Obituari: Mengenang Ging Ginanjar, jurnalis kawakan yang humoris


Hak atas foto
BBC News Indonesia

Semula dikenal sebagai aktivis kebebasan pers dan seniman teater, Ging Ginanjar, wartawan BBC Indonesia dan pendiri Aliansi Jurnalis Independen yang baru saja meninggal dunia, tampil sebagai jurnalis dan menggelutinya secara total.

Pria kelahiran 1964 ini mengawalinya sebagai wartawan Harian Gala di Bandung pada tahun 1980an akhir, sebelum bergabung ke Tabloid Detik yang didirikan Eros Djarot dan kawan-kawan – yang akhirnya dibredel pada 21 Juni 1994 bersama majalah Tempo dan Editor.

Tindakan pembredelan ini, seperti tercatat sejarah, kemudian melahirkan perlawanan dari kalangan jurnalis muda yang ditandai kelahiran Aliansi Jurnalis Independen, AJI, 7 Agustus 1994 – dan Ging berada di pusaran inti perlawanan itu.

Ging bersama AJI kemudian melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Presiden Suharto dengan menerbitkan Suara Independen – yang dikerjakan dan disebarkan ‘di bawah tanah’.

Di penghujung kekuasaan Suharto, Ging pernah mendekam di penjara setelah ditangkap pada 10 Maret 1998 saat digelar Kongres Rakyat Indonesia (KRI) yang bermaksud “memilih secara simbolik presiden versi rakyat”.

Bersama beberapa seniman dan aktivis kebebasan pers, Ging dinyatakan bersalah, tetapi dibebaskan pada hari itu juga. Sehari kemudian Suharto menyatakan mundur sebagai presiden dan digantikan oleh B.J. Habibie.

Setahun setelah reformasi 1998, pria kelahiran Cimahi, Jawa Barat ini, bergabung Kantor Berita Radio, atau sering disebut KBR. Di sini Ging banyak meliput kegiatan seni.

Setelah sempat bergabung dengan radio Jerman, Deutsche Welle, Ging kemudian melanjutkan profesi jurnalistiknya bersama BBC News Indonesia.

Hak atas foto
BBC News Indonesia

Image caption

Ada kesan urakan, doyan bercanda, begitulah, sehingga saya dan beberapa teman di kantor sempat menyimpulkan Ging lebih mirip seniman ketimbang jurnalis yang kaku. Foto: Ging dan beberapa awak BBC Indonesia.

Selama bekerja bersama BBC News Indonesia, dia melaporkan berbagai kasus yang menimpa kelompok minoritas hingga isu perempuan tertindas.

“Dia adalah jurnalis yang brilian dan memiliki prinsip. Dia adalah editor senior yang berani, penuh energi, dan bijaksana. Seorang pemapar cerita yang menarik dan menyenangkan. Dia sekaligus pejuang tak kenal lelah dan tanpa rasa takut dalam melawan ketidakadilan, ketidakpedulian, dan korupsi,” kata Rebecca Henschke, editor BBC News Indonesia.

Hak atas foto
BBC News Indonesia

Image caption

Ging Ginanjar sewaktu sedang siaran di studio BBC di London, Inggris. (Foto atas: Ging Ginanjar dan penulis)

Ging juga dikenal sebagai sosok yang kerap berbagi pengalaman kepada wartawan-wartawan muda. Dia akan sangat gusar apabila wartawan hanya menadahkan mikrofon dan merekam pernyataan-pernyataan narasumber begitu saja tanpa mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis dan mendalam.

Hak atas foto
BBC News Indonesia

Image caption

Wartawan BBC Indonesia, Liston Siregar, penulis, dan Ging Ginanjar, Desember 2015.

Terkesan tidak serius dan murah senyum, Ging selama di BBC seringkali mampu mencairkan suasana melalui seloroh atau cerita lucu-lucu – karakter ini ternyata juga diungkapkan oleh rekan-rekannya di tempat kerjanya yang lama.

Di ruangan kantor, suara Ging paling menggelegar – juga tawanya. Saya baru ingat, dia pernah bercerita bahwa dia dulu pernah menggeluti dunia teater saat kuliah di Bandung.

Ada kesan urakan, doyan bercanda, begitulah, sehingga saya dan beberapa teman di kantor sempat menyimpulkan Ging lebih menyerupai seniman ketimbang jurnalis yang kaku.

Hak atas foto
BBC News Indonesia

Image caption

Sampai menjelang kematiannya, Ging terus menunjukkan semangat hidupnya melalui ide dan sudut pandang liputan. Foto atas: Ging berpose untuk kebutuhan media sosial, tetapi foto ini tidak pernah dimuat.

Melihat latar Ging sebagai aktivis kebebasan pers, saya seringkali memaklumi, bahwa jiwa itulah yang barangkali membentuk cara pandangnya dalam melihat peristiwa dari kaca mata jurnalistik.

Pergaulannya yang luas dengan sumber berita, termasuk kalangan Istana dan tokoh-toko aktivis, terbukti menajamkan sudut pandangnya dalam menempatkan sebuah peristiwa dalam bingkai yang lebih luas.

Hak atas foto
BBC News Indonesia

Image caption

Ging Ginanjar (kanan) dan sebagian redaksi di London, 24 Desember 2014.

Sampai menjelang kematiannya, Ging terus menunjukkan semangat hidupnya melalui ide dan sudut pandang liputan. Saya juga memperoleh kesaksian teman-temannya yang lain juga menangkap semangat itu pada Ging.

Itulah sebabnya, saya tidak percaya, ketika seorang teman bertanya tentang informasi yang menyebut Ging telah meninggal dunia, Minggu (20/1) malam.

“Informasi itu tidak benar, informasi itu tidak benar,” saya berulangkali meyakinkan diri.

Hak atas foto
BBC News Indonesia

Image caption

Sampai menjelang kematiannya, Ging terus menunjukkan semangat hidupnya melalui ide dan sudut pandang liputan. Foto atas: Ging Ginanjar dan redaksi BBC Indonesia.

Tapi keyakinan saya itu runtuh, runtuh, ketika sejumlah teman dekatnya membenarkan kabar duka itu. Kami, yang belajar banyak tentang cara pandangnya dalam menempatkan sebuah peristiwa, berpeluk dan bertangisan.

Kematian adalah bagian dari kehidupan, jadi jangan terlalu difikirkan, kata seorang bijak. Tapi kali ini tetap saja, kematian Ging Ginanjar mengundang ratapan dan kehilangan bagi kami.

Selamat melanjutkan perjalanan, kawan Ging!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *