Politik seksualitas film The Favourite yang menulis ulang sejarah


Hak atas foto
20th Century Fox

Dengan 10 nominasi Oscar, termasuk film terbaik dan sutradara terbaik, The Favorite membuat tren untuk film-film tentang sejarah yang mengarah pada pembentukan ulang genre film tersebut, tulis Emma Jones.

Olivia Colman yang dinominasikan di ajang penghargaan perfilman Oscar dan pemenang Golden Globe untuk penampilannya sebagai Ratu Anne di The Favorite, mengatakan kepada BBC bahwa dia percaya film tentang sejarah telah “membentuk ulang genre tersebut. Ini memang masih berantakan dan Anda hampir dapat mencium era yang dikisahkan dalam film itu”

Hubungan cinta yang terkenal antara Ratu Anne dan Sarah, Duchess of Marlborough, menjadi favorit untuk musim penghargaan film. Terlepas dari kemenangan Golden Globe, film ini telah menerima 10 nominasi Oscar dan 12 nominasi penghargaan film Inggris, Bafta.

The Favorite mengungguli sejumlah besar film sejarah yang telah dirilis dalam beberapa bulan terakhir.

Potongan-potongan periode sejarah tak bisa begitu saja diwujudkan dalam adegan, karena untuk menghadirkan kostum, kastil, dan pasukan kavaleri yang sesuai jamannya, biayanya tidak murah.

Dalam sejarah film baru-baru ini, hanya epos seperti Braveheart (1995) dan Gladiator (2000) yang memiliki anggaran besar, lebih dari US$100 juta, atau senilai Rp1,4 triliun.

Film-film ini di atas membawa pulang Oscar, namun film lainnya lebih sering berada di posisi kedua, termasuk Elizabeth (1998); The Lion in Winter (1968) dan bahkan Cleopatra (1963) yang pada saat itu adalah film termahal yang pernah dibuat.

Seperti yang dialami Ridley Scott, sebagai pemenang lima Oscar untuk Gladiator sekaligus pengambil gambar adegan pertempuran secara jenius sekalipun tidak dapat menyelamatkan film Kingdon of Heaven (2005) yang diabaikan oleh banyak orang.

Bersaing dengan The Favorite adalah drama karya sutradara Josie Rourke tentang monarki yang lebih terkenal, Mary Queen of Scots.

Netflix menghabiskan US$120 juta untuk pesaing William Wallace, yaitu Robert the Bruce di The Outlaw King. Sementara Mike Leigh mengabdikan lebih dari 150 menit untuk Peterloo, film tentang pembantaian politik yang terjadi di Inggris pada 1819.

Di Prancis, Pierre Schoeller membuat Un Peuple et son roi, yang mengisahkan bentangan sejarah mulai dari penyerangan Bastille pada 1789 hingga eksekusi Raja Louis pada 1792.

Ironisnya, sejarah terkini yang memungkinkan sebagian besar film-film ini dibuat.

“Fokus dalam film-film sejarah biasanya melalui pandangan pria kulit putih dengan fokus pada sosok ‘juru selamat’ berkulit putih,” jelas Larushka Ivan-Zadeh, kepala kritikus film untuk surat kabar Metro.

Hak atas foto
20th Century Fox

Image caption

Film The Favourite karya Yorgos Lanthimos menyabet 10 nominasi Oscar tahun ini

“Perubahan yang mendebarkan baru-baru ini adalah lensa dan fokus berubah sehingga kita akhirnya mendapatkan perspektif non-putih, non-laki-laki tentang sejarah.”

Sutradara film TheFavorite, Yorgos Lanthimos mendukung teori ini. Dia mencoba mengembangkan film tersebut selama sembilan tahun, sampai akhirnya berkelindan dengan gerakan pendanaan cerita yang dibintangi tokoh utama wanita.

“Yang paling penting tentang film ini bagi saya adalah bahwa itu adalah kisah tentang tiga wanita dan itu adalah sesuatu yang masih jarang Anda lihat di layar; kisah nyata tentang wanita yang mampu memengaruhi kehidupan begitu banyak orang di sekitar mereka,” katanya kepada BBC Culture.

‘Raja juga manusia biasa’

Narasi tentang seorang perempuan yang memegang kekuasaan di antara pria-pria sezamannya telah menemukan resonansi baru bagi generasi yang peduli akan kesetaraan.

Ini juga alasan mengapa sutradara film Mary Queen of Scots yang berasal dari Inggris, Josie Rourke, berpendapat film itu diputar di layar pada saat ini.

Kedua ratu yang tampil dalam film, Mary of Scotland dan Elizabeth I, masing-masing diperankan oleh Saoirse Ronan dan Margot Robbie, menderita seksisme sehari-hari dari teman-teman lelaki mereka.

“Mereka dikelilingi oleh penasihat pria dan film ini memberikan petunjuk tentang apa yang mereka hadapi sehari-hari,” jelasnya.

Hak atas foto
Universal Pictures International

Image caption

Mary Queen of Scots dibintangi Margot Robbie sebagai Ratu Elizabeth I dan Saoirse Ronan sebagai ratu yang namanya dijadikan judul film itu

“Ada beberapa elemen fiksi dalam film ini, seperti pertemuan fisik antara para ratu yang tidak terjadi dalam sejarah, tetapi saya benar-benar berharap tidak ada yang berpikir bahwa kita telah menggambarkan misogini fiksi.”

Tetapi meskipun Margot Robbie mendapat nominasi Bafta, dan penampilan Ronan sangat dipuji, Mary Queen of Scots gagal membuat sebanyak mungkin nominasi di Academy Awards, selain dari kategori kostum dan dan make-up terbaik.

Ivan-Zadeh berpendapat bahwa supremasi The Favourite tidak bisa dihindari.

“Saya pribadi paling bersemangat tentang Mary Queen of Scots,” katanya, “di mana sutradara perempuan membingkai ulang dan mendefinisikan kembali bagaimana kita melihat Mary dan Elizabeth sebagai penguasa yang kuat, tetapi juga terkungkung sebagai perempuan.

“Tapi The Favorite lebih mungkin untuk bermain-main di genre karena memakai sejarahnya begitu ringan dan tidak sopan.

“Ini menawarkan perspektif yang didorong oleh perempuan tentang sejarah, tetapi juga merupakan pelarian yang absurd, didukung bukan hanya oleh satu penampilan perempuan, tetapi tiga—unik untuk pesaing Oscar lainnya yang dapat saya pikirkan.

“Ini menggerakkan semangat Time’s Up (gerakan mengakhiri seksisme, pelecehan seksual, ketidaksetaraan di tempat kerja), tetapi dengan cara yang menyenangkan dan tidak mengancam para pemilih yang lebih konservatif. “

Namun, mungkin tidak ada pemikiran ulang tentang peran seks dalam sejarah kerajaan tanpa kekuatan Game of Thrones.

Novel-novel George RR Martin memiliki unsur-unsur tertentu secara longgar berdasarkan pada sejarah abad pertengahan Inggris; novel pertama diterbitkan pada tahun 1996, sekitar waktu yang sama dengan film Braveheart, epik lain yang seksi dan keras berdasarkan sejarah nyata, dirilis.

Sejak 2011, angka menonton untuk serial TV HBO naik menjadi 30 juta di seluruh dunia. Ini mengikuti seri seperti The Tudors, mempengaruhi penciptaan seri lain seperti The Viking dan The Last Kingdom, dan Josie Rourke mengakui itu hanya masalah waktu sebelum meresap ke dalam budaya film.

“Cara Game of Thrones berpikir tentang seks dan seksualitas lebih jujur daripada yang terlihat sebelumnya dari drama periode yang sama yang kita lihat,” katanya.

“Dengan kembali ke sejarah dengan cara lebih jujur, mereka telah melakukan hal-hal termasuk ‘de-queering‘ dari periode drama, jadi sekarang kita dapat menceritakannya dengan lebih akurat.”

Hak atas foto
HBO

Image caption

Berdasar kisah abad pertengahan, novel George RR Martin dan serial TV Game of Thrones membentuk kultur tersendiri dalam perfilman

Potongan sejarah saat ini bisa membuat wajah Braveheart akan memerah – Mary Queen of Scots berurusan dengan menstruasi dan biseksualitas suami Mary, sementara The Favorite berpusat di sekitar seksualitas Queen Anne dan tidak malu untuk menunjukkannya.

Sementara itu, The Outlaw King memberikan visual setengah telanjang dalam bentuk Chris Pine sebagai Robert the Bruce, yang dijelaskan sutradara David Mackenzie diperlukan untuk menunjukkan “raja juga manusia” – tetapi yang terbukti menjadi titik pembicaraan terbesar film ini di media sosial.

‘Cerita di atas sejarah’

Politik seksual sejarah mungkin menarik bagi khalayak pada 2019; politik aktual kurang begitu.

The Outlaw King, yang dirilis Netflix di bioskop di Skotlandia, dikembangkan setelah referendum 2014, dan kebangkitan dukungan untuk kemerdekaan Skotlandia, meskipun David Mackenzie mengaku dia “gugup dengan paralel kontemporer karena alasan yang jelas. Ini adalah kisah berusia 700 tahun. “

Potongan pertama The Outlaw King ditampilkan di Toronto International Film Festival, yang secara tradisional menjadi landasan peluncuran untuk film-film yang diprediksi akan mendapat nominasi Oscar.

Akan tetapi, film ini digambarkan oleh David “memiliki semua karakteristik epik sejarah yang meluas – aksi kamera yang mulia, diisi diisi dengan balas dendam dan plot twists, banyak pidato, penjahat Inggris dengan potongan rambut hipster – tetapi film ini tidak terasa emosional atau romantis.”

Dengan kata lain, Braveheart tanpa hati.

Hak atas foto
Netflix

Image caption

Serial The Outlaw King yang disiarkan Netflix dirancang setelah referendul Skotlandia pada 2014

Peterloo, yang dengan setia menciptakan kembali kehidupan nyata pekerja Inggris untuk mencari hak pilih, diakui secara kritis, tetapi mungkin menderita karena “terlalu historis” menurut Larushka Ivan-Zadeh. Un peuple et son roi juga fokus pada pidato yang dibuat pada awal demokrasi modern Prancis pada 1789, dan pemirsa Prancis menjauh.

Penonton sinema Irlandia-lah yang menemukan antusiasme terhadap sejarah nasional dengan Black ’47, yang mengisahkan kelaparan Irlandia abad ke-19.

Disutradarai oleh Lance Daly dan dibintangi oleh bintang film Matrix, Hugo Weaving, film ini sebagian dibuat dalam bahasa Irlandia dan grafik dalam penggambaran penderitaannya, menghasilkan lebih dari 1 juta euro di box office Irlandia pada tahun 2018.

Hak atas foto
Amazon Studios

Image caption

Drama sejarah karya Mike Leigh di film Paterloo berpusat pada pembataian politis di Inggris pada 1819

Namun Black ’47 mungkin melibatkan penonton Irlandia dengan plot tentang pembunuhan tentara terhadap tuan tanah Inggrisnya.

“Sebuah film fitur tentang kelaparan yang saya tahu belum pernah dibuat sebelumnya, dan ada perasaan luar biasa dari kemarahan yang ditekan tentang hal itu. Ini film balas dendam ya, dan dipenuhi dengan rasa sakit dan kehilangan dan kesedihan, ” kata Hugo Weaving.

“Ini bukan hanya sesuatu dari Hollywood.”

Daya tarik utama dari setiap film yang mengisahkan periode sejarah tertentu ini, termasuk The Favorite, menurut Yorgos Lanthimos, adalah untuk selalu menempatkan cerita di atas sejarah.

“Kami membuat keputusan secara sadar bahwa kami akan menyimpan apa yang menarik untuk cerita itu, tetapi kami membuatnya jelas bahwa itu bukan film sejarah yang akurat. Anda dapat belajar sejarah darinya dan jika Anda tertarik tentangnya, Anda dapat membacanya. Kami ingin menjelajahi karakter perempuan ini secara mendalam, daripada memberikan informasi.

“Kami juga mencoba membuat sesuatu yang terasa kontemporer dalam pengaturan periode, kami menggunakan kain kontemporer dan bahasa kami, bukan bahasa periode itu.

“Dan kami memang memiliki pesan yang relevan – bahwa orang-orang yang berkuasa, tidak peduli jenis kelamin mereka, dapat mengubah kehidupan ribuan orang lain di sekitar mereka karena suatu keputusan atau suasana hati yang mereka miliki satu hari.”

Terlepas dari apakah The Favorite menang di musim penghargaan tahun ini atau apakah itu juga berada di urutan kedua dari film kontemporer, Larushka Ivan-Zadeh merasa bahwa pembuatan film periode kuno akhirnya telah diseret ke dalam modernitas.

“Film-film yang dibuat dalam sejarah seperti Lady Macbeth dan sekarang Mary Queen of Scots memiliki penokohan yang ‘buta warna’, dan saya merasa itu menyegarkan. Sejarah tidak ditulis dalam batu.

“Ini terus-menerus ditulis ulang dan sangat menggembirakan dan sangat lama untuk mendapati perempuan, LGBTQ dan aktor, sutradara dan penulis naskah non-kulit putih, menjadi orang yang menulis ulangnya.”

Anda bisa menyimak versi bahasa Inggris dari artikel ini, The Favourite’s bold sexual politics are rewriting history di laman BBC Culture

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *