Venom: film superhero gelap yang gagal

VenomHak atas foto Sony Pictures
Image caption Venom adalah monster yang pertama kali muncul dalam cerita Spider-Man.

Betapa pun beratnya pekerjaan Anda saat ini, Anda boleh bersyukur Anda bukanlah pegawai humas di Sony Pictures.

Film blockbuster terbaru dari studio itu, Venom, menampilkan monster alien dari komik Spider-Man, yang muncul sebagai penjahat dalam film Spider-Man ketiga Sam Raimi.

Rencana untuk memberi tokoh ini filmnya sendiri telah lama bergulir. Dan sekarang akhirnya terwujud, dengan Tom Hardy sebagai pemeran utama dan Ruben Fleischer (Zombieland) sebagai sutradara.

Namun beberapa hari yang lalu, seorang pewawancara meminta Hardy menyebutkan adegan terbaik dalam film tersebut.

Hardy menjawab: “Adegan-adegan yang tidak ada dalam film”. Ia kemudian menjelaskan bahwa “30 sampai 40 menit” adegan favoritnya telah dipotong dari film jadi. “Adegan dalang gila, adegan komedi gelap… Mereka tidak pernah masuk [di film jadi]”.

Dalam situasi ini, ulasan negatif seperti apa pun mungkin terkesan berlebihan, karena hampir tidak mungkin lebih memberatkan daripada penilaian yang dibuat oleh pemeran utama film itu sendiri. Tapi gampang untuk melihat apa yang mendasari keluhan Hardy.

Venom jelas adalah korban dari proses editing yang brutal, menyisakan film kelas B dengan cerita seadanya yang terpatah-patah dan terburu-buru — tak ubahnya sebuah trailer.

Hardy memerankan Eddie Brock, seorang jurnalis televisi di San Francisco. Eddie membintangi sebuah acara yang populer, meski penampilannya seperti orang yang tidak pernah bercukur dan jarang mandi. Ia ditugaskan membuat laporan profil tentang Carlton Drake (Riz Ahmed), wirausahawan ala Elon Musk yang menginvestasikan miliaran dolar untuk riset ruang angkasa.

Salah satu pesawat ulang-aliknya jatuh di sebuah hutan di Malaysia. Pesawat itu membawa cairan pekat dari luar angkasa yang hidup dan berakal.

Sebagian besar cairan ini dibawa ke laboratorium Drake di California, tempat dilakukan eksperimen untuk menciptakan spesies baru dengan mengikat si cairan hidup dengan inang manusia.

Jangan tanya bagaimana caranya, atau dari planet mana si alien berasal, atau kenapa salah satu dari mereka kelak menyebut dirinya Venom. Detail seperti itu, beserta adegan-adegan favorit Hardy, pasti telah dipotong dari film.

Mungkin adegan favorit Ahmed juga dipotong. Ia berakting seolah-olah bosan dengan penokohannya yang hambar, yang tampaknya kurang cocok sebagai megalomaniak karismatik.

Adapun anak buah Drake, mereka semua diperlihatkan sebagai profesional yang terhormat; tapi hampir tak satupun dari mereka tampak terganggu oleh jumlah manusia yang berubah menjadi mayat dalam eksperimen mereka.

Amoralitas ini meluas sampai ke tunangan Eddie, Anne, yang diperankan oleh Michelle Williams tanpa penokohan yang berarti selain rok pendek tartan dan wig pirang panjangnya.

Mengingat bahwa ia adalah seorang pengacara yang dipekerjakan untuk menutupi penelitian berbahaya Drake, Anda mungkin berharap Anne merasa sedikit bersalah tentang pekerjaan kotornya, tetapi pembuat film ini menampilkannya bak seorang malaikat.

Eddie akhirnya melabrak Drake, tapi ia langsung dipecat dari pekerjaannya di TV keesokan harinya. Eddie kemudian menghabiskan beberapa bulan setelahnya dengan minum-minum di bar karena, ternyata, tidak ada media lain yang mau mempekerjakan “reporter investigatif terbaik di dunia”, dan ia tidak punya website atau kanal YouTube sendiri.

Hak atas foto Albert L. Ortega/Getty Images
Image caption Aktor Tom Hardy mengatakan adegan-adegan favoritnya dipotong dari film.

Film-film jagoan super mungkin memang tidak terkenal karena logika dan realismenya, tapi plot film Venom ini keterlaluan — bahkan sebelum kita membahas tentang “simbiot” cerdas dari planet lain.

Sungguh melegakan ketika akhirnya kita sampai di bagian itu. Ketika Eddie menyelinap kembali ke laboratorium Drake, cairan hitam lengket merayap ke badannya, dan kemudian ia harus membagi tubuhnya dengan makhluk luar angkasa.

Pada awalnya, si alien hanyalah suara kasar di kepalanya, meneriakkan instruksi-instruksi, dan menyela percakapannya. Tapi kemudian ia mengeluarkan sulur-sulur tebal untuk menyerang antek-antek Drake.

Dan akhirnya – setelah hampir satu jam – cairan kental itu menyelimuti tubuh Drake, dan ia berubah menjadi monster hitam besar dengan lidah panjang menjulur dan gigi-gigi setajam pisau. Monster itu adalah mimpi buruk — terutama bagi para dokter gigi.

Namun alih-alih membuatnya menakutkan, film itu dengan cepat menyatakan bahwa Venom adalah karakter konyol yang bukan merupakan ancaman bagi Eddie atau teman-temannya.

Ya, film yang digadang-gadang sebagai alternatif yang lebih gelap, lebih menyeramkan daripada film jagoan super pada umumnya ternyata malah lebih ringan dan lebih ramah-anak daripada kebanyakan dari mereka.

Dalam setengah jam terakhir, Venom menyerah untuk menjadi film horor sci-fi yang kelam dan mencoba menjadi komedi jenaka, dengan aksi kepribadian ganda Eddie/Venom yang, selain mirip Jekyll dan Hyde, juga mirip duo lawak Laurel dan Hardy.

Bagian ini ternyata asyik juga. Hardy menghanyutkan diri ke dalam peran gandanya dengan semangat manik Jim Carrey dalam The Mask dan Steve Martin dalam All of Me. Dan ada beberapa adegan aksi yang bagus ketika sepeda motor dan mobil kejar-kejaran naik-turun di jalanan San Fransico yang curam.

Tapi Venom baru menemukan nada komedinya saat bergegas menuju klimaks antiklimaksnya. Sang simbiot tiba-tiba memutuskan untuk menjadi pahlawan daripada penjahat, dan pada titik itu ia bertemu dengan simbiot lain yang nyaris identik dengan T1000 di Terminator 2: Judgment Day.

Dan kemudian film diakhiri dengan dengan pertarungan antara dua raksasa CGI, adu pukul yang sudah terduga tetapi tanpa ampun yang mengingatkan kita pada The Incredible Hulk pada tahun 2008 silam.

Film itu, Anda mungkin ingat, ditawarkan sebagai episode pertama dalam sebuah waralaba yang panjang, tapi tidak ada sekuel yang pernah dibuat. Kemungkinan besar, sekuel untuk Venom pun tak akan pernah dibuat.

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris ulasan film ini di BBC Culture dengan judul Film review: Venom.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *