Fasilitas macam apa yang bisa ditawarkan perusahaan agar karyawan betah?


Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Menurut kajian, semakin banyak perusahaan menawarkan program kebugaran untuk karyawan.

Pojok camilan, kulkas yang dipenuhi minuman dingin, keanggotaan di pusat kebugaran, hingga waktu luang untuk pelesir. Hal-hal itu ditawarkan kepada karyawan oleh banyak perusahaan demi memikat dan mempertahankan karyawan.

“Saat kami tengah bersaing menawarkan pekerjaan, strategi memberi lebih banyak tunjangan sangat menguntungkan,” kata Susan Cartwright, guru besar psikologi dan kesehatan jiwa di Universitas Lancaster.

“Jika tak ada persaingan, kami tidak menawarkan semua tunjangan ini,” ujar Susan.

Dinamika lapangan pekerjaan kini memungkinkan pencari kerja memilih yang terbaik bagi dirinya. Sekarang kita bisa lebih cepat menghindari pekerjaan yang tak cocok dengan kita dan punya peluang besar berpindah perusahaan.

Data Biro Statistik Ketenegakerjaan Amerika Serikat menunjukkan, laki-laki dalam rentang usia 25-34 tahun hanya bertahan 2,9 tahun di satu perusahaan yang sama. Angka itu menurun dibandingkan rata-rata yang tercatat tahun 1983, yaitu 3,2 tahun.

Perusahaan yang cerdas kini menawarkan banyak sekali tunjangan untuk menjaga loyalitas pekerja. Salah satu tawaran itu berkaitan dengan program perbaikan kesehatan — perusahaan kini semakin memperhatikan isu kesehatan mental.

Namun tunjangan apa yang sebenarnya paling diminati pekerja? Dan apabila tunjangan itu hanya sekedar tipu muslihat, adakah tunjangan yang efektif meski membosankan?

Mengambil jeda

Beberapa perusahaan besar yang paling terbebas dari rasa masygul, termasuk Netflix dan Grup Virgin, menawarkan jatah libur tak terbatas untuk karyawan. Korporasi ini mempersilakan pegawai mengambil jeda kerja selama mungkin yang mereka inginkan.

Berbagai perusahaan lantas mengikuti kebijakan tersebut. Menurut Society for Human Resource Management (SHRM), sebuah asosiasi praktisi personalia di Amerika Serikat, terdapat 5% korporasi yang memberi keleluasaan itu.

Persentase tersebut meningkat dari hanya 1% pada 2014. Program cuti tak terbatas itu meningkatkan penghargaan terhadap diri sendiri di kalangan pegawai, kata Suzanne Goulden dari SHRM.

“Karyawan sungguh senang diperlakukan seperti orang dewasa, terutama karena diizinkan menentukan sendiri seberapa besar kebutuhan cuti mereka,” ujarnya.

Namun, profesor ilmu psikologi organisatoris di Manchester Business School, Cary Cooper, menganggap efek dari kebijakan perusahaan ini belum sepenuhnya terbukti efektif.

“Dari sudut pandang pencitraan eksternal, program ini sangat bagus, tapi kita tidak tahu apakah orang-orang sungguh memperhatikannya atau tidak,” kata Cooper.

Program cuti sebenarnya bermanfaat bagi perusahaan dan para pekerja. Studi tahun 2015 menemukan fakta: karyawan yang mengambil seluruh jatah cuti wajib memiliki peluang lebih besar mendapatkan promosi dan kenaikan upah hingga 6,5%.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Semakin kerap mengambil jatah cuti, semakin besar peluang sang pegawai untuk mendapat lonjakan karier.

Persentase itu lebih besar daripada pekerja yang cuti 11 hari atau lebih.

Bagaimanapun, sebagai manusia kita cenderung menyenangi aturan. Anjuran mengambil cuti tak terbatas justru dapat menyebabkan karyawan waswas.

“Anda tahu secara struktural yang akan terjadi ketika Anda mendapatkan libur empat sampai lima pekan,” kata Cooper. Pimpinan organisasi barangkali mempunyai pendapat berbeda tentang cuti panjang dan karyawan sulit untuk menafsirkannya.

Dengan fakta bahwa hanya 40% pekerja di Inggris yang mengambil hak cuti, menghapus batas libur berpotensi memicu persoalan. Memiliki organisasi yang tak terpengaruh cuti pegawai dianggap sebagai pilihan rasional ketimbang memberi cuti tak terbatas untuk pegawai.

Terkait cuti tak terbatas, memperkenalkan program ini secara perlahan dan meyakinkan karyawan bahwa mereka didorong untuk aktif mengambil jeda kerja.

“Salah satu persoalan yang muncul dalam perusahaan pemberi cuti tak terbatas adalah para karyawan yang menerka batasan yang wajar,” kata Suzanne Goulden.

Tapi Goulden berkata, “Perusahaan harus terus mengulang anjuran itu: ‘Ambil cuti yang Anda butuhkan.'”

Sejumlah korporasi berhasil menelurkan regulasi program cuti tak terbatas ini. Perusahaan pengelola jejaring toko serba ada di Inggris, Asda, memiliki banyak skema jeda karier, baik untuk yang berusia 20-an tahun yang hendak berpelesir, maupun pegawai di usia 60-an tahun yang ingin cuti mengurus cucu.

Mencegah karyawan mengundurkan diri

Kulkas penuh minuman untuk karyawan pada Jumat malam menjadi awal evolusi penting dalam program personalia di seluruh dunia. Namun belakangan diketahui, tidak semua pegawai tertarik minuman gratis.

Perkbox, perusahaan berbasis di Inggris yang menawarkan beragam diskon bagi karyawan, melakukan jajak pendapat terhadap lebih dari 2.300 orang tentang fasilitas kesenangan yang mereka terima di kantor.

Temuan mereka? “Hal-hal yang Anda pikir sangat trendi tidak ada di daftar teratas yang diinginkan orang-orang,” kata CEO Perkbox, Saurav Chopra.

Minuman beralkohol gratis pada hari Jumat berada di peringkat ke-38 dalam daftar yang disusun Perkbox. Tawaran itu berada di bawah fasilitas pijat gratis.

“Sebagian besar fasilitas ini tidak berkelanjutan,” kata Susan Cartwright dari Universitas Lancester.

“Fasilitas ini terlalu tampak seperti tipu muslihat dan tak sesuai untuk semua orang. Tapi karyawan akan marah jika fasilitas itu dicabut, meski mereka tidak begitu menginginkannya,” ujar Cartwright.

Hal serupa berlaku untuk fasilitas makan malam gratis bagi karyawan yang lembur hingga larut. Profesor Cary Cooper sangat membenci fasilitas itu.

“Perusahaan menganggapnya sebagai fasilitas, tapi di sisi lain itu memaksakan budaya kerja hingga larut,” ujarnya.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Selain menyehatkan, tawaran keanggotaan gratis di pusat kebugaran juga memaksa karyawan beraktivitas di luar ruangan.

Tentu saja, dampak beragam fasilitas dan tunjangan bergantung pada jenis lapangan pekerjaan.

Di lingkungan yang rendah interaksi dengan arus masuk-keluar karyawan tinggi, perusahaan memegang peran penting dalam loyalitas pegawai.

Namun menurut Cartwright, bukannya berusaha membuat kantor seperti rumah, perusahaan justru harus membiarkan pegawai mereka bekerja di luar kantor.

“Sebagian besar orang yang menjalankan jam kerja fleksibel bekerja lebih lama dan menghargai perusahaan mereka,” kata Cartwright.

Kekhawatiran perusahaan tentang regulasi cuti terbatas belakangan mendorong mereka memberlakukan jam kerja fleksibel.

“Jika Anda bekerja secara luwes, Anda akan lebih produktif dan puas terhadap apa yang Anda kerjakan,” kata Cooper.

“Namun praktek itu harus dilakukan oleh perusahaan yang benar-benar berkomitmen terhadap pendekatan tersebut, bukan semata-mata untuk sandiwara semata.”

Keuntungan dari jam kerja fleksibel terbukti besar. Juni 2014, kantor akuntan publik Deloitte meluncurkan ‘program kerja cekatan’.

Deloitte mempersilakan karyawan mereka di Inggris menentukan di mana dan kapan mereka ingin bekerja.

Baru-baru ini, Deloitte berhasil menghemat 200 juta poundsterling atau Rp3,7 triliun. Angka itu didapat dari minimnya anggaran sewa kantor dan pelatihan bagi karyawan baru.

Keuntungan besar juga dapat muncul dari program kerja empat hari dalam seminggu. Menurut lembaga kajian The Wellcome Trust, pendekatan itu layak dicoba perusahaan tahun ini.

Adapun, uji coba kecil-kecilan di New Zealand tahun 2018 menemukan fakta bahwa tingkat stres karyawan dapat ditekan dengan memberi satu hari libur tengah pekan. Sementara itu, 12% responden dalam survei SHRM mengaku hanya diwajibkan bekerja empat hari dalam satu minggu.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Kantor akuntan publik, PwC, membebaskan karyawan memilih jam kerja.

Tetap bugar

Kebugaran korporasi terlalu sering dikaitkan dengan tawaran enteng seperti ruang meditasi, penyediaan tukang pijet hingga pemotong rambut untuk menjaga penampilan karyawan.

Meski itu bisa jadi penting, para pakar menyebut fasilitas seperti itu tidak dapat memastikan kesehatan mental dalam suatu lingkungan kerja.

Cartwright pernah menggelar uji coba di sebuah badan pemerintah Inggris. Ia membandingkan keampuhan program kebugaran di kantor, pelatihan mengelola stres, dan terapi kognitif.

“Latihan fisik menghasilkan dampak positif dalam waktu cepat dan jangka panjang dibandingkan dua pendekatan lainnya,” ujarnya.

Temuan itu mungkin menjelaskan mengapa 38% perusahaan mendorong karyawan aktif mengikuti kompetisi dan tantangan kebugaran yang mereka selenggarakan di kantor.

Jumlah program kesehatan yang berbasis keinginan dan kegemaran karyawan juga meningkat 10% dalam lima tahun terakhir.

Namun upaya menjaga kesehatan karyawan tidak hanya diartikan perusahaan menanggung asuransi medis. Berbagai perusahaan yang menawarkan keanggotaan pusat kebugaran bagi pegawai mereka yakin bahwa karyawan yang sehat adalah pekerja yang ceria.

“Perusahaan selama satu dekade terakhir lebih tertarik dan berkomitmen pada kesehatan,” kata Suzanne Goulden dari SHRM.

Di sisi lain, kesehatan dan kebugaran kini telah dianggap sebagai fasilitas dasar yang harus didapatkan karyawan, bukan tunjangan tambahan.

Namun kebugaran pekerja juga bermanfaat ketika perusahaan berusaha menawarkan pola hidup-kerja yang seimbang.

Upaya itu dapat diukur, misalnya dari subsidi bagi karyawan untuk mengikuti kelas kebugaran di luar kantor-fasilitas yang meningkat tiga kali lipat dalam lima tahun terakhir.

Memberi keleluasaan bagi karyawan untuk menentukan jadwal olahraga harian mereka juga salah satu upaya cerdas.

“Memberi karyawan keanggotaan pusat kebugaran dan berkata ‘kami rasa Anda sebaiknya berolahraga dua atau tiga kali saat makan siang’ adalah ide yang bagus,” kata Cooper.

Menurut Cooper, dorongan itu bukan hanya membuat karyawan lebih bugar tapi juga memaksa mereka keluar dari hiruk-pikuk kantor.

Dan ternyata bukan melulu tentang kebugaran. Melarang pegawai mengakses email saat akhir pekan dapat mengurangi keletihan emosional dan meningkatkan performa kerja.

Hal yang sama juga menekan gangguan kardiovaskular maupun persoalan muskuloskeletal yang mencakup struktur badan, leher, hingga punggung.

Kesimpulannya: lingkungan kerja yang sehat dan ceria memang mampu membuat karyawan loyal.

Anda dapat membaca artikel ini Boring office wellness alternatives that actually work dalam bahasa Inggris di BBC Capital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *