Barang yang Anda beli online sebagian besar berakhir di tempat pembuangan sampah


Hak atas foto
spyderskidoo/Getty

Setiap tahun, 2,2 miliar kilogram limbah dihasilkan melalui pengembalian barang yang dibeli online.

Anda memesan sepasang sepatu baru lewat online. Mereka sampai; Anda bergegas menerima paket dan membuka bungkusnya. Anda melepaskan tali sepatu, memasukkannya ke kaki Anda dan… oh tidak, ternyata tidak cocok.

Jadi, sepatu itu dimasukkan kembali ke kotak dan satu jam kemudian Anda mengembalikannya ke toko tempat Anda membelinya.

Memang itu mengecewakan, tapi hei, sepatu itu tidak pernah dipakai dan mereka akan segera menuju pembeli baru. Benar kan? Salah!

Jadi apa yang terjadi pada pakaian kita ketika kita memesan lewat online dan kemudian mengembalikannya? Kenyataannya adalah bahwa sebagian besar akan berakhir di tempat pembuangan sampah. Meskipun barang itu sudah dikirim ke berbagai negara, atau bahkan keliling dunia, beberapa kali.

Setiap tahun di AS saja, pembeli mengembalikan sekitar 3,5 miliar produk, padahal hanya 20% yang benar-benar rusak menurut Optoro, sebuah perusahaan yang khusus mengurus pengembalian logistik.

Hak atas foto
Sofie Delauw/Getty

Image caption

Banyak perusahaan tidak memiliki teknologi untuk menangani retur barang.

Sarah Needham dari Pusat Mode Berkelanjutan di University of the Arts London mengatakan, aliran barang ke pembeli dan kembali ke pengecer tidak baik dari perspektif ekonomi dan lingkungan.

“Kita tahu bahwa banyak dari produk yang dikembalikan berakhir di tempat pembuangan sampah, bahkan sebelum kita menggunakannya. Ini menambah jumlah barang bekas yang sudah banyak berakhir di tempat pembuangan sampah… Produk-produk ini menggunakan sumber daya berharga yang sudah menjadi langka dan kita malah membuangnya dengan tidak perlu,” kata Needham.

Ternyata retur tidak hanya menciptakan jejak karbon raksasa, tetapi juga sakit kepala bagi perusahaan.

Sepasang sepatu baru yang Anda kirim kembali, dengan kotak terbuka dan tali yang tidak diikat, perlu ditangani secara berbeda, misalnya, dengan kaus yang robek.

Banyak perusahaan tidak memiliki teknologi untuk menangani perbedaan ini dalam barang-barang yang dikembalikan. Seringkali lebih menguntungkan bagi mereka untuk menjualnya secara murah ke toko yang memberikan diskon melalui jaringan pengiriman, mengantar dan menerbangkannya ke seluruh dunia, atau sesederhana mengirim dengan truk ke tempat sampah.

Optoro memperkirakan bahwa 2,2 miliar kilogram limbah dihasilkan melalui retur setiap tahun, menyumbang 15 juta metrik ton karbon dioksida ke atmosfer.

Sistem pengembalian sangat tidak efisien menurut Carly Llewellyn, Direktur Senior Pemasaran di Optoro: “Secara historis, cara pengecer menangani retur adalah mereka mendapatkan banyak barang yang dikembalikan ke toko atau gudang. Biasanya barang-barang itu akan dibiarkan selama beberapa bulan karena mereka tidak punya teknologi untuk mengetahui apa yang harus dilakukan dengan barang-barang itu.”

“Pada akhirnya barang-barang itu akan berakhir di pedagang grosir atau likuidator, semua perantara ini mencoba menjual kembali barang-barang itu. Ini buruk bagi lingkungan —karena barang yang dikirim ke seluruh negeri begitu banyak —dan juga buruk bagi pengecer yang hampir tidak menghasilkan uang.”

Pakaian dan sepatu sudah melewati begitu banyak proses yang berbahaya bagi lingkungan, mulai dari membuat kain (seringkali dari bahan bakar fosil) hingga mewarnainya dengan menggunakan bahan kimia beracun.

Pabrik pembuatnya memompa emisi karbon ke udara, dan pakaian kemudian dikirim ke seluruh dunia beberapa kali, hanya untuk berakhir di TPA karena mereka tidak bisa dengan mudah dialihkan ke rumah baru.

Ini adalah masalah yang cenderung tidak banyak kita dengar. Kita tahu bahwa mencari barang-barang mode seperti katun, kulit dan wol dapat menyebabkan degradasi habitat.

Dan bahwa proses pembuatan menyebabkan perubahan iklim dan mencemari lautan kita (17-20% dari semua polusi air industri disebabkan oleh pencelupan tekstil di pabrik, menurut laporan 2016 oleh International Union for Conservation of Nature).

Tapi bagaimana dengan sisa rantai mode?

Hak atas foto
Klaus Vedfelt/Getty

Optoro yakin ada solusi yang sanggup dilakukan. Perangkat lunaknya membantu pengecer dan produsen menjual kembali barang yang tidak terjual dan berlebih dengan lebih mudah.

Mereka menawarkan banyak pilihan bagi pengecer, termasuk situs web untuk menjual kembali barang-barang mereka, yang disebut Blinq, serta membantu rute baru item ke donasi, rak toko, Amazon atau eBay.

Mereka memperkirakan pekerjaan mereka membantu mengurangi limbah TPA hingga 70%.

“Teknologi kami menggunakan banyak sumber data yang berbeda untuk mencari tahu apa yang harus dilakukan dengan setiap item yang berbeda,” jelas Llewellyn.

“Misalnya sepasang sepatu yang baru saja dikeluarkan dari kotak dan masih dalam kondisi sempurna, kami akan segera menaruhnya di situs web,” kata Llewellyn.

Salah satu pendiri Optoro, Tobin Moore dan Adam Vitarello muncul dengan ide ini 11 tahun yang lalu ketika mereka bekerja untuk membantu individu menjual kembali barang-barang di eBay dari toko di garasi mereka.

“Mereka memiliki banyak toko ritel yang mendatangi mereka dan berkata, ‘Kami memiliki semua sepatu yang dikembalikan dari musim sebelumnya yang berlebih dan kami tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan mereka, dapatkah Anda membantu kami menjualnya kembali,'” kata Llewellyn.

Pasangan ini menyadari jika mereka mulai melakukan hal yang sama untuk pengecer besar, mereka dapat memanfaatkan pasar yang jauh lebih besar, sehingga mereka mulai membangun perangkat lunak Optoro.

Needham ingin mengenali masalah limbah dari retur dan menawarkan solusi untuk mengurangi aliran pakaian dan alas kaki ke tempat pembuangan sampah, demi melestarikan energi dan sumber daya yang digunakan untuk memproduksi barang-barang ini.

Namun, terlepas dari masalah lingkungan ini, bisnis pakaian cepat masih berkembang pesat.

Sebuah laporan pada tahun 2016 oleh Greenpeace menunjukkan bahwa, “Produksi pakaian naik dua kali lipat dari 2000 hingga 2014… Rata-rata orang membeli 60 persen lebih banyak item pakaian setiap tahun.”

Dan, dengan populasi dunia yang meningkat, diperkirakan mencapai 9 miliar orang pada tahun 2050, solusi sangat diperlukan untuk memastikan barang yang kita kembalikan dapat digunakan kembali atau didaur ulang, akan menjadi sangat penting.

Ann Starodaj, Direktur Senior Keberlanjutan di Optoro, mengatakan bahwa meskipun kebiasaan konsumen mungkin masih berbahaya, menciptakan model busana yang menguntungkan dan ramah lingkungan dari awal hingga akhir adalah jalan ke depan.

“Saya tidak yakin orang akan berhenti membeli barang-barang, tetapi menciptakan model bisnis di mana Anda membuatnya lebih mudah bagi mereka untuk membuat pilihan yang berkelanjutan adalah peluang bisnis,” kata Starodaj.

Anda bisa membaca artikel aslinya Your brand new returns end up in landfill dan artikel lainnya di BBC Earth

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *