Korban selamat banjir Sentani: ‘Saya berteriak sampai suara hilang’


Martina Safkaur dan lima anaknya berhasil selamat dari banjir bandang yang menerjang Sentani, Papua, namun rumah mereka di lereng pegunungan Cyclops, hancur.

Suami Martina, Johansen Yacobus Kopeuw yang bekerja sebagai penjaga hutan, menyebut banjir yang meluluh lantakkan wilayahnya disebabkan karena perambahan hutan.

Simak juga:

Kerusakan hutan di Pegunungan Cyclops, atau disebut Dobonsolo oleh warga Sentani, sudah dimulai sejak 1980an sejak apa yang mereka sebut “kedatangan perambah hutan”.

Di sisi lain, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebut banjir di Sentani bukan karena kerusakan hutan. Data KLHK menyebut, hutan di Sentani tidak berkurang signifikan, hanya 495,47 hektare atau sebanyak 3,3% dari 2012-2017.

Hingga saat ini, banjir bandang di Sentani, Papua, menewaskan 89 orang, menyebabkan ratusan orang terluka sementara 74 orang masih dinyatakan hilang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *