Melawan hoaks pascabencana: “Apa tidak takut di akhirat nanti ya?”

hoaks, palu, wali kotaHak atas foto Indonesia Government
Image caption Bantahan hoaks tentang Wali Kota Palu.

Pemerintah telah mengidentifikasi beberapa orang yang diduga menyebarkan hoaks dan pesan bohong setelah gempa dan tsunami di Palu.

Selain dituntut bekerja cepat dalam tanggap darurat pasca gempa di Palu, pemerintah juga memerangi berita bohong yang menyebar dan membuat panik masyarakat.

Pemerintah mengumumkan delapan hoaks yang beredar di media sosial dan aplikasi pesan online setelah bencana dan meminta agar masyarakat tidak mudah percaya.

Polisi harus menyisihkan waktu dan tenaga untuk mengecek kebenaran berita bohong, misalnya tentang bendungan Bili-bili di Kabupaten Gowa retak. Petugas Polsek Mamuju, Gowa, melakukan pengecekan dan memastikan bendungan itu aman.

BNPB pun menjadi corong utama dalam upaya melawan hoaks. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho Sutopo Purwo Nugroho seringkali menjelaskan pesan mana yang termasuk hoaks.

Hak atas foto YUSUF WAHIL/AFP
Image caption Di tengah upaya tanggap darurat, media sosial pun darurat kabar bohong.

Apa saja rumornya?

Penyebaran hoaks di Twitter, Facebook dan aplikasi chat membuat pemerintah merasa perlu memberikan klarifikasi mendetail tentang berita bohong yang muncul setelah bencana.

Penyebaran hoaks sangatlah cepat. Pada tanggal 2 Oktober, Kementrian Komunikasi dan Informatika mempublikasikan siaran pers berisi delapan kabar bohong pascagempa.

Delapan kabar bohong itu adalah: pertama, soal bendungan Bili-bili di Kabupaten Gowa yang dikatakan retak, padahal aman.

Ada juga penjelasan tentang tiga foto hoaks yang digambarkan seolah-olah berasal dari tempat gempa. Padahal, foto itu adalah foto kejadian gempa dan tsunami di Aceh, 26 Desember 2004, foto kejadian di Sungai Siak, Pekanbaru, dan foto Front Pembela Islam, FPI, membantu korban longsor di Sukabumi.

Pemerintah juga membantah dua rumor yang menyatakan bahwa gempa susulan yang lebih kuat dari gempa Palu 28 September sudah diprediksi.

“Tidak ada satu negara pun di dunia punya alat dan teknologi yang bisa memprediksi terjadinya gempa bumi secara pasti,” demikian keterangan pers tersebut.

Pemerintah juga membantah kabar bohong tentang kematian Wali Kota Palu. “Wali Kota Palu, Hidayat, sedang melakukan tanggap darurat gempa di Palu.”

Kabar kedelapan adalah soal hoaks penerbangan gratis dari Makassar menuju Palu gratis bagi keluarga korban. Faktanya, pesawat herculer TNI diutamakan membawa bantuan logistik, paramedis, obat-obatan.

Hak atas foto Twitter/@Sutopo_PN
Image caption “Video ini bukan erupsi Gunung Soputan,” kata Sutopo

Melawan dengan Twitter

Salah satu “pemimpin” perlawanan terhadap hoaks adalah Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Sutopo, yang juga tengah berusaha melawan kanker paru-paru stadium 4B yang sedang dideritanya, rajin membantah hoaks melalui akun twitternya @Sutopo_PN.

Misalnya, tentang erupsi Gunung Soputan yang meletus hanya beberapa hari setelah tsunami dan gempa di Palu.

Setiap cuitan Sutopo yang melawan hoaks, telah dibagikan hingga ribuan kali.

Gempa-tsunami Palu dan meletusnya Gunung Soputan bukan kali pertama Sutopo menjelaskan tentang berita bohong.

Sepanjang Agustus 2018, Sutopo telah 38 kali memberikan klarifikasi terhadap kabar bohong yang menyebar setelah gempa Lombok tanggal 29 Juli 2018 . Kebohongan itu mulai dari soal bantuan yang dijual, pengungsi yang makan makanan ternak, hingga soal gempa susulan.

Sebelumnya, dia juga selalu konsisten memberikan klarifikasi tentang berbagai kabar bohong tentang bencana. Dari hoaks soal korban banjir Brebes, Jawa Tengah sampai foto erupsi Gunung Kelud yang diberi label Gunung Merapi pada bulan Mei, sampai mempromosikan wisata Bali yang tetap aman setelah erupsi Gunung Agung.

Perempuan di Sidoarjo ditangkap karena hoaks soal gempa di Jawa menyusul gempa Palu

Meski sering diklarifikasi, hoaks dan kabar bohong terus bermunculan selepas terjadinya bencana. Warganet pun diharapkan menjadi “mata-mata” pemerintah untuk menemukan hoaks yang beredar. Kemenkominfo membuka pusat pengaduan untuk warga yang menemukan kabar bohong.

Warga diminta melaporkan temuan mereka melalui email ke aduankonten@kominfo.go.id atau akun twitter @aduankonten.

Menko Polhukam Wiranto menyatakan bahwa hoaks saat bencana pun sudah jadi perhatian Presiden Joko Widodo.

“Presiden sudah instruksikan Kapolri, siapa pun yang dalam bencana seperti ini memanfaatkan keprihatinan untuk kepentingan yang meresahkan masyarakat, segera kami tangkap,” kata Wiranto, Selasa (02/10) lalu.

Seorang perempuan di Sidoarjo, Jawa Timur ditangkap polisi karena menyebarkan isu gempa susulan berkekuatan besar yang akan terjadi di Jawa dan menyebarkannya di Facebook, beberapa saat setelah gempa Palu.

Menurut polisi, perempuan dengan inisial UUF ini ditangkap karena dialah yang pertama kali menulis posting tersebut di Facebooknya.

“Dia itu bukan berita yang diposting, tapi dia yang memposting pertama kali di Facebook. Kalau berita-berita itu kan tinggal medianya apa, itu yang tidak ada (dalam kasus ini) tapi pure postingan dia,” ujar Kasubdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Arisandi kepada Detikcom.

Dia hanya satu dari delapan tersangka yang telah ditangkap terkait hoaks gempa. Menurut laporan Tribun News, polisi telah menangkap delapan tersangka, semuanya diduga menyebarkan kabar bohong melalui Facebook.

Polisi menyatakan masih mempelajari apa motif para tersangka menyebarkan hoaks.

Melalui akun Twitternya, Sutopo menulis, “Orang kok begitu teganya menyebarkan kebohongan. Apa tidak takut di akhirat nanti ya?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *