Pandemi Covid-19, pasien penyakit kronis yang terabaikan: ‘Kalau cepat ditangani, saya yakin anak saya bisa selamat’


Rafa baru berusia tiga tahun saat dia meninggal karena leukimia, setelah ditolak empat rumah sakit. Beberapa rumah sakit menolak karena kelebihan kapasitas, lainnya menyebut harus ada tes Covid-19 sebelum pasien bisa dirawat inap.

Rafa bukan satu-satunya. Ada banyak pasien penyakit kronis yang terlambat penanganannya akibat pandemi Covid-19.

Kasus serupa dialami Suhartono, pasien gagal ginjal yang harus rutin cuci darah. Dia meninggal setelah terlambat cuci darah karena harus mematuhi protokol tes Covid-19.

“Jika tidak terlambat ditangani, saya yakin suami saya tidak akan meninggal,” kata Nurasiah, istri almarhum Suhartono. “Cuci darah kan harus rutin dan dokter tahu itu, tapi kenapa saat ada virus corona ini, malah dihambat?” tambahnya.

Rafa dan Suhartono termasuk dalam kematian tidak langsung akibat pandemi Covid-19, ketika pasien dengan penyakit kronis terlambat ditangani karena rumah sakit sibuk mengurus pasien dengan virus corona.

Di Indonesia, tidak tersedia data jumlah kematian tidak langsung secara nasional, namun data untuk Jakarta menunjukkan angka kematian lebih tinggi 55% dibandingkan rata-rata, pada periode 1 Maret sampai 31 Mei, dengan jumlah total 4.700 orang yang meninggal lebih banyak dari periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

Angka kematian resmi akibat Covid-19 di Jakarta pada periode itu tercatat 517, sementara semua kematian tak langsung lain 4.214.

Sejumlah kematian tersebut dikategorikan sebagai kematian pasien Covid-19 yang tidak terdata, namun sebagian kematian lain adalah akibat dari sistem kesehatan yang kewalahan menangani wabah dan akibat dari sejumlah faktor lain.

Produser: Lesthia Kertopati

Video Editor: Anindita Pradana

Reporter: Raja Eben Lumbanrau

Kameraman: Said Hatala Sotta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *