Upaya evakuasi korban gempa-tsunami Palu: “Kami sudah siapkan peti (jenazah) untuk mama”

paluHak atas foto Antara/Muhammad Adimaja
Image caption Para petugas Basarnas mengevakuasi korban di antara reruntuhan Restoran Dunia Baru di Kota Palu, Minggu (30/9).

Sepekan setelah gempa-tsunami melanda Kota Palu, upaya evakuasi masih berlangsung. Sebagian korban di dalam reruntuhan bangunan, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Adi Gunawan Jusuf sedang berada di kamar mandi lantai dua rumahnya, ketika tiba-tiba gempa mengguncang Kota Palu dan sekitarnya, pada Jumat (28/9) lalu.

Semula dia berpikir guncangan itu hanya berlangsung sejenak. Karenanya, pria berusia 29 tahun tersebut diam di tempat sampai guncangan reda.

“Nyatanya, gempanya nggak berhenti-henti,” ujar Adi, anak kedua pemilik restoran Dunia baru yang runtuh karena gempa.

Merasa gempa tak akan reda, Adi keluar dari kamar mandi dan langsung menuju meja menjangkau telepon genggam dan apapun yang bisa diambil untuk dibawa pergi.

Dia segera berlari keluar ruangannya, tapi langkahnya terhenti. Guncangan gempa semakin dahsyat, hampir sulit untuk berjalan.

Adi merasakan perubahan pola gempa merambat di kakinya. Dari yang semula horisontal menjadi vertikal. Gempanya terasa naik turun di rumahnya yang berlantai empat.

“Badan sampai terlempar ke atas, ke bawah. Saya hanya bisa menutup kepala,” kenangnya.

Hak atas foto Antara/Muhammad Adimaja
Image caption Total ada delapan orang yang terperangkap reruntuhan Restoran Dunia Baru.

Saat gempa mengguncang, tak dinyana bangunan di depannya rontok menimpa kaki dan tangan bagian kanan. Sekuat tenaga dia menarik kaki dan tangannya keluar dari himpitan runtuhan tembok.

“Saya lihat kaki saya luka dan berdarah. Saya tak peduli lagi, saya langsung merangkak keluar lantai dua, kebetulan ada celah dan ada lubang,” tuturnya kepada wartawan di Palu, Helena Rea, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Adi sempat bingung, ketika berhasil keluar dari lantai dua, sebab sebagian lantai ketiga dan keempat telah roboh. Adi mencoba memanjat ke reruntuhan lantai di atasnya.

“Memang sudah runtuh sampai ke bawah, saya lompat sedikit,” ceritanya.

Sementara itu, kedua orang tuanya, Solong Jusuf dan Eviana Kanny, berada di lantai dasar bersama seorang tamu dan karyawan. Secara keseluruhan, terdapat delapan orang di lantai itu.

Dari empat lantai rumah tersebut, lantai dasar merupakan ruang serba guna, biasanya dipakai untuk acara pernikahan tapi hari itu sedang tak ada pesta pernikahan. Bangunan itu berdekatan dengan Restoran Dunia Baru yang juga ambruk.

“Mereka sempat berlari,” ujar Adi, “Mereka bilang papa dan mama masih terperangkap.”

Hak atas foto Helen Rea
Image caption Restoran Dunia Baru yang dimiliki orang tua Adi Gunawan Jusuf kini hanya menyisakan puing-puing.

Tidak ada jawaban

Adi, yang berhasil keluar rumah, berusaha berteriak ke dalam, untuk memastikan apakah kedua orang tuanya sempat menyelamatkan diri. Namun, tidak ada jawaban.

Selagi Adi mencari pertolongan untuk mengevakuasi kedua orang tuanya, kakak perempuan Adi, Lily Jusuf, segera berangkat menuju Palu dari Balikpapan.

Dia tiba di Palu setelah sehari-semalam perjalanan menggunakan kapal laut.

Begitu sampai, Lily langsung membantu Adi dalam mengevakuasi kedua orang tua mereka.

“Adik saya bilang mama dan papa terperangkap. Saya sudah yakin mereka akan sulit keluar hidup-hidup,” ujar Lily.

Setelah beberapa hari bersusah payah, mereka hanya mampu menarik keluar tiga dari delapan orang. Salah satunya ayah mereka, Solong Jusuf.

“Papa sudah kami evakuasi tiga hari yang lalu, kepalanya pecah,” kata Lily.

“Lebih mudah mengevakuasi papa karena kebetulan posisinya berdekatan dengan mobil yang penyet dan masih menyisakan ruang untuk bisa mengeluarkannya. Tapi mama posisinya lebih jauh ke dalam, belum berhasil kami evakuasi,” sambungnya.

Hak atas foto Helen Rea
Image caption Adi Gunawan Jusuf berhasil lolos dari reruntuhan rumahnya, namun kedua orang tuanya meninggal dunia.

Pada Jumat (5/10), atau sepekan setelah gempa-tsunami melanda Palu, mereka mulai mengevakuasi sisa korban di dalam gedung tersebut, termasuk ibu mereka.

“Kami sudah menguburkan papa tanggal 1 Oktober. Tapi kami sudah menyiapkan peti (jenazah) untuk mama,” tutup Lily dengan wajah murung.

Yusuf Latif, Kasubbag Humas Badan SAR Nasional, memperkirakan ada lebih dari 1.000 rumah terkubur sehingga mungkin lebih dari 1.000 orang masih hilang.

Di lain pihak, juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, dalam keterangan pers di Jakarta, hari Jumat (05/10), menyatakan angka korban yang masih dinyatakan hilang bervariasi.

Hal ini disebabkan, antara lain, amblasnya tanah akibat likuifaksi di sejumlah area di Kota Palu, seperti di Kelurahan Petobo dan Perumahan Balaroa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *