Meski berpotensi rugi, akankah perusahaan fesyen dunia berhenti membakar pakaian?


Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Pemegang merek fesyen dunia terdesak atas tuntutan harga masuk akal untuk setiap produk yang mereka jual.

Mungkin terdengar gila, tapi praktik pembakaran pakaian semakin sering dilakukan sejumlah produsen pakaian terbesar di dunia.

Tapi apa alasan mereka? Mereka mengklaim itu adalah cara yang paling efektif untuk menjaga ekslusivitas merek.

Tumpukan baju yang mereka bakar dijual murah di pasar. Daripada mengobral dengan diskon besar, perusahaan konveksi itu memilih membakarnya. Dengan pilihan tersebut, energi mereka tidak terkuras.

Burberry adalah salah satu perusahaan terkenal yang terus menjalankan praktek tersebut. Mereka membakar pakaian senilai Rp540 miliar tahun 2017. Nominal itu memancing pemberitaan besar di seluruh dunia.

September lalu, seiring amatan tajam media massa, Burberry menyatakan bakal menghentikan pembakaran pakaian.

Tidak ada yang tahu persis berapa nilai harga pakaian yang dibakar setiap tahun oleh beragam perusahaan fesyen ternama dunia. Namun dari segi bisnis, banyak orang menganggap wajar praktik ini.

Banyak pemegang merek fesyen ternama tertekan atas persepsi bahwa produk yang mereka ciptakan-yang menghabiskan uang dan waktu-lebih baik dijual.

“Menjual pakaian-pakaian itu dengan harga rendah bakal memicu persoalan panjang,” kata Pammi Sinha dari Sekolah Desain di Universitas Leeds.

Namun kebijakan membakar pakaian itu memiliki konsekuensi negatif. Praktek itu menghasilkan karbon dioksida dan gas efek rumah kaca lain yang menyebabkan pemanasan global ke atmosfer.

Hasil kajian komite parlemen Inggris terhadap keberlanjutan industri fesyen, Februari 2018, menelisik sejumlah dampak pembakaran pakaian.

Laporan itu menyebut, “Meski pembakaran stok pakaian tidak laku memulihkan ongkos proses produksi, metode ini menggandakan dampak terhadap iklim karena memunculkan emisi dan polutan udara yang menyerang kesehatan manusia.”

“Pembakaran pakaian berbahan serat sintesis melepaskan serat mikro plastik ke atmosfer.”

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Sejumlah perusahaan fesyen kini menjadi pioner dalam proses daur ulang produk konveksi.

Kajian itu mendorong pemerintah melarang perusahaan membakar atau menimbun pakaian tak terjual, terutama jika sandang tersebut masih layak pakai atau dapat didaur ulang.

Sinha berkata, bagian dari persoalan ini adalah perusahaan fesyen sejak awal didirikan untuk memproduksi dan menjual pakaian. Satu-satunya jalan keluar atas pakaian tak laku adalah membuangnya.

Seluruh pihak dalam industri itu hanya memegang metode itu. Secara alamiah, penimbunan dapat memicu tumpukan pakaian tak terpakai.

Elizabeth Napier dari Universitas Negeri Georgia menyebut 100 miliar produk garmen dibuat setiap tahun di seluruh dunia. Dari jumlah itu, 92 juta di antaranya berakhir di tempat pembuangan.

Bagaimanapun, situasi ini dapat berubah. Salah satu usulannya adalah mewajibkan perusahaan mengelola pakaian tak terjual, mengolah dan mendesainnya menjadi produk baru dan meluncurkannya ke pasar sekali lagi.

“Memegang label mewah yang menggantungkan reputasi pada desain, mereka dapat menggenjot kerja sama tim desan dan produksi untuk persoalan ini,” kata Sinha.

Namun pendekatan itu membutuhkan investasi. Agar usaha tersebut efektif, setiap perusahaan fesyen harus memastikan produk yang mereka desain ulang itu sesuai selera pasar. Ini tentu untuk mencegah persoalan baru.

Meski begitu, pada prinsipnya langkah itu akan menjadi sebuah langkah maju dari pilihan membakar atau menimbun pakaian dalam jumlah besar.

Beberapa perusahaan kini berada di lini terdepan untuk melakukan daur ulang desain pakaian tidak laku. Mereka menggunakan bahan baku lawas untuk pakaian tak terjual tersebut.

Perusahaan yang berbasis di Los Angeles, Amerika Serikat, Reformation, adalah salah satu perusahaan yang melakukan bisnis dengan pendekatan tersebut. Sekitar 15% produk mereka berasal dari pakaian tidak laku yang dibuang.

Ada pula peluang untuk fokus berbisnis pada pakaian berbahan mudah busuk akibat bakteri. Pakaian jenis ini tidak perlu dibakar jika tidak laku.

Selain itu, pakaian ini juga akan menarik minat orang-orang yang memberi perhatian lebih terhadap dampak sandang mereka terhadap lingkungan.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Sekitar 100 miliar lembar pakaian dibuat setiap tahun. Sebanyak 92 juta di antaranya tak terjual dan menjadi barang tak terpakai.

Namun untuk memicu efek yang lebih besar, perusahaan fesyen besar sepatutnya juga menjalankan praktek yang berkelanjutan seperti ini. Tugas ini tidak bisa hanya dilimpahkan pada perusahaan rintisan atau produsen pakaian bersistem pemesanan di awal transaksi.

Pada tahap ini, kita sampai pada gambaran besar persoalan dan hambatan terbesar menerapkan target keberlanjutan di industri fesyen.

Intinya, produksi pakaian yang lebih besar dibandingkan permintaan pasar merupakan permasalahan utama.

Merujuk data Bank Dunia yang disusun Ellen MacArthur Foundation, meski penjualan pakaian secara stabil meningkat sejak tahun 2000, tingkat pemakaiannya anjlok dalam persentase yang sama.

Artinya, untuk setiap kaus yang kini terjual, hanya setengah yang dipakai dari dari 20 tahun lalu.

“Saya sungguh berpikir bahwa kita berada dalam posisi di mana kita menawarkan lebih banyak produk ke pasar dibandingkan angka permintaan. Kita harus memikirkan ini,” kata Sinha.

Napier setuju dengan pendapat itu. Ia berkata, untuk mencegah opsi pembakaran pakaian, perusahaan perlu memprediksi tren pasar. Menurutnya, secara teori ini dapat menghasilkan lebih sedikit pakaian tak terjual.

Namun memproduksi pakaian yang dapat digunakan secara terus-menerus akan sangat meminimalkan persoalan ini. Produk konveksi yang abadi tentu dapat dijual seperti menawarkan program investasi.

“Itu akan membuat konsumen lebih tenang terhadap barang yang mereka beli,” kata Napier.

Napier mencontohkan Patagonia, satu dari sejumlah merek pakaian luar ruangan yang menjamin produk mereka dapat digunakan dalam waktu sangat lama.

Baik Sinha maupun Napier berpendapat, pembakaran pakaian tak laku tidak akan berhenti dengan pendekatan daur ulang. Skala produksi pakaian harus diubah.

Dan sangat penting menyadari bahwa keberhasilan merek yang berfokus pada kepentingan konsumen sangat tergantung pada pasar.

Jika perlindungan lingkungan sangat berarti bagi publik, maka masyarakat akan semakin mendambakan pakaian yang bervisi keberlanjutan alam.

“Tanpa permintaan konsumen, persoalan ini akan terus terjadi,” kata Napier.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris di BBC Earth, dengan judulWill fashion firms stop burning clothes?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *