Siapa ‘pilot ketiga’ yang berada di dalam kokpit Lion Air rute Denpasar-Jakarta?


Hak atas foto
AJI STYAWAN/ANTARAFOTO

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengakui adanya ‘pilot ketiga’ dalam penerbangan pesawat Boeing 737 Max 8 milik Lion Air pada rute Denpasar-Jakarta.

Ini merupakan rute penerbangan terakhir pesawat tersebut sebelum jatuh dan menewaskan 189 orang saat hendak terbang dari Jakarta ke Pangkal Pinang, 29 Oktober 2018 lalu.

“KNKT menyampaikan benar ada pilot lain yang berada di kokpit pada penerbangan itu. Pilot ini adalah pilot yang telah selesai menjalankan tugas terbang dan akan kembali ke Jakarta,” kata Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono dalam konferensi pers di kantornya, Kamis (21/03).

Soerjanto menambahkan pada penerbangan Denpasar-Jakarta dengan nomor penerbangan JT043 terjadi gangguan setelah digantinya Angle of Attack (AoA) sensor.

AoA adalah sudut antara sayap dan udara yang mendekat antara 15 – 20 derajat. Jika sudutnya terlalu besar maka sayap dapat kehilangan daya angkat dan bisa menyebabkan hilang kendali serta kehilangan ketinggian secara mendadak.

AoA adalah parameter penting yang membantu sistem pesawat mengetahui apakah posisi bagian hidung pesawat terlalu tinggi. Jika terlalu tinggi pesawat bisa mengalami apa yang disebut aerodynamic stall dan jatuh.

Hak atas foto
BBC New Indonesia

“Pilot ini memiliki kualifikasi sebagai pilot B737 Max 8. Pilot yang bersangkutan sudah diinterview oleh KNKT,” tambah Soerjanto, tanpa membeberkan hasil wawancaranya karena proses penyelidikan masih berlangsung.

Sebelumnya, pilot ketiga ini disebut-sebut menyelamatkan penerbangan pesawat Lion Air JT043 rute Denpasar-Bali yang mengalami kerusakan AoA, seperti diberitakan sejumlah media massa.

Siapa ‘pilot ketiga’ di pesawat Lion Air JT043?

Berdasarkan keterangan Ketua Subkomite Investigasi KNKT, Nurcahyo Utomo, pilot ketiga kebetulan menumpang dalam penerbangan dan duduk di kursi cadangan di dalam kokpit.

“Yang jelas (pilot ketiga-red) dari Lion group,” katanya.

KNKT juga menyatakan sudah mengumpulkan 90% data yang dibutuhkan untuk membuat hasil investigasi. Hasilnya akan disampaikan Agustus atau September 2019 mendatang.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Black box Lion Air JT610 yang ditemukan adalah Flight Data Recorder, yang mencatat data penerbangan.

“Yang sudah kita lakukan minggu kemarin, kita mengadakan pertemuan tim, dan membahas arah analisanya bagaimana,” tambah Nurcahyo.

Sementara itu, BBC New Indonesia berusaha mengkonfirmasi hal ini ke juru bicara Lion Air, Danang Mandala Prihantoro. Namun, hingga malam tadi (Kamis, 21/03), belum mendapat respons.

Pesawat Boeing 737 MAX dioperasikan Lion Air untuk menjalani rute Denpasar-Jakarta pada 28 Oktober dengan nomor penerbangan JT 043, dan keesokan harinya terbang dari Jakarta ke Pangkalpinang dengan nomor penerbangan JT 610.

Namun sekitar 13 menit setelah lepas landas, pesawat jatuh ke perairan Karawang, Laut Jawa, menewaskan 189 penumpang dan awak.

Apa kata pengamat penerbangan?

Pengamat penerbangan, Ruth Hana Simatupang menilai pilot ketiga ini memiliki pengalaman yang cukup baik dengan pesawat jenis Boeing B 737 Max 8.

“Dia pasti sudah pernah mengalami, mendapat kesulitan karena nose-nya selalu down. Karena maunya nunduk saja. Itu saya duga dia sudah pelajari angle of attack-nya,” katanya saat dihubungi BBC, Kamis (21/03).

Sensor AoA JT043 sempat diganti di Denpasar tapi tetap bermasalah saat di udara, seperti dilaporkan sejumlah media. Karena pilot ketiga ini, pesawat yang semula bermasalah akhirnya bisa mendarat di Jakarta, kata Ruth Hana.

Menurut Ruth Hana, persoalan utamanya adalah cacat pabrik dari perusahaan Boeing khusus jenis B737 Max 8.

“Itu kalau angle of attack-nya mati, kemudian ini karena alat baru softwarenya, itu belum dikasih pengetahuan kepada pilotnya Lion. Dan saya yakin, pilotnya Ethiopian Airlines juga tidak mendapatkan pengetahuan tentang itu terlebih dahulu,” lanjutnya.

Hak atas foto
BBC News Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *