Mary Pickford: Perempuan yang mengubah Hollywood


Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Pickford di konter bank dalam sebuah foto promosi, sekitar 1920.

Perpindahannya dari panggung ke layar film dianggap tak serius — tapi Mary Pickford kemudian menghasilkan jutaan dolar dan mendirikan United Artists. Amy Nicholson melihat bagaimana aktris ini menjadi kesayangan Amerika dan membantuk membentuk industri film AS.

Pada 1911, William deMille membuat salah satu prediksi paling salah dalam sejarah seni peran. Seorang pemain teater muda yang dikenalnya berhenti dari panggung dan pindah ke film.

“Umurnya tak sampai 17,” katanya mencak-mencak di sebuah surat,” dan sekarang dia membuang semua kariernya dan mengubur diri dalam bentuk hiburan murah. Tak akan pernah ada uang di situ.” Seni teater sudah berusia 2.500 tahun dan perempuan muda ini tengah mempertaruhkan masa depannya pada sebuah tren yang tak akan bertahan.

“Selamat tinggal untuk Mary Pickford kecil, namanya tak akan pernah terdengar lagi.”

Empat tahun kemudian, Mary Pickford adalah perempuan paling terkenal di muka bumi; selebritas perempuan pertama yang bukan hanya dikenal karena nama dan reputasinya, tapi sampai soal bagaimana matanya mengerling saat dia tersenyum.

Semua orang yang sudah menontonnya di Tess of the Storm Country (1914) atau Rags (1915) tahu sekali bagaimana wajahnya — rambut keriting yang panjang, baju kekanak-kanakan, semuanya mewakili kepolosan — dan citra itu seolah tak berubah.

Setiap gulungan rambut itu harganya US$50 (Rp700 ribu), ini adalah sebuah kemewahan luar biasa karena saat itu harga tiket hanya 5 sen, dan Pickford punya satu koper rambut seperti itu.

Rambut itu memang miliknya, tapi Pickford adalah milik semua orang. Orang-orang akan mencuri bunga dari topinya dan akan kesal jika dia berlari-lari tanpa sepatu di film.

Saat seorang anak melihat America’s Sweetheart ini dengan kuku hasil manicure — “Mama! Dia bukan perempuan betulan! Kukunya panjang!” — Pickford kemudian memotong pendek kukunya dan di depan umum, dia melarang dirinya sendiri untuk bermain dengan lipstik atau pensil, untuk mencegah orang salah mengira bahwa dia merokok.

Perempuan-perempuan yang tak pernah dia temui meminta ribuan dolar dan mengancam bahwa mereka akan menjual badan mereka jika dia tidak memberi mereka uang dan itu jadi salahnya.

Satu kali, seorang pria menatapnya selama dua menit dan akhirnya bilang, “Mungkin wajahmu seperti malaikat dan hatimu seperti iblis. Jika iya, saya kasihan padamu, tapi jika tidak, saya akan mendoakanmu.”

Kuat dan lembut

Aktris di era modern berhadapan dengan tekanan dan penghakiman publik yang luas. Pickford, meski tak sengaja, menciptakan tekanan itu. Namun dia bekerja keras untuk menjadi terkenal. Yang dia ketahui hanya kerja keras.

Jika Anda bertanya pada Pickford kenapa orang-orang mencintainya, dia akan menjawab bahwa dia bukanlah aktris paling cantik atau paling berbakat di Hollywood.

Juru kamera menyebutnya ‘old monkeyface‘ atau ‘si wajah monyet’ dan Pickford tahu bahwa dia lebih cocok untuk hiburan ringan daripada tragedi yang kompleks.

Orang-orang menyukai kombinasi kelembutan dan kekuatannya. Karakter-karakternya dalam film seperti The Little Princess (1917) dan Daddy-Long-Legs (1919) terkesan rapuh.

Mereka miskin atau dulunya mereka kaya tapi kini jatuh miskin. Mereka menjadi yatim piatu atau ditinggalkan atau dibiarkan untuk bertualang — tapi mereka tak pernah sedih.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Mary Pickford menjual pinjaman perang untuk mengumpulkan uang bagi pemerintah pada Perang Dunia Pertama.

Pickford disebut-sebut sebagai salah satu arketipe sosok ingénue atau perempuan polos dalam film.

Wajahnya menjadi close-up pertama dalam sejarah Hollywood dan dia juga menjadi bagian dari kesadaran Hollywood. Para tentara mengenakan potretnya di kalung yang mereka bawa ke perang.

Dia terlihat sebagai perempuan era Victoria dan berakting secara modern. Dia adalah aktris pertama yang terbang dalam pesawat di film dan dia menciptakan spot lighting untuk membuat dirinya terlihat lebih muda.

Sebelum Pickford, film bukanlah bidang yang terhormat. Tak heran jika perpindahan kariernya itu membuat deMille kesal.

Namun bukannya Hollywood yang menghancurkannya, Pickford justru membantu menyelamatkannya — dan ini membuatnya menjadi sosok pahlawan penting Hollywood.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Pickford dan sutradara Frances Marion dengan kursi kanvas bertuliskan nama mereka di set film drama perang keluaran United Artists, Straight is the Way.

Hollywood tak selalu menjadi tujuan utamanya. Saat Pickford masih berusia lima tahun dan dia masih bernama Gladys Smith, ibunya, seorang janda, mengizinkan pasangan pemilik teater keliling untuk menampilkan Pickford di panggung.

Dia mendapat sambutan meriah, tapi penghasilannya lebih besar lagi. Dia akan menusuk-nusukkan jepit rambut ke pipinya untuk menirukan aktris-aktris yang lebih tua dengan pipi memerah.

Pickford hanya bersekolah selama tiga bulan, dia kemudian belajar membaca dengan membaca papan reklame yang dia lihat di jalan. (Pickford mengatakan bahwa dia benci sekali dengan warna cerise, warna merah tua yang menjadi dasar kursi kereta.)

Pickford bertemu dengan deMille saat mementaskan karya teaternya di Broadway pada usia 15 tahun.

Saudara laki-laki deMille yang lebih muda, Cecil (yang kemudian mengganti nama keluarganya menjadi huruf besar dan membuatnya menjadi ‘deMille’) adalah salah satu pemain dalam pementasan tersebut.

Kedua laki-laki itu kemudian jadi nama besar di Hollywood — bertahun-tahun setelah Pickford menunjukkan caranya. Dia datang pada 1910, sebulan sebelum Hollywood mendapat nama resminya, sebagai bintang baru dalam Biograph Company milik DW Griffith.

Fiksi penggemar

Film adalah ide ibunya. Awalnya, Pickford berharap bahwa Griffith akan menolaknya. Tapi pada hari-hari awal berdirinya Hollywood, para sutradara sudah kehabisan akal mencari aktris, jadi dia menyeret Pickford ke studionya, mengecat mukanya hitam dan putih — “Saya terlihat seperti Pancho Villa,” keluhnya — dan meminta remaja veteran teater ini untuk berakting.

Pickford menolak, dan dinamika hubungan mereka tak pernah berubah. Griffith berupaya untuk mengubah pendirian Pickford, dan mengejeknya sebagai “the Great Unkissed” — Pickford adalah satu-satunya aktris yang melawan balik, karena dia punya kariernya di panggung sebagai alternatif.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Mary Pickford di sebuah adegan dalam film Tess of the Storm Country (1922), versi bicara dari drama bisu pada 1914 yang juga dia bintangi.

Suatu hari, setelah sebuah film pendek Wilful Peggy menjadi populer, Pickford kemudian dikenali oleh tiga penggemar. Orang-orang mengenali wajahnya.

Dia langsung meminta kenaikan gaji US$5 pada Griffith. Selama ini, dia selalu mencegah Pickford melihat seberapa berharganya dia — dia telah memerintahkan agar semua surat penggemar untuk “gadis dengan rambut keriting emas” dirobek sebelum Pickford bisa mengetahuinya — tapi ketenaran yang diperoleh Pickford tak bisa terus-terusan dibendung.

Meski Griffith berusaha untuk menyembunyikan rambut Pickford di bawah wig hitamnya.

Dalam beberapa tahun, gaji tahunan Pickford mencapai US$560.000, tiga perempatnya langsung ia masukkan dalam tabungan, dan setahun kemudian gajinya mencapai satu juta dolar.

Untuk menghasilkan uang sebanyak itu, Pickford harus setia pada dirinya sendiri dan pada penontonnya.

Setia pada dirinya sendiri berarti dia akan pindah studio jika ada yang menawarinya uang yang lebih besar.

Pickford tahu nilai dirinya sendiri, jadi setelah 2,5 tahun dan 103 film, Griffith memerintahkan bintang utamanya yang keras kepala untuk memamerkan kaki dalam kostum manusia gua, Pickford berhenti.

Setiap pada penontonnya berarti bahwa Pickford harus terus-terusan menjadi anak-anak: seorang perempuan dewasa, sama pintar dan tangguhnya seperti pebisnis lain, dan menghabiskan seumur hidupnya berlarian di sekitar perabot yang besar dan dirancang untuk membuat dirinya terlihat kecil. Alice dalam negeri ajaib yang abadi.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Pickford dan Douglas Fairbanks dianggap sebagai ratu dan raja Hollywood.

Pickford memberontak dengan caranya sendiri. Pertama, dia menikah dengan aktor tua yang suka meremehkan, Owen Moore, untuk membuktikan bahwa dia adalah orang dewasa.

Hubungan mereka adalah satu dari sedikit keputusan buruknya. Di pesta-pesta, Moore akan menghina, “Mary punya bakat kecil yang ekspresif, bukan sesuatu yang saya anggap cerdas.”

Tak lama kemudian, dia jatuh cinta dengan Douglas Fairbanks, tapi karena saking takutnya untuk membuat publik marah, dia menunda perceraian dengan Moore selama tiga tahun.

Dia akhirnya menikahi Fairbanks pada 1920 dan mereka mengubah rumah mereka di Beverly Hills, Pickfair, menjadi istana di California — para tamu ke rumah itu termasuk George Bernard Shaw, Albert Einstein, Helen Keller, HG Wells, Amelia Earhart, F Scott Fitzgerald, Noël Coward dan sahabat Fairbanks, Charlie Chaplin.

Saat mereka menikah, pasangan ini sudah menandatangani kontrak yang sangat penting untuk mendirikan United Artists (UA), sebuah studio film yang menjadikan para bintangnya sebagai bos — bukan produser atau bankir yang selalu berusaha membuktikan bahwa mereka tahu lebih banyak soal bisnis film daripada perempuan yang membantu mendirikan industri tersebut.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Para pendiri United Artists pada 17 April, 1919 (kiri ke kanan di deretan depan: DW Griffith, Pickford, Chaplin dan Fairbanks).

Dalam mendirikan UA, Pickford bekerjasama lagi dengan nemesisnya, Griffith — selain juga Chaplin, yang peningkatan kariernya membuat Pickford merasa terganggu.

Kenapa badut ini menghasilkan uang lebih banyak? Tapi Pickford kemudian memutuskan bahwa lebih baik untuk bersatu dan kuat daripada dipisahkan oleh ego.

Perempuan yang tak pernah bersekolah ini mengajarkan pada Hollywood cara untuk menjadi bintang modern — dalam kehidupan nyata, dia bukanlah korban siapa-siapa. P

ickford adalah salah satu pendiri utama Academy of Motion Picture Arts and Sciences, pada 1927.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Pickford di penghargaan Oscar pada 1930, saat dia memenangkan penghargaan untuk penampilannya di Coquette.

Saat era bisu kemudian pindah ke film bersuara, dan Little Mary mendekati usia 40, ia membuat kegagalan pertama dan kemudian dia berhenti tampil di depan kamera — tapi tidak sebelum dia memenangkan Oscar keduanya dalam kategori aktris terbaik, untuk peran pertamanya dalam Coquette pada 1929.

(Rambut bobnya di film itu mengejutkan para penggemar dan hilangnya rambut keriting yang jadi kekhasannya itu sampai jadi berita utama The New York Times.)

Akhirnya Pickford punya cukup uang untuk bersantai, jadi dia membakar semua film-filmnya dan kariernya di tong sampah, seperti kata deMille.

“Kenapa tidak? Saya membuat film-film ini,” kata Pickford soal jutaan meter rekaman; dua dekade tumbuh besar di publik sampai kemudian dia siap menjadi produser, filantropis, dan duta besar tugas-tugas sosial.

“Saat saya pergi, film saya juga harus pergi.”

Untungnya, itulah saat dia gagal mengamankan masa depan, dan kini Mary Pickford kecil tak akan pernah terlupakan.

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di Mary Pickford: The woman who shaped Hollywood di laman BBC Culture

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *