Poso yang tidak Anda ketahui: Kesaksian agen perdamaian Poso, Lian Gogali


Hak atas foto
Twitter Lian Gogali

Poso tidak melulu tentang pengejaran kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) atau pembahasan berlarut-larut tentang konflik komunal 20 tahun lalu.

Lebih dari itu, masyarakat Poso sudah hidup dalam kebersamaan, keberagaman dan toleransi, jauh sebelum mereka mengenal istilah toleransi. Bagaimana sebenarnya Poso yang tidak kita ketahui?

Seorang perempuan yang menjadi agen perdamaian Poso, Lian Gogali, menyebut narasi berita saat konflik terjadi justru jadi pemicu mobilisasi massa yang menyebabkan konflik malah berlarut-larut.

Maka dari itu, ruang untuk membangun kesadaran melawan stigma tentang Poso sangat diperlukan.

“Kita sangat dimanipulasi oleh cerita konflik yang membuat kita tak kenal Poso, cerita solidaritas bagaimana muslim dan Kristen saling membantu senyap oleh wacana baru yang ditawarkan oleh media massa selama 20 tahun terakhir,” kata Lian kepada wartawan BBC News Indonesia Silvano Hajid.

Dalam ingatan perempuan berusia 40 tahun ini, dahulu kala, Poso merupakan daerah yang harmonis.

“Saya besar di lingkungan Muslim dan Kristen, yang Kristen biasa ikut takbiran, yang Muslim kadang menghibur dan berpenampilan seperti Yesus ketika natal, itu hal yang biasa bagi kami,” tutur Lian, teringat akan masa lalunya.

Dia menambahkan, masyarakat Poso sudah hidup dalam kebersamaan, keberagaman dan toleransi, jauh sebelum mereka mengenal mengenal istilah ‘toleransi’.

“Kami tak kenal kata itu, bagi kami, kebersamaan itu ada sebelum kata toleransi dihembus-hembuskan seperti sekarang,” ucap Lian.

Hak atas foto
Twitter Lian Gogali

Image caption

Para ibu di Institut Mosintuwu mulai berani berpendapat dan mengutarakan aspirasinya untuk pembangunan Poso

Nostalgia kebersamaan itu yang membuat Lian berpikir harus membentuk forum agar trauma pasca konflik bisa diatasi.

Dia kemudian mendirikan Institut Mosintuwu, sebuah ruang pendidikan bagi perempuan untuk membangun kembali Poso pasca konflik.

Pembentukan sekolah itu bukan tanpa dasar.

Berdasar penelitian yang ia lakukan beberapa tahun setelah konflik di Poso dan mewawancarai ratusan perempuan dan anak di pengungsian, perempuan Poso memiliki peranan penting dalam masyarakat, antara lain sebagai pemimpin spiritual, hakim, dan pembuat keputusan.

“Saat perempuan diberikan pengetahuan, mereka jadi sangat militan, karena memiliki konsep untuk menjaga kehidupan yang lebih besar,” tambah Lian.

Kini, sekolah perempuan sudah memiliki 500 alumni dari berbagai desa di Kabupaten Poso, sementara 300 lainnya terdaftar dalam sekolah itu. ‘

“Kami membangun jaringan komunikasi antar komunitas, membuat diskusi kritis dan saling menjaga satu sama lainnya,” tambah Lian.

Kegiatan di kelas diskusi itu antara lain membahas pembangunan di Poso, membuat konsep naskah akademik dan usulan peraturan daerah tentang partisipasi perempuan dan Undang-Undang Desa.

Hak atas foto
Institut Mosintuwu

Image caption

Berbagai penghargaan diraih Lian Gogali dalam upayanya menyatukan ibu-ibu dari banyak desa di Poso

Tak hanya di atas kertas, jaringan ibu-ibu yang dibentuk Lian juga beberapa kali berperan aktif menangkal berita bohong yang tersebar di tengah masyarakat.

“Pada 2015 ada SMS berantai, bahwa ada kelompok bersenjata yang akan mendatangi rumah-rumah, kami saling berkomunikasi lewas SMS, dan menangkal pesan itu,” tambahnya.

Contoh lainnya, saat warga pesisir Poso yang mayoritas muslim kekurangan bahan pangan saat operasi pengejaran kelompok MIT berlangsung, disebabkan keterbatasan waktu untuk berkebun, sehingga hasil panen menyusut.

“Lewat jaringan komunikasi antar ibu, daerah Nasrani yang melimpah hasil pangan memberikan stok makanan selama satu pekan kepada warga di Poso Pesisir,” ujar Lian.

Selain itu, saat jam malam diberlakukan untuk menjamin keamanan warga Poso ketika operasi Tinombala berlangsung, Lian beserta ibu-bu lain berkumpul di tengah kota, mengadakan aksi damai dan meyakinkan warga lainnya bahwa Poso sudah aman.

Hak atas foto
Institut Mosintuwu

Image caption

Lian Gogali bersama tim yang mewujudkan sekolah perempuan di Poso

Lebih lanjut, Lian menegaskan apa yang dia lakukan adalah mengembalikan identitas Poso, dengan memupuk keberanian para perempuan untuk berpendapat dan berkumpul meski beda keyakinan.

Sebelum sekolah itu dibentuk pada 2009, tidak ada kegiatan serupa yang mampu mengumpulkan ratusan ibu.

“Sekolah ini sebagai bukti kami sedang berusaha membangun solidaritas kembali, kami juga memiliki cita-cita bahwa masyarakat dapat dilibatkan dalam setiap kebijakan daerah,” tuturnya.

Kedua usaha itulah yang sedang ditempuh para ibu dari Poso.

Sekolah itu kemudian berkembang menjadi ruang diskusi tak hanya bagi perempuan, namun juga bagi pemuka agama, tokoh lokal, hingga budayawan.

Sebagai penampung aspirasi ibu di Poso, Lian juga mengembangkan Institut Mosintiwu menjadi rumah aman dan perlindungan bagi perempuan dan anak-anak, termasuk membentuk perpustakaan.

Pengejaran kelompok MIT berlangsung, warga tak bisa berkebun

Lian mengungkapkan bahwa ketika bertahun-tahun aparat mengejar kelompok MIT yang bersembunyi di belantara Poso, warga lah yang paling dirugikan.

“Yang tercatat di media adalah bagaimana pengejaran terorisnya, atau berapa jumlah terorisnya, dan yang tidak tercatat adalah tentang penghasilan warga yang berkebun di daerah pegunungan dan hutan, karena itu bisa jadi tempat persembunyian kelompok bersenjata itu,” Kata Lian.

Dia juga menambahkan, berdasar keterangan warga Tangkura (Kabupaten Poso) yang ia wawancara pada 2014 hingga 2015, rata-rata penghasilan dari berkebun, terutama cokelat, turun sebanyak 70%.

“Kebun harus dikunjungi terus, karena pohon cokelat rentan hama, tapi karena ada pembatasan jam ke kebun, pohon terbengkalai,” tambah Lian.

Image caption

Pemeriksaan kendaraan kerap dilakukan di perbatasan kabupaten hingga sudut Kota Poso, utuk memutus distribusi logistik bagi kelompok MIT

Lian juga memaparkan bahwa dampak lainnya saat berkebun, warga bisa jadi sasaran tembak kedua belah pihak, dan dianggap partisipan kelompok bersenjata itu.

“Yang terpenting adalah, warga benar-benar dilibatkan, bukan dalam pengejarannya, namun polisi harus memperhatikan bagaimana warga bisa mengakses kebunnya dengan rasa aman,” kata Lian.

Menurutnya, pada 2018, beberapa petani cokelat di Tangkura yang ia wawancarai mengaku, penghasilannya lambat laun meningkat.

“Sepanjang tahun (2018) pengejaran kelompok bersenjata (MIT) tidak terdengar lagi, sehingga muncul rasa aman, terutama tidak ada pembatasan jam lagi,” tambahnya.

Insiden ditemukannya korban mutilasi dan baku tembak antara kelompok MIT yang diduga dipimpin oleh Ali Kalora pada 31 Desember 2018 lalu, menuruti Lian, tidak mempengaruhi semangat warga Poso merajut kembali solidaritas agar identitas Poso yang harmonis kembali lagi pasca-konflik berkepanjangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *