Tiga nilai yang membentuk Singapura


Hak atas foto
AFP/Getty Images

Image caption

Situasi Pecinan di Singapura.

Perayaan 50 tahun kemerdekaan sudah digelar pada 2015 lalu. Namun, bagi warga Singapura, ada peringatan selanjutnya yang tak kalah meriah, yaitu peringatan 200 tahun kedatangan Sir Stamford Raffles.

Di tangan pria yang pernah menguasai Pulau Jawa tersebut, Singapura ditetapkan menjadi pos perdagangan British East India Company.

Tidak seperti perayaan 50 tahun kemerdekaan, peringatan kolonialisme Inggris di Singapura menjadi polemik di antara rakyat Singapura. Bahkan, sejumlah warga merasa 200 tahun kedatangan Raffles tidak perlu diperingati.

Namun, kantor peringatan 200 tahun alias Bicentennial Office mengatakan acara tersebut sengaja digelar untuk memberikan kesempatan kepada warga untuk menatap masa lalu sekaligus becermin pada nilai-nilai yang turut membentuk negara Singapura.

Nilai-nilai itu—keterbukaan, multikulturalisme, dan menentukan nasib sendiri, sebagaimana dikemukakan Bicentennial Office—adalah hal-hal yang dicintai warga.

“Singapura adalah negara dengan identitasnya sendiri. Keberagaman etnis dan agama melebur tanpa celah dalam interaksi sosial, dalam makanan, dan penanda kawasan,” kata LG Han, koki sekaligus pendiri restoran Labyrinth yang diganjar bintang Michelin.

“Walau berbeda-beda, warga Singapura berbagi kesamaan dan ciri khas dari cara kami berbicara, nilai-nilai yang kami bagikan, dan menerima orang-orang dari berbagai latar belakang.”

Hak atas foto
AFP/Getty Images

Image caption

Peringatan 50 tahun kemerdekaan Singapura.

Meski beragam budaya, Singapura tetap terlibat dalam diskusi soal seksualitas.

Negara itu masih mengakui aturan warisan era kolonial Inggris yang melarang hubungan seks kaum gay, walau beberapa kali digugat di pengadilan. Persidangan terkini bergulir pada 2019 setelah India menghapuskan aturan serupa dari era kolonial, menurut harian New York Times.

Hubungan pasangan sesama jenis tidak diakui secara hukum di Singapura. Pasangan sesama jenis pun tidak dapat mengadopsi seorang anak secara sah.

Bagaimanapun, para pegiat terus berupaya membangkitkan kesadaran dan perubahan dalam acara-acara seperti pawai Pink Dot—dinamai demikian karena pencampuran warna merah dan putih pada bendera Singapura dan dorongan ke arah inklusivitas bagi semua kalangan.

Mengapa khalayak mencintainya?

Pencampuran budaya di Singapura membuat pendatang baru, khususnya orang Barat, dapat beradaptasi dengan mudah.

“Tempat ini adalah gerbang yang bagus ke Asia, baik sebagai tempat fantastis menuju lokasi perjalanan seperti Bali da Boracay, maupun secara budaya,” kata Alexandra Feig, orang Amerika yang bermukim di Singapura selama tiga tahun dan menulis blos perjalanan bertajuk A Maiden Voyager.

“Singapura punya keterikatan mendalam pada Barat, khususnya pengaruh Inggris yang kental. Berjalan ke sekitar kota, Anda akan melihat kuil umat Buddha di sebelah toko ala Inggris. Kemudian di pusta jajanan, Anda akan melihat lapak nasi ayam (Hainan) di sebelah tukang nasi goreng, dan kuliner Barat seperti Hamburger,” lanjutnya.

Hak atas foto
AFP/Getty Images

Image caption

Di tangan Sir Stamford Raffles, Singapura ditetapkan menjadi pos perdagangan British East India Company.

Tapi jangan sepelekan pusat jajanan di Singapura, kata Jordan Bishop mewanti-wanti.

Pria asal Kanada yang bermukim paruh waktu di Singapura dan editor How I Travel itu menegaskan: “Dua lapak makanan Singapura kini punya bintang Michelin.”

Dua lapak itu adalah Liao Fan Hong Kong Soya Sauce Chicken Rice and Noodle dan Hill Street Tai Hwa Pork Noodle.

Dengan beragam restoran dan bar baru, Singapura tidak pernah kekurangan jenis kuliner yang mencerminkan perannya sebagai pusat perdagangan maritim. Sebut saja kuliner Cina, Melayu, India, Peranakan, Jerman, Italia, Jepang, Vietnam, Prancis , dan Amerika.

Multi budaya tak hanya berada pada ranah kuliner. Warga lokal berbicara bahasa yang mencerminkan perpaduan budaya.

Meski tidak diakui secara resmi oleh pemerintah (yang baru-baru ini justru menyarankan agar bahasa ini tidak lagi digunakan), Singlish—bahasa campuran Inggris, Mandarin, Hokkian, Kanton, Melayu, dan Tamil, umum dipakai dalam situasi santai.

Hak atas foto
AFP/Getty Images

Image caption

Chan Hon Meng sedang memotong ayam di lapak miliknya, Hong Kong Soya Sauce Chicken Rice and Noodle. Lapak itu adalah satu dari dua lapak di Singapura yang mendapat bintang Michelin.

Seperti apa hidup di Singapura?

Tidak seperti kota-kota lain di dunia, warga Singapura jarang khawatir dengan pencurian atau kekerasan.

Sebagai satu dari negara dengan tingkat kejahatan terendah di dunia, kejahatan jalanan dipandang sebagai “buang waktu”, kata Bino Chua, yang telah bermukim di Singapura selama 11 tahun dan penulis blog I Wander.

“Anda bisa meninggalkan mobil tanpa dikunci, meninggalkan dompet tanpa dijaga,” kata Alison Ozawa Sanders, warga Amerika yang telah menetap di Singapura selama lima tahun dan penulis The Expats’ Guide to Singapore.

“Sebagai seorang perempuan, saya dapat pergi malam hari ke kawasan manapun dan tidak perlu khawatir terhadap keselamatan pribadi. Sebagai orang tua, saya tidak punya perasaan bahwa jika perhatian saya ke anak teralihkan selama dua detik mereka akan diculik.”

Singapura juga sangat bersih dan nyaman untuk dikunjungi. Kemacetan sangat jarang, sebagian karena aturan pelarangan mobil dan tingginya harga kendaraan.

“Beberapa orang berkata terlalu steril dan membosankan. Namun, secara pribadi, saya menilai itu hanyalah produk keselamatan dan kenyamanan di sini. Saya lebih memilih seperti ini ketimbang harus khawatir setiap hari bahwa saya mungkin dirampok.”

Di pusat kota ada kesan bahwa khalayak berfokus pada karier dan mereka bergerak dengan langkah cepat. Namun, mudah untuk meloloskan diri dari keruwetan.

“Dari apartemen, saya bisa berjalan sekitar 25 menit dan berada di hutan lebat. Tempat yang bagus untuk melihat burung-burung,” kata Daniel Burnham, warga Amerika yang ahli mencari penerbangan murah di Scott’s Cheap Flights.

“Singapura punya taman nasional yang indah dan aneka satwa yang banyak, dari segi ukuran dan kepadatannya.”

Karena pulau Singapura relatif kecil, penduduknya merekomendasikan untuk memanfaatkan Bandara Changi dan penerbangan murah.

“Kapanpun saya merasa jenuh, mudah untuk naik pesawat dan pergi ke luar kota,” kata Burnham.

Hak atas foto
AFP/Getty Images

Image caption

Taman Botani di Singapura menjadi tempat untuk melepas penat.

Apalagi yang mesti diketahui?

Terletak satu derajat ke arah utara khatulistiwa, Singapura mengalami cuaca panas sepanjang tahun dan bagi para ekspatriat, kondisi ini perlu adaptasi.

“Harus terbiasa berkeringat sepanjang waktu. Rambut Anda tidak akan pernah sama seperti di ‘kampung halaman’,” kata Ozawa Sanders.

Suhu AC yang sangat dingin di dalam ruangan adalah ‘kejahatan yang diperlukan’, timal Burnham.

Dari segi biaya hidup, Singapura terkenal sebagai tempat paling mahal di dunia, menurut laporan Economist Intelligence Unit.

Untuk menyewa apartemen berukuran studio yang jauh dari pusat kota, harganya bisa mencapai S$1,885 (Rp19,7 juta), menurut situs Expatistan.com.

Adapun harga mobil baru dimulai dari S$100,000 (Rp1 miliar).

Akan tetapi, warga Singapura berpendapat angka-angka itu tidak selalu mencerminkan kenyataan.

“Banyak pelancong dan ekspatriat cenderung berpikir hidup di Singapura seperti film Crazy Rich Asians atau ekspariat kaya dengan paket relokasi,” kata Burnham.

“Biaya hidup di Singapura tidak mesti meroket jika Anda hidup seperti warga setempat. Kami memuat pilihan anggaran yang masuk akal, seperti menempati flat HDB (perumahan rakyat), memasak sendiri, menggunakan transportasi publik.

“Pengeluaran kami jauh di bawah pengeluaran seperti hidup di Amerika Serikat,” paparnya.

Lagipula, pajak di Singapura termasuk taraf pajak terendah di dunia, sekitar 22%.

Secara keseluruhan, Singapura menjadi tempat yang baik ketika warganya berupaya ekstra untuk keluar dari pusat kota yang homogen, tempat mal dan apartemen serupa berderet berkilometer-kilometer jauhnya.

“Ada banyak keragaman urban jika Anda mencarinya. Tersembunyi di antara pembangunan era abad ke-21 , di pinggiran Singapura terbentang lahan pertanian, permakaman tak terurus, desa-desa nelayan, dan pos-pos perdagangan kolonial,” tandas Burnham.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *