Lagi, perusakan makam: Apakah ini tanda intoleransi?


Mulyono, penjaga makam di TPU Giriloyo, Kota Magelang, Jawa Tengah, menunjukkan makam yang dirusak.Hak atas foto
YAYA ULYA UNTUK BBC NEWS INDONESIA

Image caption

Mulyono, penjaga makam di TPU Giriloyo, Kota Magelang, Jawa Tengah, menunjukkan makam yang dirusak.

Dua belas makam dirusak dan simbol salib dari 11 makam Kristen dihancurkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Giriloyo di Magelang, Jawa Tengah. Vandalisme ini diperkirakan dilakukan sehari setelah Natal.

“Tanggal 25 itu masih bagus dan belum hancur,” kata Mulyono, 42, seorang penjaga makam di TPU Giriloyo.

Di lokasi pemakaman, tampak sejumlah salib sudah dicopot dari makam lalu dihancurkan dan ditaruh di sebelahnya. Sementara sebagian makam lain, ubin makamnya ada yang copot.

Mulyadi, 76, penjaga makam yang paling tua di TPU Giriloyo, heran dengan perusakan makam tersebut, “Saya sudah puluhan tahun menjaga di sini, dan perusakan ini baru yang pertama kali,” katanya.

Meski tidak tahu siapa yang berada di balik perusakan makam itu, namun Mulyadi yakin bahwa motifnya bukan karena pencurian.

“Saya hafal kalau pencurian, kalau perusakan ini bukan karena pencurian,” katanya kepada Yaya Ulya, wartawan di Jawa Tengah, Kamis (03/01).

Bukan hanya di TPU Giriloyo

Perusakan makam di TPU Giriloyo adalah yang pertama di Kota Magelang.

Kapolres Magelang AKBP Kristanto Yoga Darmawan memaparkan bahwa ada dua TPU lain yang juga dirusak: TPU Kiringan dan TPU Malangan.

Dari ketiganya, mayoritas makam Kristenlah yang dirusak. Meski begitu, Kristanto menolak mengaitkan perusakan itu dengan intoleransi.

“Dari 21 makam yang dirusak ini, 18 memang makam umat Kristiani, yang tiga itu Muslim. Atas dasar inilah akhirnya Pemkot Magelang, Polres Kota Magelang dan seluruh elemen masyarakat, kami berkomitmen untuk tidak menjadikan ini sebagai suatu masalah berkaitan dengan sentimen agama atau permasalahan SARA,” tegas Kristanto.

Hak atas foto
YAYA ULYA UNTUK BBC NEWS INDONESIA

Image caption

“Tanggal 25 itu masih bagus dan belum hancur,” kata Mulyono, penjaga makam di TPU Giriloyo, Kota Magelang, Jawa Tengah.

Bukan lagi fenomena perkotaan

Namun, Bonar Tigor Naipospos, Wakil Ketua Setara Institute, yang meneliti isu HAM dan intoleransi di Indonesia, mengatakan sebaliknya.

“Kasus-kasus intoleransi ini bukan lagi fenomena perkotaan. Tetapi juga terjadi di daerah-daerah yang bisa dikategorikan sebagai daerah yang masih kultur kebersamaannya masih kuat dan penghormatan terhadap tradisi sebenarnya juga cukup kuat,” ungkap Bonar.

“Ini menunjukkan bahwa intoleransi sudah menyebar ke arah yang lebih bawah atau ke arus bawah. Ini yang kita khawatirkan,” tambahnya.

Hak atas foto
YAYA ULYA UNTUK BBC NEWS INDONESIA

Image caption

Sejumlah salib sudah dicopot dari makam lalu dihancurkan dan ditaruh di sebelahnya. Sementara sebagian lainnya, ubin makamnya ada yang copot.

Terpupuknya intoleransi ini di tempat-tempat yang “tak semestinya” ini menurut Bonar karena pemerintah daerah abai untuk mengatasinya.

“Pemerintah daerah lebih fokus ke hal-hal yang lebih berkaitan dengan pembangunan. Masalah-masalah ini mungkin mereka rasa adalah masalah yang sangat sensitif dan dikhawatirkan kemudian mereka tidak mendapat dukungan dari kelompok “mayoritas”,” jelas Bonar.

Sebelumnya, pada pertengahan Desember lalu, sebuah nisan kayu salib dipotong di Kotagede, Yogyakarta dan prosesi doa kematian gagal dilakukan dalam pemakaman jenazah seorang warga Kristen, karena mendapat penolakan dari warga sekitar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *