Korut mengutuk sanksi terbaru AS: ‘Ini kesalahan kalkulasi terbesar Trump’


Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Hubungan Korut dan Korsel semakin menghangat, tetapi hubungan mereka dengan AS sering diwarnai kemacetan.

Korea Utara mengecam pemerintah Amerika Serikat karena menerapkan sanksi baru terhadap tiga pejabat Korea Utara, dan memperingatkan bahwa tindakan itu dapat menghancurkan upaya denuklirisasi selamanya.

Washington mengatakan sanksi itu diberikan kepada tiga pejabat tinggi Korut, setelah adanya laporan yang mengungkap masih banyak pelanggaran hak asasi manusia di negara itu.

Dalam pernyataannya, pemerintah Korea Utara menyatakan “terkejut dan marah” atas sanksi baru AS tersebut.

Seperti dilaporkan wartawan BBC di Washinton, Dan Johnson, sanksi-sanksi itu diberlakukan setelah adanya laporan-laporan yang menemukan bukti adanya penyensoran dan pembatasan di media Korut.

Laporan-laporan itu juga menyebutkan Korut melakukan pelacakan siaran radio, memenjarakan warganya atau bahkan dihukum mati karena “menonton film asing”, ungkap Johnson.

Apa reaksi Korea Utara?

Departemen Kehakiman AS mengatakan berbagai pelanggaran hak asasi manusia ini menjadi landasan yang dibenarkan untuk mengambil tindakan terhadap mereka yang bertanggungjawab atas apa yang disebut sebagai penindasan atas pemerintah Korut.

Hak atas foto
KCNA

Image caption

Korea Utara menggelar serangkaian uji rudal jarak jauh pada 2017.

Namun tanggapan yang muncul dari Korut justru membahayakan untuk membebaskan semenanjung Korea dari senjata nuklir.

Kementerian Luar Negeri Korut, seperti dikutip kantor berita resmi negara itu, KCNA, menyebut sanksi baru yang diberlakukan oleh AS itu sebagai “salah kalkulasi terbesar negara itu yang akan memblokir jalan menuju denuklirisasi selamanya.”

Apa saja sanksi baru?

AS berjanji memberikan sanksi kepada tangan kanan Kim Jong-un, Choe Ryong-hae, dan dua orang lainnya, yaitu Menteri Keamanan Jong Kyong-thaek dan pejabat propaganda Pak Kwang-ho.

Juru bicara departemen luar negeri Robert Palladino mengatakan: “Pelanggaran HAM di Korea Utara masih termasuk yang terburuk di dunia, seperti adanya kerja paksa, penyiksaan, penahanan sewenang-wenang yang berkepanjangan, pemerkosaan, aborsi secara paksa, serta masalah kekerasan seksual.”

Hak atas foto
AFP

Image caption

Donald Trump dan Kim Jong-un bertemu di Singapura, Juni lalu.

Apa yang terjadi sejak Kim bertemu Trump di Singapura?

Pada pertemuan tingkat tinggi di Singapura Juni lalu, kedua pemimpin menandatangani perjanjian untuk bekerja sama menuju denuklirisasi di semenanjung Korea.

Tetapi kesepakatan itu tidak membahas batasan waktu serta mekanisme untuk memverifikasi lebih lanjut proses perjanjian tersebut.

Bagaimanapun semenjak digelar KTT itu, ada sejumlah langkah maju, terutama dalam hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan.

Hak atas foto
AFP

Image caption

Pertemuan tingkat tinggi kedua antara pemimpin Korut, Kim Jong-un dan Presiden As Donald Trump.

Pada minggu ini, tentara Korea Utara dan Selatan melakukan aksi persahabatan menyeberang ke perbatasan di wilayah negara masing-masing untuk pertama kalinya semenjak negara itu terbelah menjadi dua.

Dalam aksi itu, mereka memeriksa pembongkaran pos penjaga di Zona Demiliterisasi (DMZ).

Hubungan Korut-AS mengalami kemacetan

Perundingan antara Menlu AS Mike Pompeo dan Menlu Korut Kim Yong-chol dibatalkan secara tiba-tiba pada November dan sejauh ini belum dijadwalkan ulang.

Hubungan personal antara Trump dan Kim Jong-un agaknya relatif tidak terpengaruh, tetapi sepertinya sulit diprediksi.

Pada September lalu, Trump memuji surat yang ditulis oleh Kim untuk dirinya “sangat hangat” saat dilangsungkan pertemuan tingkat tinggi tingkat lanjut.

Namun demikian, seperti yang diutarakan wartawan BBC Laura Bicker di Seoul, sejauh ini hambatan yang tidak dapat diatasi adalah persoalan senjata nuklir Utara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *