Sengketa China dan India: Menlu kedua negara saling menyalahkan menyusul perkelahian antar tentara di perbatasan yang menewaskan 20 orang


Hak atas foto
EPA

Image caption

Tentara penjaga perbatasan India di Jammu, Kashmir.

Menteri luar negeri China dan India saling protes menyusul bentrokan di wilayah sengketa Himalaya yang menyebabkan kematian 20 tentara India.

Menteri luar negeri India, Subrahmanyam Jaishankar menuduh China terlebih dahulu ingin membangun infrastruktur di wilayah India, akan tetapi menteri luar negeri China, Wang Yi menuding pasukan India menyerang terlebih dahulu.

Namun, dalam perbincangan melalui telepon, masing-masing pihak berjanji untuk tidak membuat situasi makin memburuk.

Ini merupakan bentrokan mematikan di perbatasan wilayah dua negara dalam kurun waktu 45 tahun terakhir.

Para tentara melaporkan kedua kubu saling baku hantam dengan tongkat dan pentungan, tak menggunakan senjata api.

China tidak mengumumkan korban yang jatuh dari pihaknya. Namun, laporan yang tak dapat dikonformasi dalam pemberitaan media di India mengatakan, sedikitnya 40 tentara China tewas dalam peristiwa tersebut. Sejumlah tentara India juga diyakini masih hilang.

Sebelumnya, Perdana Menteri India, Narendra Modi mengatakan, kematian tentaranya “tidak akan sia-sia” dan India akan “bangga dengan tentara yang meninggal dalam pertempuran melawan tentara Cina” dalam bentrokan di daerah Ladakh, Senin kemarin.

Saat pertama kali menanggapi peristiwa itu, Narendra Modi kepada media televisi mengatakan: “India menginginkan kedamaian, tapi ketika diprovokasi, India mampu memberikan memberikan jawaban yang tepat, dalam situasi apa pun.”

Apa yang dikatakan dua diplomat?

Dalam sebuah pernyataannya dalam percakapan telepon, pemerintah India menuduh tentara China berusaha membangun infrastruktur di batas wilayah India yang paling penting dan strategis yaitu Lembah Galwan.

Hal ini digambarkan sebagai “tindakan terencana dan secara langsung, bertanggung jawab atas kekerasan dan jatuhnya korban” dan mendesak Cina untuk “mengambil langkah perbaikan”

Image caption

Peta perbatasan India-Cina

Pernyataan itu menyimpulkan bahwa tak ada pihak yang akan mengambil tindakan untuk membuat situasi semakin memanas.

Sementara itu, pihak China melalui Wang mengatakan, “China sekali lagi menyatakan protes keras kepada India dan meminta India untuk melakukan investigasi secara menyeluruh… dan menghentikan semua tindakan provokasi untuk memastikan hal ini tidak terjadi lagi.”

“Masing-masing pihak harus menyelesaikan perselisihan ini melalui dialog, dan menjaga perbatasan tetap aman dan tenang,” dia menambahkan.

Bagaimana kejadiannya?

Pertikaian tentara China dan India terjadi di wilayah dengan tanah terjal dan bebatuan, Lembah Valley.

Media di India melaporkan tentara yang terlibat perkelahian dengan menggunakan tangan, dan beberapa “dipukuli sampai mati”. Selama perkelahian terjadi, salah satu surat kabar melaporkan, ada juga yang jatuh atau didorong ke sungai.

Hak atas foto
Reuters

Image caption

Foto satelit untuk gambar Lembah Valley tempat di mana dua pasukan saling serang.

Tentara India awalnya mengatakan seorang kolonel dan dua serdadu telah meninggal. Kemudian mengatakan kembali “17 tentara India yang mengalami luka serius di garis pertempuran” telah meninggal, sehingga “total yang tewas dalam peristiwa ini sebanyak 20”

“Saya memahami bahwa sejumlah tentara India telah hilang. Kami masih bekerja untuk membebaskan mereka dari tahanan Cina,” kata analisis pertahanan, Ajai Shukla kepada BBC.

Tentara India diperkirakan kalah jumlah dari tentara China.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Tentara India dan China bertemu

Seorang pejabat senior militer India mengatakan kepada BBC, bahwa saat itu jumlah masing-masing pasukan sebanyak 55 orang dari India dan 300 orang dari China yang dia gambarkan sebagai “pasukan berani mati”

“Mereka menghantam anak-anak kami di bagian kepala dengan pentungan besi yang dilapisi dengan kawat. Anak-anak kami melawannya dengan tangan kosong,” kata pejabat yang enggan disebut namanya.

Akunnya, tak dapat diverifikasi. Akan tetapi informasinya sama dengan berita-berita yang dilaporkan media India secara rinci tentang pertempuran yang kejam.

Bentrokan ini telah memicu protes di India, sejumlah orang membakar bendera China.

China belum mengkonfirmasi jumlah tentaranya yang tewas atau terluka. Wartawan BBC di Beijing, Robin Brant mengatakan bahwa China tak akan pernah memberikan konfirmasi tentang jumlah tentaranya yang tewas, di luar tugas penjaga perdamaian.

Koresponden kami menambahkan bahwa dalam situasi ini, propaganda China kemungkinan tidak akan menggelorakan jiwa nasionalis di negara mereka dengan membuat semakin banyak kerugian, atau mengakuinya dan melemahkan semangat.

Ini bukan pertama kalinya, tentara dari dua negara tersebut terlibat pertikaian tanpa menggunakan senjata api di perbatasan. Inda dan China memiliki sejarah sengketa dan klaim teritorial yang tumpang tindih di wilayah sepanjang 3,440km (2,100 mil), di mana perbatasan tersebut ditarik dengan garis yang buruk dari dua pihak.

India menahan diri

Analisis oleh Wartawan BBC News di Delhi, Geeta Pandey

Komentar pertama dari pemerintah India menyusul bentrokan di perbatasan itu datang hampir 24 jam setelah berita beredar pada Selasa kemarin.

Dan Perdana Menteri Narendra Modi dan koleganya di kabinet – menteri pertahanan dan menteri dalam negeri – telah menggunakan kata-kata mereka dengan sangat hati-hati.

Biasanya ceplas-ceplos, Modi dan jajaran menterinya kini nampak lebih menahan diri dalam menyampaikan pesan kepada publik, lebih banyak membicarakan rasa berduka atas kehilangan tentara di perbatasan.

Perdana menteri mengatakan :”India menginginkan perdamaian, tapi ketika dihasut, India akan memberikan balasan yang sesuai.” Tapi pesan ini terlihat lebih ditujukan kepada rival politik dan pendukung di negaranya, dari pada memperingatkan Beijing.

China bukanlah Pakistan dan kenangan atas kekalahan yang memalukan pada 1962 itu terlalu nyata untuk segala nasib sial.

Seberapa ‘panas’ area ini?

Garis batas negara sangat buruk. Keberadaan sungai-sungai, danau, dan salju dapat membuat garis batas negara berubah-ubah. Para tentara penjaga perbatasan yang mewakili dua negara dengan jumlah tentara terbanyak – saling bertatap muka di masing-masing sisi wilayah di sejumlah titik.

Patroli di perbatasan sering kali bertemu secara kebetulan, lalu menimbulkan perkelahian.

Penembakan terakhir di wilayah perbatasan ini terjadi pada 1975 saat empat tentara India terbunuh di sebuah jalur tikus di timur laut negara bagian Arunachal Pradesh. Bentrokan itu dengan berbagai cara digambarkan mantan diplomat sebagai serangan mendadak dan kecelakaan.

Sejak saat itu tak ada peluru yang ditembakkan.

Perjanjian kedua negara 1966 menyebutkan, “Tak boleh ada letusan senjata dari dua belah pihak… melakukan operasi peledakan atau berburu dengan senjata api atau meledakkan sesuatu dari jarak dua kilometer dari Garis Kendali Aktual/Line of Actual Control (LCA).”

Image caption

Peta Kashmir

Akan situasi kembali memanas di perbatasan dalam beberapa pekan terakhir ini. Pada bulan Mei, tentara India dan China saling baku hantam di wilayah perbatasan tepatnya di Danau Pangong, juga di Ladakh, dan di negara bagian di timur laut India, Sikkim.

India menuduh China mengirimkan ribuan pasukan ke Ladakh, Lembah Valley dan mengatakan China telah menduduki 38,000 kilometer persegi dari wilayah teritorial. Sejumlah rangkaian pembicaraan pada tiga dekade terakhir ini telah gagal untuk menyelesaikan sengketa perbatasan ini.

Dua negara pernah berperang pada 1962 saat India mengalami kekalahan yang telak.

Ada sejumlah alasan kenapa situasi kembali memanas lagi – namun persoalannya ini sebenarnya ada di akar rumput. Dua negara telah menghabiskan banyak uang dan tenaga untuk membangun jalan, jembatan, jaringan rel, dan lapangan udara di sepanjang perbatasan yang disengketakan.

Hak atas foto
Press Information Bureau

Image caption

India telah membangun jalan baru di kawasan perbatasan.

Baik India dan China sama-sama melihat upaya pembangunan kedua pihak sebagai sesuatu yang harus diperhitungkan untuk mendapatkan keuntungan taktis, dan ketegangan sering kali muncul ketika ada pengumuman proyek pembangunan infrastuktur di kawan perbatasan.

India juga bersengketa dengan Pakistan terkait dengan Kashmir – wilayah dengan ragam entik yang memiliki luas wilayah 140,000 kilometer persegi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *