakan, hari Senin kemarin Tim SAR Basarnas menemukan 46 jenazah lagi. Sehingga total jumlah korban yang ditemukan Tim SAR yakni 864 orang. Sementara temuan korban dari relawan dan masyarakat sebanyak 1.232 orang.

Menyangkut proses evakuasi, Sutopo menyebut, telah digelar rapat koordinasi di antaranya BNPB, Basarnas, Bupati Sigi, Walikota Palu, camat, lurah, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan Kagasgabpad, disimpulkan bahwa proses pencarian dihentikan pada 11 Oktober.

Sementara lokasi bekas likuifaksi, akan dijadikan Ruang Terbuka Hijau atauMemory Park. Dia juga memastikan lokasi itu tidak akan digunakab lagi lantaran berbahaya dan tidak boleh dijadikan pemukiman.

Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Kerusakan terparah terlihat di sepanjang pesisir Donggala, terutama di bagian tanjung tempat desa Walandano bermukim.

Sementara itu, desa Walandano, Kabupaten Donggala, untuk prtama kalinya didatangi tim darurat yang dengan helikopter mengirim bantuan satu ton berisi makanan dan minuman untuk sekitar 1.000 jiwa.

Gempa dan tsunami di pesisir Donggala mengakibatkan akses jalan darat terputus. Desa Walandano adalah tempat terdekat dari episentrum gempa yang berkekuatan 7,4 skala Richter pada jumat lalu (28/9).

Jarak dari kota Palu menuju desa Walandano adalah 115 kilometer. Dari udara, pilot helikopter milik TNI Angkatan Udara, Kapten Pnb Rizki Randiguna menjelaskan bahwa jalan rusak itu paling banyak terdapat di pesisir Donggala, akses darat satu-satunya menuju desa.

Letaknya di semenanjung, dan jauh dari kota. “Longsoran terlihat dari udara, banyak sekali, sehingga bantuan harus dikirimkan lewat udara.” kata Kapten Rizki kepada Silvano Hajid dan Dwiki Marta dari BBC News Indonesia.

Hak atas foto BBC News Indonesia

Setelah lebih dari sepekan kondisi darurat berlangsung, warga desa Walandano mengungsi secara swadaya di area perbukitan di pinggir pantai.

“Warga desa lebih kooperatif, mereka tidak mengerumuni helikopter.” Papar Rizki. Dari udara, daerah perbukitan mengalami kerusakan yang minim.

Dalam satu hari, terdapat dua sampai tiga kali perjalanan menuju tempat-tempat yang terisolasi. Di sebelah selatan Palu, fokus pengiriman bantuan di Kabupaten Sigi, sementara bagian baratnya, fokus di Kabupaten Donggala.

Tim BBC News Indonesia, mengikuti jalannya pengiriman bantuan lewat udara dari Bandara Mutiara Sis Aljufri. Perjalanan menggunakan helikopter memakan waktu 30 menit.

Kerusakan terparah terlihat di sepanjang pesisir Donggala, terutama di bagian tanjung tempat desa Walandano bermukim.

Tim hanya memiliki waktu dua menit untuk dapat melihat langsung warga desa yang langsung mendatangi bantuan setelah diturunkan dari helikopter.

Sejauh ini, dalam data Badan Nasional Penanggulangan bencana (BNPB) sudah 1.948 tewas dan sudah dimakamkan. Dari jumlah itu, 171 orang di antaranya adalah jenazah yang ditemukan di Kabupaten Donggala.

Lainnya, kabupaten Sigi 222 orang, Parigi Moutong 15 orang, Pasangkayu, Sulawesi Barat 1 orang dan yang terbanyak adalah di Palu, 1.539 orang

Selain itu, 843 orang masih hilang, sementara ibuan orang lagi dicemaskan ‘tertelan’ bumi akibat Likuifaksi di dua wilayah Palu, Petobo dan Balaroa.

Menurut Kepala BNPB, Willem Rampangilei, upaya pencarian jenazah lain akan dihentikan Kamis (10/10) karena identifikasi jenazah yang sudah lebih dari 10 hari akan luar biasa susah dan bisa menimbulkan penyakit.

Hak atas foto Getty Images

Namun begitu, proses tanggap darurat akan terus dievaluasi dan baru diputuskan pada 10 Oktober nanti.

“Setelah 11 Oktober itu mau bagaimana, saya minta pemda dan masyarakat agar berdialog dengan tokoh adat,” sambungnya.

Jumpa pers terbaru masih sedang berlangsung di kantor BNPB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *