Sejumlah warga enggan mengungsi dari banjir ‘terparah’ di Sentani, Papua


Image caption

Mengukur parahnya banjir dari kondisi gereja, kata kepala kampung adat Yoboi.

Seorang kepala kampung di Sentani, Papua menyebut banjir kali ini sebagai yang terparah; namun sejumlah warga enggan untuk mengungsi.

Tingkat keparahan itu diukur dari kondisi gereja yang saat ini sudah terendam.

Kepala Kampung Adat Yoboi, Sefanya Wali, yang sudah tinggal di kampung seputar Danau Sentani selama tujuh generasi, mengatakan banjir terjadi setiap lima tahun sekali.

“Beberapa tahun pernah terjadi seperti ini. Tapi kami mengukur dari kondisi gereja. Gereja ini sudah terendam. Jadi [debit] air naik sekitar 2,5 meter,” cerita Sefanya kepada wartawan BBC News Indonesia, Ayomi Amindoni.

Image caption

Kondisi Kampung Yoboi yang tergenang banjir.

“Dikhawatirkan kalau angin barat terus, itu tetap hujan susulan terus,” kata kepala kampung Yoboi, salah satu area yang paling terdampak banjir.

Banjir bandang di Sentani sejauh ini menyebabkan sedikitnya 79 orang meninggal dunia dan 40 orang dinyatakan hilang. Lebih dari 4.000 warga telah mengungsi; mereka tersebar di Jayapura dan sekitarnya.

Di Yoboi, selama dua malam sejak banjir menerjang pada Sabtu malam (16/03), warga menginap di lantai dua gereja atau di rumah-rumah yang posisinya relatif lebih tinggi.

“Sementara rumah yang dianggap relatif tinggi itu, sekarang tenggelam juga,” kata Sefanya Wali. Tinggi air di kampung ini mencapai pinggang orang dewasa.

Image caption

Kepala Kampung Adat Yoboi, Sefanya Wali mengatakan ia mengukur parahnya banjir dari kondisi gereja.

Image caption

Gereja di Yoboi, Sentani.

Dalam dua hari terakhir, warga yang tinggal kampung itu tidak mau dievakuasi jika banjir menerjang, tambahnya. Mereka mengakali dengan membuat kuda-kuda, atau papan yang lebih tinggi di rumah untuk ditinggali sementara.

“Katong punya kampung”

Namun hujan lebat terus saja terjadi di Sentani dan sekitarnya dan air danau diperkirakan akan terus naik.

Sementara itu, Kepala Distrik Sentani, Budi Prodjonegoro Yokhu mengatakan ia mendatangi warga dan membujuk mereka supaya mau mengungsi.

“Kita melihat dari tujuh kampung yang berada di danau Sentani, kampung Yoboi yang terdampak paling parah,” kata Budi.

“Kondisinya sudah tidak aman lagi sehingga kita mengajak mereka keluar dari kampung untuk tinggal di darat, di Kehiran.”

Setidaknya ada 103 kepala keluarga yang tinggal di Kampung Yoboi, dengan jumlah penduduk sekitar 700 orang.

Image caption

Beberapa warga di seputar Danau Sentani masih enggan mengungsi.

Risma Otokoro yang selama belasan tahun terakhir tinggal di kampung itu termasuk di antara mereka yang ingin tetap bertahan.

“Bagaimana ya karena ini katong (saya) punya kampung, beda juga kami rasanya tinggal di tempat lain dengan di sini to. Macam biarpun seluarga tapi ada perbedaan. Ya memutuskan untuk tinggal di kampung,” katanya.

Kendati begitu, dia mengatakan jika kondisi cuaca semakin memburuk, dia dan ketiga anaknya berniat untuk mengungsi, apalagi hujan lebat yang terus mengguyur membuat air luapan danau sulit surut.

“Sebenarnya khawatir, takut juga. Apalagi keadaan seperti ini, banyak korban jiwa, takut juga. Semalam sampai tak bisa tidur. Terbangun, dan lihat air,” ungkap Risma.

Fokus evakuasi warga

Image caption

Kampung di seputar Danau Sentani.

Bupati Jayapura Mathius Awoitau mengatakan fokus yang dilakukan saat ini adalah mengungsikan warga, “supaya semua warga bisa aman, tertolong dan tertangani sambil kita melihat kerusakan dan akses jalan supaya mobilisasi tim evakuasi dan kesehatan bisa tertangani dengan baik.”

Pos Komando yang didirikan di Kantor Bupati Jayapura melayani korban luka dan terdampak melalui pelayanan medis maupun dapur umum.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Senin (18/03) sore mencatat 4.728 jiwa mengungsi di enam titik pos penampungan. Sebagian besar dari mereka tinggal di posko induk Gunung Merah di kompleks pemerintahan Kabupaten Jayapura.

Image caption

Warga yang mengungsi akibat banjir bandang di Sentani.

Secara total, 11.725 keluarga terdampak akibat banjir bandang yang dipicu oleh hujan ekstrem yang berlangsung selama tujuh jam tersebut.

Kapendam Papua Kol. Inf. Muhammad Aidi mengatakan, sejauh ini bantuan cepat yang diperlukan warga termasuk pakaian.

“Kebutuhan darurat, kalau kebutuhan pokoknya sudah teratasi, kemungkinan pakaian layak pakai, terutama bayi, ibu dan anak-anak. itu yang sangat dibutuhkan,” kata dia.

Aidi juga mengatakan, penanganan bencana untuk saat ini masih difokuskan pada penyisiran untuk evakuasi. “Khususnya kita pusatkan di rangkaian lereng gunung Cyclop dan lembah.”

Dia memperkirakan masih banyak korban di lereng gunung Cyclop yang belum dievakuasi, “karena di situ selama ini banyak pemukiman warga yang belum terdata oleh pemerintah”.

Pemerintah daerah bersama dinas terkait, TNI, dan Polri melakukan upaya pemulihan dini seperti pembersihan kayu gelondongan, bebatuan, puing-puing dan material lain dengan alat berat.

Alat-alat berat juga digunakan untuk membersihkan sekitar 70 kilometer jalan Jayapura-Setani-Kemiri yang tertutup lumpur dan pohon tumbang. Hingga Senin (18/03) malam kondisi jalan ini masih rusak parah.

Banjir bandang ini menerjang sembilan kelurahan dengan tiga kelurahan yang mengalami kerusakan parah adalah Dobonsolo, Doyo Baru dan Hinekombe.

Banjir telah merusak ratusan rumah, juga fasilitas umum serta jembatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *