Dukungan warga Selandia Baru setelah serangan masjid: ‘Kita tak takut lagi’


Hak atas foto
Hannah Peters/AFP

Image caption

Seorang warga Kota Christchurch memeluk seorang warga Muslim.

Pemandangan yang tampak pada salat Jumat pertama pasca teror penembakan di dua Masjid di Christchurch, Selandia Baru yang merenggut 50 nyawa, membuat Ibnu Sitompul, mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di kota ini, tak lagi merasa takut berkegiatan dan beribadah secara terbuka.

“Melihat tadi masyarakat lokal memberi support yang cukup besar, kita merasa amanlah, sudah tak takut lagi,” kata Ibnu mahasiswa program doktoral di Fakultas Hukum, Universitas Canterbury, kepada Arin Swandari untuk BBC News Indonesia, Jumat (22/03).

“Tadi juga di jalan-jalan sudah banyak yang lalu lalang memakai jilbab,” tambah Ibnu.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Sepekan usai teror, Selandia Baru gelar hari berkabung nasional

Ibnu menuturkan, salat Jumat digelar di Hagley Park, sebuah lapangan di seberang masjid Al Noor, satu dari dua masjid di mana pelaku penyerangan, Brenton Tarrant, menembaki para jemaah.

Hak atas foto
MARK TANTRUM/AFP

Image caption

Warga Kota Christchurch bergandengan dan membentuk rantai tangan sebagai bentuk solidaritas dan perlindungan terhadap korban dan umat Islam di kota itu.

Sampai Jumat ini, masjid Al Noor dan masjid-masjid lain di Christchurch masih ditutup. Walaupun demikian, masjid Al Noor yang awalnya penuh peluru sisa-sisa penembakan, dicat dan dibersihkan sebelum salat Jumat dilangsungkan, ungkapnya.

Hak atas foto
Carl Court/AFP

Image caption

Seorang polisi berpelukan dengan warga Muslim usai salat Jumat dan acara hening sepekan setelah serangan dua masjid di Kota Christchurch.

Mahasiswa asal Bandung, Jawa Barat ini kemudian bercerita bahwa salat Jumat digelar di taman di dekat masjid tersebut.

Hak atas foto
Kerry Marshall/Getty

Image caption

Salat Jumat pertama sepekan setelah serangan dua gereja dijaga ketat aparat keamanan.

Di lokasi itulah, Perdana Menteri (PM) Selandia Baru, Jacinda Ardern, untuk menyampaikan pidato solidaritas yang memukau.

Warga kemudian mengheningkan cipta selama dua menit selepas panggilan solat tersebut dikumandangkan, ungkap Ibnu.

Bangga kepada warga Selandia Baru

Dia juga menyaksikan polisi dan warga Christchurch menjaga para jamaah yang salat.

Hak atas foto
AFP

Image caption

Seorang pria warga Kota Christchurch, Selandia Baru, membentangkan poster yang isinya menunjukkan empatinya atas kejadian serangan bersenjata di dua masjid di Christchurch yang menewaskan 50 orang warga Muslim setempat.

“Bahkan kalau dilihat mereka jumlah lebih banyak daripada yang salat, mereka berdiri di belakang shaf perempuan, ramai mereka berbaris berkumpul di situ,” ungkap Ibnu, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Christchurch.

Hak atas foto
Cam McLaren/AFP

Image caption

Ibnu mengaku sepanjang salat jumat merasa aman. “Terlebih banyak saudara-saudara yang datang dari negara lain, volunteer dari Malaysia dan Australia, kita merasa terobati, mereka juga ikut salat Jumat,” tambahnya.

Ibnu mengaku sepanjang salat jumat merasa aman. “Terlebih banyak saudara-saudara yang datang dari negara lain, volunteer dari Malaysia dan Australia, kita merasa terobati, mereka juga ikut salat Jumat,” tambahnya.

Salat Jumat, yang dipimpin oleh Imam Masjid Al Noor Gamal Fouda, Ibnu menyaksikan betapa jamaah salat jauh lebih ramai ketimbang sebelumnya.

Hak atas foto
Kai Schwoerer/AFP

Image caption

“Saya hampir setiap Jumat mendengarkan kutbah, tapi ini yang paling bikin sedih, tapi juga bangga orang-orang New Zealand yang begitu support,” ungkapnya.

“Saya hampir setiap Jumat mendengarkan kutbah, tapi ini yang paling bikin sedih, tapi juga bangga orang-orang New Zealand yang begitu support,” ungkapnya.

Dalam kutbahnya, menurutnya, Imam Gamal Fouda menekankan bahwa korban serangan adalah mati syahid, dan kita (umat Islam) disupport oleh perdana menteri yang baik, dan warga negara New Zealand yang baik, yang menjadi contoh di seluruh dunia.

Kaum perempuan Selandia Baru mengenakan kerudung

Mengikuti jejak sang perdana menteri yang berkerudung sebagai tanda solidaritas, menurut Ibnu, para perempuan non-Muslim juga mengenakan kerudung.

Hak atas foto
Hannah Peters/Getty

Image caption

Mengikuti jejak sang perdana menteri yang berkerudung sebagai tanda solidaritas, menurut Ibnu, para perempuan non-Muslim juga mengenakan kerudung.

“Bahkan polisi-polisi yang perempuan juga mengenakan jilbab, orang-orang yang datang dan orang-orang di belakang juga pakai, bahkan di jalan-jalan saya lihat satu dua juga pakai,” kata Ibnu.

Hak atas foto
Hannah Peters/Getty

Sikap solidaritas seperti itu, demikian Ibnu, membuatnya merasa aman. Hal yang sama, katanya, juga dirasakan para anggota Perhimpunan Mahasiswa Indonesia “tidak takut lagi” dan “kembali beraktivitas normal”.

Hak atas foto
Hannah Peters/Getty

Usai salat Jumat, Ibnu ikut menghadiri proses pemakaman dan mengaku sempat berbincang dengan beberapa keluarga korban.

“Mereka tidak dendam, mereka yakin ini mati syahid, jadi mereka ikhlas, semua (yang saya ajak ngobrol mengatakan) ikhlas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *