Bagaimana rupa perabotan sehari-hari di era Yesus?


Hak atas foto
Sara Toth Stub

Image caption

Koleksi berbagai perabotan sehari-hari di zaman Yerusalem kuno

Di lorong baru di Museum Terra Sancta di Yerusalem, pengunjung akan melewati sebuah jembatan di atas sebuah bekas penampungan air purba yang dibangun setidaknya sekitar 1.000 tahun yang lalu. Museum yang berada di bawah biara Katolik itu akan membuat para pengunjung merasakan nuansa Yerusalem di masa lalu.

“Semua ini penuh dengan kotoran,” kata Eugenio Alliata, direktur museum dan biarawan Fransiskan, sebuah ordo Katolik Roma, ketika dia berdiri di jembatan logam, menghadap ke sebuah reservoir dari batu yang luas di bawahnya.

“Kami bahkan tidak tahu apa yang ada di sini.”

Sambil memandang dan terus berjalan, saya mengikutinya ke ruang batu dari abad ke-13, yang kemungkinan adalah bengkel yang digunakan oleh Tentara Salib saat memerintah Kota Suci saat itu, jelasnya.

Ruangan ini sekarang berisi batu ukir, yang pernah menghias istana mewah Raja Herodes di perbukitan di luar Yerusalem. Sebelumnya, ujarnya, ruangan itu terkubur oleh tanah.

Tetapi proyek restorasi bertahun-tahun telah membuat labirin bawah tanah ini – yang dibangun dan direnovasi sejak zaman Raja Herodes pada abad ke-1 hingga para sultan Mamluk pada periode abad pertengahan – menjadi sebuah museum yang tidak hanya menceritakan sejarah Yerusalem, tetapi juga kisah penemuan arkeologis para biarawan Fransiskan di seluruh wilayah Israel, Palestina, Mesir dan Yordania selama abad terakhir.

Selama lebih dari 100 tahun, para biarawan itu telah melakukan puluhan penggalian di beberapa situs Kristen paling terkenal di kawasan itu, termasuk di Nazareth, Betlehem, dan di kompleks Flagellation yang luas, yang telah menjadi situs ziarah sejak setidaknya sejak Abad ke-4.

Hak atas foto
Sara Toth Stub

Image caption

Sebelumnya, barang-barang itu hanya bisa dilihat oleh masyarakat umum melalui janji terlebih dahulu.

“Arkeologi penting karena ilmu itu menunjukkan kepada kita bagaimana orang hidup di masa lalu. Kita perlu memahami masa lalu, untuk memahami tradisi kita,” kata Alliata, yang juga seorang arkeolog dan penggali beberapa barang yang ditampilkan. “Peziarah dan pengunjung perlu melihat barang-barang ini.”

Tetapi hal itu tidak mudah. Puluhan ribu artefak yang dikumpulkan oleh para Fransiskan selama bertahun-tahun disimpan di Studium Biblicum Franciscanum, sebuah divisi dalam Universitas Kepausan Roma yang dikhususkan untuk penelitian arkeologi dan Alkitab.

Sebelumnya, barang-barang itu hanya bisa dilihat oleh masyarakat umum melalui janji terlebih dahulu. Yang biasanya banyak menghabiskan waktu di situ adalah para ilmuwan.

“Sangat sulit melihat barang-barang itu,” kenang Masha Halevi, yang mengunjungi pusat penelitian berkali-kali ketika mengerjakan tesis doktoralnya pada tahun 2010 di di Universitas Ibrani Yerusalem dan beberapa artikel akademis terkait agama dan arkeologi.

Alliata menuntun saya melewati sebuah ruangan yang diukir dengan bentuk burung merpati yang rumit dari biara abad ke-4 di Yordania masa kini, potongan besar lantai mosaik berwarna-warni dari biara-biara di gurun Mesir, dan peti mati dari batu yang ditandai salib.

Ada juga pajangan koin kuno sebesar setengah syikal, seperti yang disebutkan dalam Alkitab; biji anggur berusia 2.000 tahun dan biji zaitun; juga perabotan sehari-hari, seperti piring dan gelas kuno.

Hak atas foto
Terra Sancta Museum

Image caption

Museum Terra Sancta baru dibuka pada tahun 2018 dan akan diperluas.

Para Fransiskan telah memulai tren baru untuk memamerkan barang-barang tersebut ke masyarakat luas. Museum Terra Sancta baru dibuka pada tahun 2018 dan akan diperluas. Sebelumnya, mereka juga membuka perpusatakaan besar di Biara St. Saviour Yerusalem untuk publik dan membuat katalog daring untuk koleksi-koleksi itu.

Keterbukaan ini dimulai bersamaan dengan lonjakan pariwisata Israel, dengan sekitar empat juta orang berkunjung pada 2018, rekor tertinggi wisatawan menurut kementerian pariwisata Israel.

Faktanya, sebelum para wisatawan tertarik untuk datang ke Tanah Suci Israel, pada abad ke-19, biarawan Fransiskan sudah mulai terlibat dalam proses penggalian barang kuno.

Di Timur Tengah, disiplin ini meningkat dan menarik lebih banyak perhatian terkait perdebatan tentang sejarah Alkitab di akhir abad ke-19.

Pada akhirnya, para biarawan Fransiskan, yang telah ditugaskan oleh Vatikan untuk menjaga properti Gereja dan membantu para peziarah Kristen di Tanah Suci sejak abad ke-13, memutuskan untuk merangkul ilmu arkeologi.

“Sejarah sangat didukung arkeologi,” tulis Pendeta Prosper Viaud, salah satu Fransiskan pertama yang ikut serta dalam penggalian, setelah menggali bagian bawah Kuil kontemporer Gereja Annunciation di Nazareth pada tahun 1889.

Penggalian itu memperlihatkan struktur yang lebih tua, yang menggambarkan sejarah panjang kegiatan keagamaan di situs itu. “Saya menekuni ini bukan karena pemikiran ilmiah yang kosong, tetapi karena keinginan tulus untuk melayani para peziarah dan membuat mereka lebih tahu gereja Nazareth.”

Hak atas foto
Terra Sancta Museum

Image caption

Saat ini banyak arkeolog lokal merasa berhutang budi kepada para biarawan Fransiskan.

Pada awal abad ke-20, para biarawan Fransiskan mulai menggali daerah sekitar gereja dan biara mereka. Mereka juga menerbitkan buku-buku tentang penggalian itu dan membuat sebuah perpustakaan artefak yang sangat besar di Yerusalem.

Pada tahun 1901 mereka mendirikan Studium Biblicanum Franciscanu.

Sejak tahun1924, mereka telah mengoperasikan banyak lembaga penelitian arkeologi di Yerusalem, WF Albright Institute of Archaeological Research, the British School of Archaeology, the Institute of Archaeology at Hebrew University dan the École Biblioteque et Archaeologique, yang didirikan oleh Orde Dominikan.

Penggalian biarawan Fransiskan – dari Gunung Nebo, puncak gunung Yordania yang disebut sebagai tempat Nabi Musa pertama kali melihat Tanah Perjanjian; ke Kaperneum, sebuah kota di Laut Galilea yang berisi sinagoge kuno dan gereja-gereja – memberikan kontribusi penting bagi ilmu arkeologi di wilayah tersebut. Saat ini banyak arkeolog lokal merasa berhutang budi kepada para biarawan Fransiskan.

“Penelitian mereka adalah bagian penting dari teka-teki besar arkeologi di Israel,” kata Dina Avshalom-Gorni, arkeolog di Otoritas Barang Antik Israel yang telah bekerja dengan arkeolog Fransiskan di berbagai penggalian.

“Terlepas dari kepercayaan mereka, penelitian yang mereka hasilkan adalah arkeologi murni. Mereka memberi kami fakta dan saya bisa mempercayai mereka. “

Bagi para Fransiskan, arkeologi merupakan alat yang berharga membantu umat memahami konteks kisah-kisah dalam Alkitab. “Anda harus tahu tentang kehidupan sehari-hari di masa lalu untuk benar-benar memahami Yesus, memahami perumpamaan dalam Alkitab,” Alliata menjelaskan.

Hak atas foto
Terra Sancta Museum

Image caption

“Anda harus tahu tentang kehidupan sehari-hari di masa lalu untuk benar-benar memahami Yesus, memahami perumpamaan dalam Alkitab,” Alliata menjelaskan.

Di ruangan lain di museum, Alliata menunjuk ke etalase kaca yang berisi vas-vas yang terbuat dari pualam yang halus. Vas itu dianggap sebagai barang mewah di dunia kuno dan jarang ditemukan dalam bentuk utuh. Ia menceritakan kisah Alkitab tentang seorang wanita yang memecahkan vas pualam itu untuk menuangkan parfum di kepala Yesus.

Melihat vas pualam yang indah itu, pengunjung dapat memahami kemurahan hati dan pengorbanan finansial yang dilakukan wanita itu untuk Yesus.

Alliata berjalan melintasi halaman di mana sebuah kelompok wisata sedang mendengarkan pemandu wisata menjelaskan bahwa tempat itu adalah tempat Yesus dijatuhkan hukuman salib dan diserahkan untuk dieksekusi.

Penggalian biarawan Fransiskan sering menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban tentang peristiwa yang tercantum di Alkitab juga kehidupan umat Yahudi dan Kristen kuno di Tanah Suci.

Menurut Alliata, kebanyakan biarawan Fransiskan menggali untuk belajar, alih-alih untuk membuktikan kisah tertentu. Situs suci tidak ditinggalkan begitu saja karena penggalian tidak menghasilkan apa-apa.

Misalnya, di sebuah gereja di Betlehem, yang diyakini sebagai tempat kelahiran Yesus, artefak tertua yang digali berasal dari abad ke-3, hampir 200 tahun setelah kelahiran Yesus.

“Kami tidak pernah meninggalkan tradisi,” kata Alliata. “Kisah-kisah itu bisa terbukti atau tidak, tetapi agama didasarkan pada tradisi.”

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini, A-2,000 year old biblical treasure di BBC Travel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *