Mengunjungi penginapan bekas pertambangan timah di pedalaman hutan Thailand


Setelah pertambangan timah milik keluarganya tutup dan suaminya tutup usia, Glennis Setabandhu menjaga komunitas keluarga para penambang dengan membangun sebuah penginapan unik.

Hak atas foto
John McMahon

“Jalanan tidak terlalu jelek hari ini, tetapi di musim hujan bisa menjadi lebih sulit,” kata Glennis Setabandhu, ketika kami menunggu mobil bak yang sudah ‘babak belur’ itu berjalan pelan menyusuri jalanan berbatu yang curam.

“Kadang-kadang mobil bak yang dipakai para tamu tidak dapat melewati jalan dan mereka harus turun. Begitu mereka sampai, saya menyediakan secangkir kopi panas dan sepotong kue, dan semuanya baik-baik saja.”

Dengan tinggi sekitar lima kaki, sedikit bungkuk lantaran dimakan usia, mengenakan rok panjang biru tua dengan cardigan berbunga, Setabandhu, kelahiran Australia berusia 81 tahun, atau yang dipanggil Pa Glen oleh orang-orang lokal (pa adalah tante dalam bahasa Thai), bukan tipe orang yang seperti Anda bayangkan akan mengelola sebuah penginapan di tengah hutan belantara di sekitar Pilok, bagian barat Thailand.

Tetapi dia sudah melakukannya selama hampir 30 tahun.

ThailandHak atas foto
John McMahon

Image caption

Glennis Setabandhu telah mengoperasikan penginapan di tengah hutan di bagian barat Thailand selama hampir 30 tahun.

Pintu masuk ke penginapan Setabandhu menampilkan stiker, banner dan kaos dari klub mengemudi off-road yang sudah bubar sekian tahun silam.

Di dalam penginapan, lampu gantung kecil terbuat dari kaca tergantung di atas meja makan yang dilengkapi dengan serbet berenda.

Di dindingnya tergantung foto-foto tua keluarga Setabandhu yang berpose dengan dandanan terbaik mereka, begitu juga dengan foto-foto anak laki-lakinya Narin, cucu-cucunya dan banyak pengunjung yang sudah disambutnya selama bertahun-tahun.

Setabandhu pertama kali datang ke kawasan terpencil ini selama musim dingin tahun 1967; perjalanannya dari Bangkok merupakan petualangan selama empat hari dengan menumpang kereta api, kapal dan keledai.

Di sinilah almarhum suaminya, Somsak menjalankan pertambangan timah. Ada ‘masa-masa yang indah’ kenang Setabandhu, ketika lebih dari 600 pekerja secara bersama-sama menggali logam dari kerak Bumi.

“Ketika pertama kali saya berkunjung ke pertambangan, saya takut pada hutan dan binatang-binatang, tetapi saya kemudian menyukainya,” kenangnya.

“Ini adalah desa yang dipenuhi keluarga-keluarga dan rumah-rumah di sepanjang jalan. Semua orang merasa senang.”

Setabandhu bersua Somsak ketika dia masih kuliah di teknik pertambangan di Western Australian School of Mines di Kalgoorlie, di mana Setabandhu tinggal.

Somsak adalah juara bulu tangkis yang membantu melatih tim gerejanya. Mereka menikah, dan beberapa tahun kemudian tinggal di Thailand di mana dia dapat mengawasi pertambangan keluarganya, sementara Setabandhu mengajar bahasa Inggris di Bangkok University, melakukan perjalanan ke tambang dengan Narin pada masa liburan sekolah.

ThailandHak atas foto
John McMahon

Image caption

Setabandhu pertama kali datang ke Thailand barat di tahun 1967 untuk mengunjungi suaminya Somsak, yang mengoperasikan tambang timah.

Pasar timah internasional ambruk di tahun 1985, menyebabkan berakhirnya kebahagiaan itu.

Harga timah di seluruh dunia jatuh, dan kendati sudah berusaha sekuat mungkin, Somsak tidak dapat mempertahankan operasional tambang.

Sebagaimana diceritakan oleh Setabandhu, suaminya merasa sangat sedih melihat pekerjaan yang telah dilakukannya seumur hidup menjadi mati, yang diyakini sebagai salah satu kontribusi penyebab kematiannya karena kanker pada tahun 1994.

Setabandhu berjanji kepada suaminya bahwa dia akan menemukan cara untuk mengurus para mantan pekerja dan keluarga mereka. “Kebanyakan dari para pekerja berasal dari Burma (sekarang Myanmar) dan tidak memiliki surat-surat,” jelasnya.

“Banyak dari mereka akhirnya pergi ke Bangkok dan bekerja di bidang konstruksi, tetapi beberapa diantaranya tidak ingin meninggalkan pertambangan dan kehidupan di hutan. Di saat inilah saya berhenti mengajar dan datang ke sini untuk tinggal. Awalnya saya juga tidak yakin apa yang dapat saya lakukan di sini.”

Salah satu sumber yang tidak dapat gagal adalah lokasi tambang, yang terletak di lembah terpencil di sepanjang sungai kecil yang berkilauan, dikelilingi hutan lebat dan pegunungan yang masih perawan di perbatasan Thailand dan Myanmar.

Pendakian di sepanjang jalan yang terlihat suram melalui hutan lebat di sekitar penginapan membawa saya ke air terjun Chet Mit, di mana air yang mengalir keluar dari pegunungan begitu bersih sehingga saya tidak berpikir dua kali untuk minum langsung dari sungai yang dingin.

Setabandhu mengetahui dari tahun-tahun yang dihabiskannya di Bangkok yang terus berkembang, bahwa ada orang-orang yang sangat menginginkan tempat untuk menghabiskan akhir pekan yang santai, jauh dari hiruk pikuk kehidupan modern.

ThailandHak atas foto
John McMahon

Image caption

Setabandhu mengetahui lokasi pertambangan yang terpencil dapat menarik para warga kota seperti Bangkok yang ingin menghabiskan akhir pekan yang santai di alam.

Dengan menjual peralatan tambang suaminya, dia dapat mengumpulkan cukup uang untuk merancang ulang beberapa bangunan tua di kawasan tambang itu untuk para tamu, menambahkan toilet duduk yang nyaman dan pancuran air hangat.

Dia mengganti generator diesel tua yang dibeli suaminya beberapa dekade sebelumnya dengan sebuah pembangkit listrik tenaga air kecil untuk menyediakan listrik yang bersih, tidak berisik.

Setabandhu lantas membuka Somsak Mine Forest Glade Home, dengan memperkerjakan para pegawai pertambangan yang belum pergi ke Bangkok.

Segera saja penginapan itu mendapat reputasi sebagai tujuan bagi para penikmat kendaraan four-wheel drive dan para pesepeda yang mencari kenyamanan di alam liar.

Tinggal di Somsak Mine merupakan pengalaman yang membuatmu kembali ke masa lalu dan kembali ke dasar.

Tiga dekade bertahan dari hujan lebat dan terpanggang terik matahari telah menembus lapisan cat dan menyatu dengan dedaunan sekitarnya.

Bangunan utama, dulunya gudang dan toko perusahaan, memiliki ruang besar dengan langit-langit menjulang yang dibangun dari kayu yang dipahat kasar, bambu dan anyaman rotan, dengan perabotan yang mengingatkan pada ruang duduk era Victoria.

Menelusuri jalanan di pertambangan lama di sekitar konsesi seluas 200 hektar, masih mungkin untuk melihat kawasan perbukitan bekas penambangan yang kini dirimbuni pepohonan rimbun, sekaligus mereklamasi wilayah tersebut selama 30 tahun terakhir.

Para pengunjung yang tidak memiliki kendaraan sendiri akan diangkut dengan feri sejauh 5 km dari kota Pilok oleh seorang polisi setempat yang dibesarkan di kawasan penambangan; mobil baknya dilengkapi dengan bangku taman.

Ini merupakan perjalanan melalui jalanan rusak yang dapat menghabiskan waktu lebih dari satu setengah jam, tergantung kapan terakhir hujan turun.

ThailandHak atas foto
John McMahon

Image caption

Bangunan utama, dulunya gudang dan toko perusahaan, memiliki ruang besar dengan langit-langit menjulang yang dibangun dari kayu yang dipahat kasar, bambu dan anyaman rotan, dengan perabotan yang mengingatkan pada ruang duduk era Victoria.

Penginapan itu bisa saja memang terletak di tempat terpencil, tanpa akses telepon seluler dan internet, tetapi Setabandhu dapat membuat para pengunjung merasa nyaman dan mendapat cukup makanan.

Setiap siang dia dan para stafnya menghidangkan aneka makanan termasuk beberapa hidangan khas Thai, begitu juga dengan apa yang dideskripsikan sebagai barbekyu ‘gaya Australia’: sate babi yang sudah dibumbui rempah, merica dan bawang yang dimasak di luar pemanggangan.

Dan kue Setabandhu yang legendaris di antara komunitas off-road Thailand. Kue coklat, banana cake dan carrot cake terbaik yang pernah saya rasakan, langsung dimasak setiap hari sebagai bagian dari hidangan bagi para tamu.

Sama bangganya dengan Setabandhu yang telah melayani begitu banyak pengunjung selama bertahun-tahun, anak laki-lakinya Narin meyakini bahwa pencapaian ibunya adalah menjaga agar Somsak Mine tetap ada dan membantu para keluarga yang memilih untuk tetap tinggal.

“Saya tidak tahu apa yang akan dilakukan ibu saya ketika dia pindah ke pertambangan,” katanya kepada saya melalui telepon dari kantornya di Bangkok.

“(Tetapi) penginapan itu memungkinkan mereka yang ingin tinggal mencari nafkah dan akan mustahil menciptakan kesempatan bagi keluarga-keluarga itu jika hal itu tidak dilakukan.”

ThailandHak atas foto
John McMahon

Image caption

Setabandhu mengetahui lokasi pertambangan yang terpencil dapat menarik para warga kota seperti Bangkok yang ingin menghabiskan akhir pekan yang santai di alam.

Baru-baru ini, Setabandhu berkata kepada saya, para petugas dari departemen pertambangan telah berkunjung untuk melakukan tes penggalian. “

Mereka berkata, ‘Jangan pergi kemana-mana, Pa. Pasar timah akan kembali,'” kenangnya.

“Saya katakan kepada mereka bahwa suami saya adalah seorang insinyur pertambangan, tetapi mereka berkata Somsak Mine tidak ada tanpa saya.”

“Mungkin masa-masa keemasan itu akan kembali,” tambahnya, harapan terlihat di wajahnya.

Apapun yang akan terjadi di masa depan, saat ini pintu-pintu Somsak Mine Forest Glade Home terbuka, dan para off-roader, pesepeda, pelari lintas alam, dan pecinta alam dapat yakin bahwa kue buatan Setabandhu menanti mereka di akhir perjalanan yang keras dan berbatu.

bbc

Silakan membaca artikel aslinya dalam Bahasa Inggris, The Thai guesthouse that saved a village dan tulisan-tulisan lain tentang perjalanan di BBC Travel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *