Pertandingan Persija-Persib dipandang ‘paling rawan’ terjadi kekerasan

Pemakaman Haringga Sirilia, pendukung Persija yang meninggal dunia karena serangan fans Persib.Hak atas foto ANTARAFOTO
Image caption Pemakaman Haringga Sirilia, pendukung Persija yang meninggal dunia karena serangan fans Persib.

Pertandingan Liga 1 PSSI dijadwalkan akan dimulai lagi akhir pekan ini, setelah PSSI sempat menerapkan pembekuan karena terbunuhnya pendukung Persija, Haringga Sirilia, oleh pendukung Persib pada Selasa malam (25/09).

Kekerasan terkait dengan pertandingan sepak bola meningkat. Dari tahun 1995 sampai tahun 2018 sudah lebih 20 orang meninggal dunia karena perkelahian, kecelakaan dan penyebab lain.

Khusus soal kekerasan terkait pertandingan antara Persija dan Persib, tercatat sejak 2012 sudah tujuh orang yang tewas karena perkelahian.

Berbagai pihak, mulai dari pihak penegak hukum, pemerintah, organisasi sampai ke klub masing telah melakukan berbagai hal untuk mengatasi hal ini. Jadi apa lagi yang bisa dilakukan?

Hak atas foto GETTY IMAGES/ DASRIL ROSZANDI
Image caption Salah satu penyebab utama kekerasan antar klub adalah fanatisme daerah.

Peta kerawanan

Pertandingan sejumlah klub sepak bola dipandang memang rawan terjadinya kekerasan, termasuk pembunuhan, seperti yang dilakukan fans Persija Jakarta, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, dan Arema Malang.

“Yang pertama tentu adalah Persija-Persib, itu rawan. Kemudian Persebaya-Arema. Tapi bisa juga Persija-Persebaya. (Karena) selalu menarik minat pendukung yang besar di dua kesebelasan ini.”

“Dibumbui dengan tawuran, baik di dalam stadion maupun di sepanjang perjalanan mereka menuju ke tempat pertandingan atau pulang ke rumahnya masing-masing,” kata Umar Husin, Wakil Ketua Komite disiplin PSSI, kepada Nuraki Aziz, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

“Titik rawan dari Persija dan Bandung ini adalah daerah-daerah perbatasan DKI dan Jawa Barat. Itu wilayah Bogor, Depok dan Bekasi. Dan sekarang sudah bergeser ke daerah pantai utara,” tambah Umar.

Kebanyakan orang menjadi korban bukanlah di dalam stadion, tetapi di jalan dan jalur-jalur yang mempertemukan kedua pendukung.

Pada era 1970-an sampai 1980-an memang terjadi persaingan antarklub, tetapi tidak terjadi kerusuhan. Baru pada tahun 2003, dipandang terjadi gesekan keras antara Persija-Persib.

Salah satu penyebab kekerasan ini memang adalah sentimen kedaerahan, kata wartawan yang sejak lama meliput berita olah raga, Budiarto Shambazy.

“Sebenarnya kalau di Indonesia itu, awal dari semua itu persaingan antardaerah. Jadi ini yang namanya klub kan mewakili daerah. Ada PSM Makassar, Persebaya Surabaya, Persib Bandung, PSMS Medan, Persija Jakarta … Mereka itu selalu benci kepada Persija. Persija itu Jakarta. Perlambang dari ibu kota, yang dari dulu dianggap kurang mengurus daerah … Muaranya satu, fanatisme daerah,” kata Budiarto.

Hak atas foto GETTY IMAGE/ TIMUR MATAHARI
Image caption Hukuman skors dipandang dapat efektif dalam mengatasi keberandalan para suporter sepak bola.

Hukuman

Berbagai pihak telah melakukan usaha untuk mengatasi peningkatan kekerasan terkait dengan sepak bola. Salah satu adalah pemberian sanksi kepada klub, pendukung dan penyelenggara.

“Kita memberikan sanksi yang memang tujuannya untuk pencegahan dan perbaikan. Klub selama jangka waktu sisa kompetisi ini tidak diperkenankan sama sekali menggelar pertandingan, main di home, di Bandung. Penonton juga selama satu tahun tidak bisa menonton Persib.”

“Orang-orang yang terlibat dalam kepanitiaan kita hukum tidak boleh lagi menjadi panitia pelaksana pertandingan,” Umar Husin menjelaskan hasil sidang komite pada hari Senin (01/10).

Pendidikan dipandang hal yang penting dalam mengatasi kekerasan penggemar sepak bola. Edukasi ini perlu melibatkan semua pihak, mulai dari pemerintah setempat sampai ke suporter.

“Pemerintah setempat itu harus ikut serta. Para pengurus berupaya bagaimana meredam, dari yang berbau rasis, mulai dari atribut, mulai dari lagu. Dan semuanya harus diterapkan secara terus menerus. Dihilangkan rasa-rasa yang bagaimana memancing emosi pihak lawan itu harus mulai diredam,” kata Muhammad Larico Ranggamone, anggota Dewan Pembina Jakmania, klub fans Persija.

Hak atas foto AFP/GETTY IMAGES
Image caption Gelora Bung Karno Jakarta menjadi tempat terjadinya kekerasan dalam pertandingan Persija melawan Bali United pada hari Minggu (18/02).

“Keputusan yang diambil PSSI sekarang itu tepat. Persija, Jakmania pernah mengalami hal yang sama ketika kita harus setengah musim dibuang ke Jawa Tengah. Ketika kita delapan bulan pernah juga dibuang ke Jawa Timur. Itu edukasinya,” Rico menjelaskan lebih jauh.

Salah satu hal yang perlu dilakukan untuk mengatasi kemungkinan terjadinya kekerasan adalah ketegasan pihak keamanan. Mulai dari saat keberangkatan ke stadion sampai saat para fans pulang.

“Aparat keamanan harus lebih tegas. Selama ini dianggap kurang tegas karena proses pengawalan masing-masing suporter itu hanya terjadi di sekitar stadion dan di dalam stadion. Kalau di negara-negara yang sudah maju sepak bolanya proses pengawalan dilakukan sejak suporter mau pergi ke stadion,” kata wartawan Budiarto.

Pihak intelijen juga harus menggiatkan aksi untuk mengetahui pemicu keributan, tambah Budiarto, selain juga PSSI menunjuk direktur suporter untuk mendidik para penggemar sepak bola.

Terkait dengan tindak kriminal pembunuhan, Budiarto mengatakan: “Hukuman harus keras. Kalau mau ini sebagai kematian terakhir maka untuk sementara bobotoh, atau Viking, para penggemar atau suporter Persib Bandung tidak boleh pakai atribut mereka lagi. Pakai atribut, tangkap. Tegas, nggak boleh lagi.”

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Kerusuhan pertandingan Juventus-Liverpool tahun 1985 di Heysel, Belgia yang menewaskan puluhan orang.

Cermin masyarakat atau sepak bola?

Dengan meningkatnya tindak kekerasan di kalangan pendukung sepak bola dalam beberapa tahun ini menimbulkan pertanyaan apakah olahraga ini dapat mewakili karakter masyarakat?

“Kalau faktor-faktor umumnya bukan khas Indonesia. Di mana saja kan, bahkan di luar lebih beringas juga. Cuman pak Muhtar Lubis membuat buku tentang orang Indonesia, memang ada beberapa karakter yang kurang baik yang beliau sebut,” kata Umar Husin dari PSSI.

“Tetapi tetap semua masih harus diuji. Karena saya yakin pada dasarnya manusia kan baik. Nggak ada manusia yang watak dasarnya jahat. Lingkunganlah yah membuat dia menjadi jahat,” Umar menegaskan.

Sementara wartawan Budiarto Shambazy mengatakan kekerasan ini mewakili sepak bola, bukannya sifat bangsa Indonesia.

“Sepak bola memang begini. Jangan lupa Honduras-El Salvador dulu tahun 70-an perang gara-gara sepak bola … Kita ingat juga dulu, tragedi Heysel di Belgia, tahun 1985, final Liverpool melawan Juventus, 38 mati,” kata Budiarto.

Klub-klub Inggris kemudian meminta diskors dari kompetisi Eropa agar bisa melihat, merefleksi, mengevaluasi agar dapat mengatasi keberandalan. Sejauh ini, sampai sekarang mereka bersih dari hooliganism setelah diskors selama beberapa tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *